
Di dalam sebuah penjara yang hanya diterangi dari api obor, sosok pria berjalan menuju sebuah sel yang jauh diletakkan di sudut yang merupakan tempat di mana raja dan ratu ditahan.
Pria itu berdiri di depan mereka selagi tersenyum atau mungkin hanya ekpresi itu yang dia miliki.
Ia mengenakan jubah hitam polos sementara anting panjang di telinga kirinya tampak berayun.
"Apa yang kau inginkan lagi dari kami Lupin?
Lupin adalah namanya dan dia pemimpin dari empat dewan meja bundar.
"... Kau bisa menghabisi kami sekarang," ucap raja penuh emosi.
"Tidak, tidak, kalian tidak bisa mati sekarang... orang macam apa yang membunuh kalian sekarang, aku akan sangat berdosa jika kalian tidak mati bersama putri kalian juga, siapa namanya... hmm, Malifana kah."
"Keparat kau Lupin, kau ingin memancing putriku kemari."
"Tepat sekali, aku memerlukannya untuk membuka ruang rahasia kerajaan di mana kalian menyegel senjata milik penyihir kegelapan."
"Jadi itu tujuanmu, Kaleodoskop."
"Benar sekali, selain satu pedang iblis yang diciptakannya senjata itu juga sangat mengerikan, jika aku bisa mendapatkannya maka era kegelapan akan tercipta kembali dimana kejahatanlah saja yang akan berkuasa di dunia ini."
Raja diam sejenak lalu melanjutkan.
"Pedang iblis ada sembilan buah bukan satu."
"Itulah yang diketahui orang lain, namun sebenarnya pedang sesungguhnya hanya ada satu yang sekarang dipegang oleh Nene. Sementara sisanya hanya barang tiruan yang aku buat."
"Kau, sebenarnya kau siapa?"
"Sudah cukup pembicaraannya, sampai jumpa... sebaiknya kalian makan makanan kalian kudengar putri kalian sudah kembali ke negara ini."
"Mustahil? Padahal aku mengirimnya ke negara lain."
"Harusnya kalian berdua senang karena memiliki putri berbakti."
__ADS_1
Lupin meninggalkan ruangan dengan jejak keheningan yang menyelimuti langkahnya.
***
Aku menyerahkan kemudi kereta pada Naula sementara aku melindunginya dari samping.
Semenjak kami keluar dari kota sudah ada beberapa bandit yang bermunculan, Liz, Vira dan juga Alyssa aku minta tetap di dalam kereta selagi menunduk untuk menyembunyikan keberadaan mereka.
Salah satu bandit muncul dari pohon dengan busurnya, saat dia hendak melesatkannya aku menembak bagian jantungnya hingga dia terjungkal ke bawah.
Lima orang keluar dari dalam semak-semak dan aku menyapu mereka dengan sihir air, menggunakan sihir api hanya akan membuat hutan ini terbakar.
Naula berkata.
"Di depan Aksa."
"Terus jalan."
Aku meluncur ke arah mereka, aku menendang mereka kemudian meninju perut mereka, salah satunya kujadikan sandaran saat aku mengisi peluruku.
DOOR.
Aku menembak satu orang yang berlari dengan kapak.
Sekitar lima orang perampok yang tersisa berusaha melarikan diri, dan aku menembak mereka tanpa ampun sebelum melompat dan duduk di sebelah Naula.
"Kamu membunuh mereka."
"Jika aku melepaskannya mereka akan menghubungi kawan mereka yang berada jauh di depan."
"Itu sangat gawat, sebenarnya berapa banyak dari mereka."
"Aku juga tidak tahu."
Aku mengeluarkan pelontar granat dari sihir penciptaanku, kutarik pelatuknya dan ledakan terjadi di samping kereta.
__ADS_1
Liz dari belakang bertanya.
"Aku juga ingin menembak tolong pinjamkan senjata padaku Aksa."
"Aku tidak yakin untuk memberikannya padamu."
"Kejam sekali, aku cukup ahli dalam menembak."
Pada akhirnya aku memberikan satu padanya.
Vira dan Alyssa menengadahkan tangan ke arahku.
"Kalian berdua tidak usah," perkataanku membuat mereka mengembungkan pipinya.
"Apa lebih baik kita menggunakan mobil saja dibanding kereta kuda?" tanya Naula menyela.
"Mobil menggunakan energi sihir sebagai bahan bakar, aku ingin sebisa mungkin menghemat tenagaku... aku tidak tahu, tapi lawan kita mungkin jauh lebih kuat."
"Begitu."
Salah satu orang bertubuh besar dengan perisai berdiri di tengah jalan kami hingga Liz tampak bersemangat.
"Biar aku atasi."
Dia melebarkan kakinya selagi mendorong moncong senjatanya ke depan.
"Alyssa dan Vira tolong tahan tubuhku."
"Aku tidak mengerti tapi baiklah."
"Oke."
"Mengunci target, kemudian tarik pelatuknya."
Ledakan menggema dengan keras, sementara ketiga orang itu sedikit terdorong ke belakang pria besar yang menghalangi kami meledak bahkan perisai yang dibawanya tertembus dengan mudahnya.
__ADS_1