
"Bagaimana Aksa, mereka sepertinya saling membenci."
"Biarkan saja, kupikir mereka tidak akan melakukan hal bodoh hingga bertarung di tempat ramai seperti ini," balasku pada Naula sebelum berjalan pergi meninggalkan keduanya.
Kami tiba di mansion milik Ruri dimana yang berdiri menyambut kami adalah jajaran pelayan yang dipimpin oleh Pamela, di rumah ini ada sekitar 100 lebih pelayan wanita yang terlatih dalam membunuh jika mereka merasakan ancaman sudah dipastikan orang itu akan mati.
"Silahkan ikuti aku, nyonya Ruri telah menunggu di dalam."
"Aah."
Aku berjalan paling depan mengikuti Pamela sementara yang lainnya tampak mengganggu para pelayan yang berbaris.
"Di rumah ini banyak pelayan wanita, apa mungkin mereka terlibat cinta lokasi dan saat majikannya tidak melihat mereka melakukan hal terlarang."
Itu fantasy yang liar.
"Aku juga memikirkan hal sama bagaimana menurutmu Malifana."
"Jangan lakukan itu tanpa cinta."
"Gadis polos."
Aku berkata ke arah Pamela yang berjalan dengan elegan.
"Maaf untuk tingkah laku mereka."
"Jangan khawatir apa yang dikatakan mereka tidak salah sama sekali, tapi aku masih normal jadi jangan menatapku seperti itu."
__ADS_1
"Begitu," kataku datar sebelum akhirnya kami berjalan ke lorong hingga sampai di sebuah pintu megah.
"Silahkan."
Sebelum aku memegang gagang pintunya Ruri telah muncul memelukku.
"Onii-chan."
Satu lagi orang yang memanggilku begitu, aku tidak keberatan asal dia tidak dengan sengaja meletakan dadanya di wajahku.
"Ugh.. aku tidak bisa bernafas."
"Onii-chan mengatakan sesuatu."
"Mungkin kata Aksa tolong tekan lagi lebih keras."
Perkataan Liz sama sekali tidak membantu, bagaimanapun caranya kami akhirnya bisa duduk dengan normal, Pamela meletakan cangkir teh yang diseduhnya dimana aku bisa mencium aromanya yang jauh lebih enak saat dituangkan.
"Apa ini?"
"Cobalah untuk menyeduhnya kurasa dua sendok untuk satu cangkir sudah cukup, dan beri gula terpisah untuk setiap cangkir."
"Aku mengerti."
Ruri tampak menarik minat dengan apa yang kuberikan pada Pamela, meskipun aku harap dia bisa duduk di sebelahku dibanding di pangkuanku.
"Apa itu Onii-chan?"
__ADS_1
"Kopi, rasanya sedikit pahit jika tidak meminumnya dengan gula."
"Aku ingin mencobanya."
"Nah Ruri bukankah kau jadi semakin manja di usiamu yang sekarang."
"Aku masih muda masih wajar jika begini."
Anggota partyku tampak memucat, yah... aku juga tidak bisa berkata apa-apa lagi sampai akhirnya saat dia puas dia duduk di depanku layaknya seorang tuan rumah sesungguhnya. Dia mengambil cangkir berisi kopi dan dalam waktu singkat ia mulai terlihat mual.
"Rasanya pahit."
Baru saat Ruri menambahkan gula ke dalamnya dia bisa tersenyum kecil.
"Ini baru lumayan, jadi apa yang membuat Onii-chan datang kemari tanpa pemberitahuan, kalau saja aku tahu aku akan membuat sebuah perayaan hebat sebagai sambutan."
"Itu terlalu berlebihan, namun aku berterima kasih... singkatnya kami datang kemari karena sesuatu yang buruk akan terjadi pada kota ini dalam waktu tiga hari ke depan."
"Sesuatu yang buruk?"
"Kura-kura raksasa akan muncul untuk menghancurkan tempat ini."
"Itu sangat berbahaya, apa aku harus menempatkan seluruh kesatria di pinggir pantai."
Aku menggelengkan kepalaku lalu melanjutkan.
"Biar kami saja yang akan melindungi kotanya dan pastikan semua orang tetap berada di garis belakang."
__ADS_1
"Aku mengerti, dengan itu Onii-chan akan tinggal di sini beberapa hari jadi silahkan gunakan semua kamar yang kosong di sini."
Bahkan dengan pelayan yang sangat banyak masih ada kamar kosong untuk kami. Dia benar-benar seorang bangsawan tingkat atas.