Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 46 : Kota Terdekat


__ADS_3

Setelah perjalanan yang panjang aku sampai di sebuah kota yang seluruhnya dilindungi oleh tembok tinggi, di depan gerbangnya seorang penjaga mulai menanyaiku banyak hal.


Salah satunya benda yang kukendarai ini.


Aku hanya mengatakan ini merupakan benda sihir yang kuciptakan untuk berpergian jauh dan mereka mengangguk mengerti.


Setiap akan masuk ke dalam kota mereka akan dikenakan tarif masuk sesuai aturan mereka buat, hal ini dibuat hanya untuk para pelancong, pengembara atau turis.


Bagi yang akan menatap aturannya lebih panjang lagi.


"Berapa hari kau akan tinggal?"


"Cuma dua sampai lima hari."


"Begitu, walau kota kami kecil semoga kau bersenang-senang di sini."


"Terima kasih."


Aku memberikan sejumlah uang tembaga kemudian masuk ke dalam, jika harus dikatakan aku tidak tahu mana yang disebut kecil itu.


Semuanya tampak luas bagiku, kalau diibaratkan itu sama seperti dua kota Antares yang disatukan menjadi satu bagian. Kini aku penasaran seberapa besar kota lainnya jika mereka mengatakan bahwa kota ini paling kecil di negara ini.


Sedikit informasi, aku berada di negara bernama negara kesatuan Amandemen, berbeda dengan negara monarki mereka menggunakan sistem presidensial yang mana negara dipimpin oleh presiden yang dipilih oleh rakyat dan memiliki jabatan selama 12 tahun sebelum presiden lain dilantik kembali melewati pemilihan.


Bahkan di dunia lain pemerintahan dari suatu negara dibagi-bagi beberapa jenis.

__ADS_1


Dulu tempat ini ada dua kerajaan yang mana salah satunya merupakan tempat tinggal Meliana sebelum pergi ke benua Lemuria.


Jika harus dikatakan ceritanya akan sangat panjang karena itu mari lewati dan cari penginapan yang nyaman. Penginapan di sini juga terbagi-bagi menjadi beberapa bagian.


Untuk dewasa, anak-anak, orang tua.


Memangnya apaan ini? Selain anak-anak dan orang tua, kata dewasa sangat mencurigakan, harus ada seseorang yang menyelidiki tempat seperti apa itu.


Dan peran itu jatuh padaku.


"Selamat datang di penginapan kami, apa yang bisa kami bantu? Guakh."


Si receptionis terkejut saat aku masuk bersama motorku yang kutuntun dengan tangan.


"Ba-baik, ngomong-ngomong tuan, benda apa itu?"


"Oh, ini hanya tungganganku hasil buatanku sendiri.. dengan ini aku bisa berpergian jauh kemanapun aku suka."


"Begitu, apa tidak sebaiknya ditaruh di kadang saja."


"Tidak, tidak, aku takut ada seseorang mencurinya."


"Begitu... ini kunci tuan."


Sulit untuk menaikkan motor ke lantai dua jadi aku menerima kamar di lantai paling bawah.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong aku boleh bertanya satu hal?"


"Tentu, apapun untuk tuan."


"Apa perbedaan penginapan anak-anak, orang tua dan dewasa."


"Itu hanya berbeda fasilitas yang diberikan penginapan... anak-anak dan orang tua sama saja kalau dewasa kami menyediakan gadis panggilan, hanya menunggu lima menit, di kamar anda pasti akan ada satu yang cukup menggoda, apa tuan mau memesan?"


Negara ini berbahaya.


"Tuan bisa memesanku juga."


Kuharap ada yang seseorang meledakan kota ini. Tentu saja itu bukan aku.


Ketika aku menunjukan ekpresi heran si receptionis tertawa.


"Cuma bercanda, tidak ada hal seperti itu di negara ini... kami menyediakan fasilitas berbeda untuk kenyamanan para pendatang, untuk anak-anak, di sana menyediakan pengasuh jikalau orang tua mereka ingin berpergian tanpa harus khawatir anaknya hilang. Sementara dua lagi, biasanya para pemuda jarang menunjukkan sikap sopan satun terhadap orang tua dan itu membuat tidak nyaman karena itu dewasa dan orang tua dipisah. Ada yang ingin ditanyakan lagi?"


"Kurasa tidak ada," aku segera memutuskan pergi ke kamarku, sebelum itu.


"Berapa ukuran dadamu?"


"G cup."


Sudah kuduga, ukurannya hampir menyamai Dewi Nermala.

__ADS_1


__ADS_2