Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 90 : Naga Putih


__ADS_3

Aku berdiri di pekarangan saat Richard muncul dari belakangku. Hari sudah gelap jadi hanya cahaya rembulan saja yang menjadi penerangan kami.


Aku berbalik menatap Richard yang hanya bisa mendesah pelan.


"Sudah ketahuan yah."


"Kemampuan penyembuhanmu terlihat tidak normal sejak awal."


"Aku abadi."


Kedua mata Richard berubah menjadi merah kemudian mulutnya merobek sampai telinga yang mana menampilkan rentetan gigi berjeruji, ia mengangkat tangannya kemudian berubah menjadi cakar raksasa.


"Aku telah berubah menjadi naga sejak kecil."


"Apa kau naga sebelumnya yang menghancurkan kota Antares?"


"Benar."


"Ada kalanya dia tidak bisa mengendalikan darah naganya aku sempat membunuhnya beberapa kali tapi dia masih saja hidup," suara itu datang dari Vivia yang entah sejak kapan telah berdiri selagi bersandar di dinding.


"Aku ingin merahasiakan ini dari pihak kerajaan, paling tidak sampai nama keluargaku kembali sedia kala, semua ini demi adikku... sampai saat itu bisakah kau merahasiakan ini."


Ini pertama kalinya aku tahu bahwa dia memiliki seorang adik.


"Kau salah paham satu hal Richard, kau adalah temanku, aku akan berusaha membantumu untuk menyelesaikannya seperti yang kau lakukan sekarang."


"Aksa."

__ADS_1


Aku berjalan mendekat ke arahnya lalu mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan.


"Kalau perlu bantuan jangan sungkan untuk memintanya."


"Terima kasih."


"Pertemanan di antara pria terlihat menjijikkan," kata Vivia berjalan pergi tepat melangkah di depan Sirius.


"Menurutmu begitu?"


"Begitulah."


***


Di luar kediaman masion yang megah itu tampak kedua anak kecil menangis. Sang kakak adalah Richard yang masih kecil sedangkan satu lagi adiknya bernama Ruri.


"Jangan khawatir Ruri, kita akan menemukan jalan... untuk sekarang mari tinggalkan kota ini."


Richard kecil menggenggam tangan adiknya kemudian berjalan pergi menuju sebuah desa terpencil bersama seorang pedagang keliling.


"Kalian ini masih kecil, kenapa kalian pergi ke tempat seperti itu?" tanya si pedagang.


"Kami ingin tinggal bersama nenek kami di desa."


"Begitukah, tenang saja aku akan mengantar kalian sampai ke sana."


Setelah kereta baru menempuh setengah perjalanan tiba-tiba saja kereta yang ditumpangi mereka meledak dahsyat, syukurlah Richard dan Ruri berhasil selamat akan tetapi si pedagang telah terbakar hidup-hidup.

__ADS_1


"Ruri bangunlah," selagi melindungi adiknya yang tak sadarkan diri sesosok naga putih berdiri di depan keduanya, matanya yang besar serta tubuhnya yang diselimuti sisik setebal besi memberikan nuansa ketakutan intens di tubuh Richard.


"Aku sangat membenci manusia, matilah."


Richard mengatupkan giginya lalu berkata.


"Mari buat kesepakatan," mendengar itu naga tersebut menarik kakinya kembali.


"Kesepakatan? Haha Apa yang kau inginkan dari naga sepertiku?"


"Kudengar kalian masih bermusuhan dengan para iblis."


"Tidak hanya iblis kami juga bermusuhan dengan manusia," tegas si naga selagi menunjukan mata mengintimidasi.


"Tolong biarkan kami berdua hidup dan kau juga tidak boleh menghancurkan wilayah ini, sebagai gantinya aku akan membantu kalian membunuh para iblis."


"Bagaimana dengan manusia?"


"Aku tidak bisa membunuh mereka."


Naga itu tertawa sebelum berubah wujud menjadi sosok wanita dengan rambut putih yang menjuntai sampai pinggul, ia mengenakan gaun putih yang sedikit transparan.


"Namaku adalah Cardina Polna salah satu naga kehancuran.. kau bocah yang menarik, baiklah aku akan menerima kesepakatanmu itu, aku akan membiarkanmu dan orang di belakangmu hidup, aku juga tidak akan menghancurkan wilayah di sini, tentu saja aku juga tidak akan membiarkan naga lain melakukannya juga, tapi sebagai gantinya kau harus ikut bersamaku dan membunuh para iblis seperti apa yang kau katakan."


Richard melirik ke arah adiknya sebelum melirik lagi ke arah Cardina lalu mengangguk sekali.


"Ini demi semua orang," ucap Richard dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2