
Noela yang ini hanyalah wadah kosong terutama ada perbedaan signifikan darinya.
Rambut Noela yang ini tidak berbentuk Spiral.
Vermilion dan Serena menatapku sangat tajam.
"Kau tidak berniat menodai mayat bukan?"
"Kalian berdua menganggapku seperti apa? Rasanya harga diriku jatuh."
Mavis hanya bisa tertawa.
"Salahmu Aksa, harusnya cobalah untuk menyentuh wanita di dekatmu sesekali, tunggu mungkin sebenarnya kau belum dewasa."
"Berisik, aku bisa membuat bayi jika aku mau."
"Aku tidak percaya."
Aku menghela nafas panjang.
Sebenarnya bukan aku yang menginginkan hidup dikelilingi wanita, hanya saja dunia ini yang mengurungku dalam hal seperti ini.
Aku tidak masalah jika punya beberapa teman pria, sayangnya pria di kotaku menatapku dengan pandangan membunuh.
Bukan berarti aku tidak normal hanya saja ada kalanya percakapan pria dan wanita itu berbeda.
Aku segera menjelaskan.
"Di rumahku ada roh bernama Noela, walau dia seperti itu dia belumlah mati lebih tepatnya tubuhnya tersegel di sini dan aku ingin menyelematkannya."
"Aku bisa mengerti hal itu sekarang, tapi aneh tubuh yang tersegel ini tidak membusuk."
__ADS_1
"Ia sepertinya menyerap energi dari labirin ini dan membuatnya menjadi sosok abadi."
Yang dikatakan Vermilion pada Serena memanglah benar, suatu hari sebuah ekspedisi dilakukan di labirin ini melibatkan beberapa bangsawan ternama di kerajaan ini termasuk Noela.
Mereka menyewa banyak petualang untuk bisa mencapai lantai terakhir sayangnya hal itu membutuhkan sebuah pengorbanan, ketika mereka kebingungan karena tidak menemukan harta apapun sebuah rantai menjerat mereka namun diantara semuanya hanya Noela yang bisa menyelamatkan dirinya.
Saat dia hendak keluar tiba-tiba rantai lain muncul dan mengikatnya seperti sekarang, jiwanya terlepas namun tubuhnya menjadi pondasi labirin ini.
Banyak misteri dalam pembentukan labirin ini yang sulit diungkapkan.
Vermilion dan Serena mencoba merusak rantai namun itu tidak berguna, lagipula jika rantai ini hancur ada kemungkinan kami juga akan bernasib sama.
Labirin ini hanyalah sebuah jebakan.
Mungkin aku harus melakukan sesuatu untuk mencari jalan keluarnya. Ponsel milikku jatuh dari langit dan mendarat di tanganku.
Aneh ada sosok di dalam sana.
"Halo tuan apa ada yang bisa kubantu?"
"Siapa kau?"
"Apanya yang siapa? Bukannya tuan yang menciptakan aku, aku terluka hiks hiks."
Biar kuingat lagi.
"Ah benar, kau sistem dunia yang kubuat tapi karena aku memindahkanmu ke ponsel kau jadi seperti ini."
"Aku hanya mengambil pencarian dan menemukan wujud ini, lihat aku bahenol."
Aku baru tahu jika hal ini bisa terjadi.
__ADS_1
Dia bisa dikategorikan mirip seperti kecerdasan buatan yang kuciptakan secara tidak sengaja untuk sekarang aku tidak ingin menanyakan hal lain dari tujuanku.
"Apa kau punya nama?"
"Tidak."
"Kalau begitu namamu Mai."
"Nama yang bagus, aku menyukainya tuan."
Ketiga orang bersamaku juga sepertinya kelihatan kebingungan
"Jangan khawatir, benda ini telah menyerap banyak pengetahuan dari berbagai buku aku yakin bisa membantu."
Mai mengembungkan pipinya.
"Benda itu, sedikit kasar... aku lebih suka dipanggil dengan namaku."
"Yah, aku minta maaf... tolong carikan identitas dari rantai ini."
"Laksanakan."
Mai berubah kostum menjadi mode pegawai perpustakaan lalu memilih-milah buku kecil yang muncul di depannya.
Dia mirip karekter anime imut.
"Kenapa dia memakai kacamata?" bisik Serena bingung.
"Yah kau tahu, orang yang memakai kacamata terlihat jenius."
"Memangnya bisa begitu."
__ADS_1
"Hanya mitos."
Aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan penampilan Mai, asal dia memakai pakaian itu sudah cukup.