
Di ruangan itu aku berbagi teh bersama Vivia, aku tidak tahu sejak kapan aku menjadi akrab dengannya meski begitu aku tidak keberatan.
Setelah mengatakan banyak hal padanya ekpresinya sedikit mengeras seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan barusan.
Aku sekali lagi menjelaskannya.
"Setelah membantu mengalahkan para goblin aku akan memulai perjalananku mencari tujuh buku dosa mematikan."
"Apa kau tahu apa yang sedang kau katakan itu? Jika kau mengumpulkan semua buku lalu menggunakannya seketika kau menjadi musuh seluruh ras, bahkan Dewi sendiri."
"Aku sudah tahu resiko yang akan kuambil nanti, tapi hanya cara inilah yang bisa kulakukan demi menyelamatkan guru, lagipula lambat laun aku juga pasti akan berhadapan dengan Dewi Naga Freya."
"Kau benar-benar nekat, kau mencintai Heliet hingga sampai melakukan itu."
"Yah, kurasa mungkin aku merasakan itu."
"Aku tidak peduli seberapa banyak wanita yang akan kau nikahi di masa depan nanti, tapi jika kau membuatnya menangis akan kubunuh kau."
Aku tersenyum masam lalu melanjutkan.
"Aku tidak berniat berkeluarga secepat itu, aku hanya ingin menjalani kehidupan santaiku secara perlahan."
Vivia mendesah pelan.
"Ini pertama kalinya aku mendengar seorang yang tidak abadi mengatakan hal itu, biasanya mereka akan mengatakan ingin berkembang biak sebanyak yang mereka bisa."
"Kau, bisakah kau tidak merendahkan umat manusia?"
Vivia hanya menyeringai senang lalu melanjutkan.
"Dunia penyihir tidaklah seindah yang semua orang bayangkan, bahkan sekarang hal itu tidak berubah.... saat kau di luar nanti kau akan tahu maksudku."
__ADS_1
Saat Vivia hendak pergi aku memanggilnya.
"Ketika aku kehilangan kendali tolong bunuh aku."
"Tentu, aku akan memenggal kepalamu jika itu terjadi."
Aku hanya melihat kepergian Vivia sampai sosoknya menghilang seutuhnya.
Dua Minggu selanjutnya aku bersama ketiga gadis itu mulai masuk ke wilayah goblin biasa, di sana mereka semua dengan mudah mengalahkan goblin dengan jumlah yang sangat banyak.
Sementara aku hanya mengawasi ketiganya dari belakang selagi mengangguk puas.
Sebuah panah dilesatkan dari busur Lauren yang mana menancap baik di kening goblin hingga tumbang, adapun Lucia dan Claudine melakukan apa yang menjadi keahlian mereka.
Claudine awalnya hanya bisa menggunakan sihir penyembuh akan tetapi dia juga pandai menggunakan sihir serangan cahaya serangan.
Ketiga menunjukkan kemajuan yang baik, di saat mereka menghabisi sisanya seekor Hobglobin muncul, terkadang mereka juga keluar dari wilayahnya ke wilayah goblin biasa.
"Lauren mundurlah, aku akan membuat celah dan kau selesaikan sisanya."
"Aku mengerti."
Lucia kini sudah tidak ragu lagi membuat keputusan. Hobgoblin mengayunkan kapak besarnya yang mana berbenturan langsung dengan pedang besar Lucia.
Di saat yang sama Lauren telah bersiap melesatkan panahnya, beberapa goblin muncul dari arah belakangnya, dengan tenang dia menjatuhkan busurnya lalu menggantinya dengan pedang untuk menghabisi semuanya sebelum kembali pada busur yang dia jatuhkan.
"Lucia."
Ketika Lucia menghindar sebuah panah menembus tubuh Hobgoblin yang bertujuan melumpuhkannya, di saat yang sama Claudine melompat untuk menjepit kepala Hobgoblin dengan kedua pahanya lalu menyayat lehernya dengan pisau di tangannya hingga Hobgoblin itu rubuh tak bernyawa.
Aku akan merindukan sisi Claudine yang lembut.
__ADS_1
"Kita berhasil."
Ketiganya berdiri di depanku dengan perasaan senang walaupun seluruh pakaian mereka terselimuti darah.
Ketiganya membungkukkan kepala mereka padaku dan berkata, "Terima kasih," di waktu bersamaan.
"Bukan masalah, kalian sekarang bisa pergi dan menjadi petualang hebat," kataku demikian.
"Soal itu guru?"
Aku memiringkan kepalaku heran.
"Tolong izinkan kami terus berada di sisimu."
"Eh? Kalian tidak memendam rasa suka atau cinta padaku kan."
"Tentu saja tidak, kami bertiga menghormatimu sebagai guru kami," kata Lucia dan keduanya mengangguk mengiyakan.
Seharusnya hubungan murid dan guru itu seperti ini.
"Sejujurnya kami berharap bisa tinggal di kota ini selamanya sebagai petualang, tentu saja kami juga akan pulang sesekali ke rumah kami di kerajaan Animalia."
"Kalau kalian sudah memutuskan itu, aku tidak keberatan sih.. kalian bisa tinggal di masion selama yang kalian mau, lagipula masion memang terlalu luas untuk kami."
"Terima kasih banyak, kami juga akan bergiliran memasak, membersihkan dan mencuci."
"Sudah jelaskan."
Kami berempat tertawa bersama.
Rasanya enggan untuk meninggalkan mereka, meski begitu aku sudah memutuskannya, semua ini demi menyelamatkan guruku.
__ADS_1