
Setelah deklarasi perangnya aku muncul tepat di belakang punggungnya, dari atas itu aku mengayunkan pendangku dan diluar dugaan Manggo berbalik bersama pedangnya untuk menahan seranganku.
"Paling tidak jangan menyerang seseorang sebelum mereka selesai berbicara."
Aku melompat sesaat setelah pedang kami bertubrukan.
"Sudah kukatakan aku tidak peduli dengan apa yang kalian katakan, iblis, naga kehancuran ataupun lainnya... selama mereka berencana menghancurkan dunia ini maka aku hanya perlu menghabisi mereka."
"Jangan sombong kau manusia."
Sebuah energi sihir membungkus seluruh tubuh Manggo itu mirip seperti sebuah gelembung yang dibuat dari mana. Tapi hanya satu kesalahan bahwa dinding itu memiliki pola lingkaran sihir di permukaannya.
"Dengan ini kau tidak akan bisa mengalahkanku."
Aku menjentikkan jariku dan seketika dinding pelindung miliknya hancur berkeping-keping.
"Mustahil?"
"Aku tidak tahu darimana kalian para iblis mempelajari sihir tanpa rapalan..
berbeda dengan magic script yang selama ini kubuat, pola lingkaran kalian lebih seperti pola kuno."
Mendapatkan pernyataan itu, Manggo tersenyum masam selagi mengambil jarak mundur.
"Yah sudahlah, nanti juga aku tahu."
Aku muncul tepat di depannya selagi mengayunkan pedangku seolah menari-nari di udara, Manggo yang cukup sigap menahannya selagi mengirim pedang miliknya.
Meski tanpa bantuan Sirius atau Marine aku harus bertambah kuat, kami terus membenturkan pedang kami untuk menghasilkan dentuman keras yang memekakkan telinga.
__ADS_1
Aku menciptakan tiga lingkaran sihir di pedangku untuk meningkatkan kekuatan, ketajaman serta ketahanan hingga mampu memotong pedang Manggo dengan mudah.
Ketika dia terduduk aku mengarahkan tangan lain hingga dia tersentak.
"A-apa yang ingin kau lakukan?"
Sebuah pistol muncul di tanganku dan selanjutnya peluru panas telah bersarang di kepalanya, komandan iblis ini tumbang tanpa perlawanan.
"Hebat, kau bertarung secara luar biasa tanpa membiarkan musuh-musuhmu melukaimu sedikitpun, terlebih bagaimana pengaruh pengendali pikiran miliknya tak berkerja padamu?" perkataan itu ditanyakan oleh Ilusiona.
"Mudah saja, aku menciptakan sihir yang menanggulanginya secara khusus sebelum menghadapinya... sihir miliknya menggunakan matanya untuk mencuci otak musuhnya karena itu."
"Kau membuat matamu sendiri tidak dapat melihat?"
"Tepat sekali, aku membuat pandanganku buta sementara waktu."
"Itu tidak masuk akal lalu bagaimana kau mengetahui semua gerakannya walaupun matamu tidak bisa melihat."
"Itu tidak menjelaskan apapun," katanya sedikit dengan nada keras.
Singkatnya saat barusan aku melihatnya seolah menggunakan sensor panas dalam kegelapan.
"Yang terpenting kau selamat dan ras malaikat terbebas."
"Memang benar "
Perlahan pandanganku mulai kembali, ini sihir yang cukup sederhana akan tetapi sangat membantu dalam pertarungan ini.
Seluruh para malaikat yang dikendalikan sebelumnya telah kembali pulih yang mana ini tanda sudah waktunya aku kembali ke mansionku.
__ADS_1
Selagi duduk di kursiku nona Heliet memotong kan apel untukku lalu mengirim potongannya padaku.
"Aku mengupaskannya penuh cinta, bagaimana rasanya?"
"Apel dari kota ini berkualitas baik."
"Bukan itu yang harus Aksa katakan."
Aku hanya tersenyum masam sementara Nona Heliet melanjutkan setelah mengembungkan pipinya.
"Ngomong-ngomong... Aksa masih belum mengatakan apapun soal wilayah malaikat yang sudah kembali serta komandan iblisnya sudah di kalahkan olehmu?"
"Setelah melihat wajah bersemangat mereka aku tidak tega mengatakannya lagipula nanti juga mereka tahu bahwa usaha mereka sia-sia."
"Kamu cukup nakal."
"Kalau begitu aku akan mengumpulkan bahan obatnya, sepertinya aku melupakannya."
"Ah benar, karena ramuannya digunakan untuk para malaikat stok kita sangat sedikit."
"Aku akan memetik jauh lebih banyak."
"Sesuai yang diharapkan dari murid tersayangku."
Saat aku keluar ke perkarangan rumah anggota partyku sudah menungguku.
"Kami tidak akan membiarkan master sendirian saja, kami juga ingin ikut membantu."
"Benar sekali."
__ADS_1
"Jika kalian begitu memaksa apa boleh buat, mari kumpulan tanaman obat bersama-sama."
"Dengan senang hati."