
Mereka sudah mengetahui keanehan yang kami buat hingga entah itu Hobgoblin atau High Goblin mereka telah meninggalkan wilayah mereka untuk menyisir keberadaan kami.
Karena sudah hampir gelap mari akhiri perburuan untuk hari ini, Jeanne dan Lesoria telah kembali bersama makan malam kami yaitu seekor kelinci yang telah dibersihkan dari kulit dan kepalanya. Keduanya mampu memasaknya dengan baik menjadi sebuah olahan sup yang lezat.
Baik Jeanne atau Lesoria keduanya memang pandai dalam segala bidang. Aku memberikan makanan lebih untuk Sirius hingga ekpresinya berubah sangat senang. Dia adalah Dewi Jahat yang memiliki eksistensi kehancuran meski begitu bagiku sekarang dia hanyalah gadis biasa yang suka makan.
Jeanne dan Lesoria mengembungkan pipinya melihatku dengan tatapan aneh.
"A-ada apa?"
"Bukan apa-apa," kata Jeanne memalingkan wajahnya seperti seorang anak kecil, sedangkan Lesoria menjelaskan.
"Dengar Aksa, wanita cenderung merasa iri dengan perlakuan seorang pria yang lebih perhatian terhadap wanita lain dibanding dirinya yang ia dapat."
Jadi begitu.
Aku memang terlalu memanjakan Sirius.
"Entah kenapa, aku minta maaf," kataku selagi menundukan kepalaku.
"Master, aku boleh tidur bersamamu hari ini.. kita mungkin bisa bersenang-senang."
Kedua orang yang mendengarkan terbatuk-batuk, mungkin mereka salah paham menganggap Sirius sebagai wanita dewasa, dilihat bagaimanapun dia ini hanya anak kecil berusia 10 tahunan, paling tidak itu yang kurasakan.
"Ka-kau tidak boleh tidur dengan pria sebelum menikah, itu dilarang," tegas Lesoria menasehati.
__ADS_1
"Apa tidak boleh," potong Jeanne.
"Mungkinkah kau?" sekarang Lesoria yang kebingungan.
"Tidak, tidak, aku belum melakukan hal semacam itu.. aku hanya memikirkannya," Jeanne seketika memegangi kepalanya seolah bisa meledak karena malu di sisi lain Sirius memiringkan kepalanya.
"Apa itu menikah? Dan kenapa aku tidak boleh tidur dengan master?"
Entah itu Jeanne atau Lesoria keduanya jatuh ke tanah. Mereka terlalu berlebihan bahkan jika mereka mengatakan berciuman membuatmu akan hamil, Sirius jelas akan mempercayainya, segitulah level yang dimilikinya.
Lagipula aku menganggap Sirius seperti adikku sendiri tidak ada hal yang seperti itu diantara kami berdua.
"Entah kenapa kalian terlihat sangat frustasi?"
"A-aah, aku ingin tidur duluan, Aksa tolong berjaga duluan untuk malam ini."
Aku mengangguk sebagai jawaban.
Ketika ketiganya tidur aku duduk di atas batu selagi membersihkan senapan di tanganku, aku bisa menggunakan sihir tapi itu mencakup area yang luas hingga memungkinkan musuh lain berdatangan, tapi dengan senjata ini aku bisa mengalahkan musuh tanpa menarik kawanannya.
Aku mengarahkan moncong senjata ke arah belakangku.
"Jeanne?"
"Maaf membuatmu terkejut, aku tidak bisa tidur, boleh aku duduk di sampingmu?"
__ADS_1
"Tentu saja."
Kami berdua menikmati teh yang kuseduh sendiri.
"Malam ini dingin sekali, sungguh menyenangkan bisa berada di depan api unggun hehe," katanya.
Jeanne adalah kesatria suci terbaik yang dimiliki kerajaan ini, bahkan tidak aneh bahwa semua orang mengidolakannya.
"Aku menemukan beberapa ubi saat menyisir sekitar sini, apa kau mau mencobanya?"
"Heh, sepertinya enak."
Aku memasukan beberapa ubi ke dalam bara api lalu mengeluarkannya setelah matang, kugunakan kain untuk mengambil satu buah yang mana kuberikan pada Jeanne.
"A-aduh, panas, panas."
Bagaimanapun tingkah wanita cantik tunjukan itu sudah cukup menenangkan pria manapun.
"Nah Jeanne, aku boleh tahu tentang namamu, apa kau memiliki nama itu sejak lahir?"
"Benar, ibuku yang memberikannya... ibuku mengatakan bahwa itu adalah nama dari seorang wanita suci yang gagah berani yang tidak gentar berada di tengah medan perang dan terus berjuang untuk menyemangati semua rekannya demi mendapatkan kemenangan, apa ada sesuatu?"
"Bukan apa-apa."
Dengan kata lain ibu Jeanne berasal dari dunia yang sama sepertiku, itulah kesimpulan yang kudapatkan.
__ADS_1
"Mau tambah ubinya?"
"Tolong tambah," balas Jeanne selagi tersenyum senang.