
Sudah sejak lama aku tidak berpetualang seperti ini, di depanku sekitar tiga monster berbentuk bunga telah menjerat anggota partyku.
Sihir es milik Liz dihancurkan dengan mudah, kekuatan Naula tidak berkutik dan Malifana telah dimakan.
Aku bisa melihat kakinya di ujung mulut tersebut.
"Tidak, aku tidak mau di makan.."
"Aksa, selamatkan kami."
Aku bisa mendengar suara Malifana juga kurasa dia juga mengatakan sesuatu. Dengan sihir api tingkat rendah aku menembakan [Fire Bolt] untuk membakar bagian monster tanpa melukai anggota partyku hingga dengan ini mereka terbebas.
Liz maupun Naula keduanya berusaha mengeluarkan Malifana dari sana.
"Aku dilumuri cairan aneh."
Di dunia fantasi seperti ini dimana gadis berumuran lendir sudah tidak aneh lagi, paling tidak dia tidak dimakan katak atau kadal.
Beberapa hari sebelumnya kami juga melawan mereka dengan hasil memuaskan. Karena quest tingkat tinggi banyak diselesaikan hanya ini yang tersisa untuk kami lakukan.
Meski begitu kami mendapatkan uang yang setara dengan tingkat atas, itu dikarenakan daerah pemburuan monster telah kekurangan para petualang.
Dengan kekalahan fraksi naga kehancuran maka yang tersisa hanyalah pasukan raja iblis, mereka menggunakan kesempatan ini untuk memperluas invasi mereka sehingga kota-kota besar di setiap kerajaan mulai menarik para petualang untuk tinggal di sana dengan bayaran cukup menjanjikan.
Termasuk di kerajaan ini juga.
Karena Antares hanya kota biasa dengan masyarakatnya yang sederhana, tidak ada apapun yang bisa membuat raja iblis menyerang kemari.
Bahkan sampai sekarang aku juga belum tahu siapa bangsawan Feodal yang memiliki hak atas kota Antares.
"Kita sudah mengalahkan mereka semua, sekarang apa yang akan kita lakukan lagi?" tanya Liz bersemangat.
Naula menjatuhkan dirinya lemas.
__ADS_1
"Mari sudahi untuk hari ini, tubuhku sakit semua."
Dia baru dilempar-lempar oleh monster jadi itu terasa kurang nyaman di tubuh. Untuk Malifana ini adalah petualangan terakhirnya di sini.
Esok hari dia akan pergi ke kerajaan Animalia dan kami juga akan pergi ke sana menemaninya dalam perjalanan.
Ada beberapa orang yang ingin aku temui.
Aku menyetujui masukan dari Naula, hingga hari itu lebih banyak waktu yang kami habiskan di guild sebelum pulang untuk beristirahat.
Pada jam 6 tepat aku menemukan diriku berada di alam dewi, ini bukanlah mimpi seperti sebelumnya melainkan aku benar-benar datang kemari.
Aku meminta agar bisa datang kemari hanya untuk bertemu Dewi Nermala, tapi sekarang malah menyebar ke dewi lainnya.
Dan sekarang aku berada dikediaman Dewi Aphrodite yang sejujurnya telah beberapa kali melatihku juga bersama Dewi Athena maupun dewi lainnya.
Aphrodite memiliki tingkat seksual lebih dari dewi lainnya, aku menyarankan jangan terlalu berada lama di sini.
Hal seperti ini sudah kuduga.
"Kau akhirnya datang juga Aksa, aku sangat kesepian?"
"Kesepian adalah perkataan yang tidak boleh keluar dari mulut seorang dewi loh."
"Sudah kukatakan perlakuan aku seperti gadis pada umumnya."
Dia lebih ceria dari Dewi Nermala dan untuk penampilannya juga tidak jauh berbeda.
Ia mengenakan gaun putih berenda dengan bagian bahu dan setengah dadanya terbuka, rambutnya yang berwarna biru gelap dibiarkan terurai begitu saja dengan ornamen pita menghiasinya.
"Ngomong-ngomong sampai kapan kau terus menindihku?"
"Tentu saja sampai aku puas."
__ADS_1
Karena inilah aku tidak ingin datang kemari.
Aku berusaha keluar dari penderita sayangnya Aphrodite tidak melepaskanku, dia terus memelukku selagi menggumamkan hal tidak perlu.
"Hari ini belajar apa? Sesuatu yang menyenangkan?"
"Seperti biasa saja, tolong ajarkan aku hal yang bisa berguna dalam pertarungan."
"Memang sampai kapan kau ingin bertarung, sesekali lakukan hal berbeda."
"Tolong berhenti menciumku."
"Owh benar, aku belum mengajarimu sihir pesona bagaimana dengan itu."
"Kurasa itu lebih baik."
Aphrodite terkenal dengan kecantikannya, di alam dewi sendiri tidak ada yang menandinginya walaupun dewi pada umumnya memang cantik, sayangnya karena terlalu cantik para dewa yang mendekatinya berubah jadi gila bahkan para dewi pun selain dewi utama berusaha untuk menghindarinya agar tidak bernasib sama.
Karena itulah kediaman dewi Aphrodite paling jauh di antara yang lainnya dan ia jarang bergaul dengan siapapun.
Walau dia memperlakukanku seperti barusan, dia dewi perawan jadi tidak perlu dikhawatirkan.
Tidak.
Mungkin aku harus khawatir untuk itu.
Hal yang bisa kulakukan hanyalah.
"Kosongkan pikiranku, kosongkan pikiranku."
Tidak berhasil.
Aphrodite hanya tersenyum nakal.
__ADS_1