Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 229 : Melawan Dewan Meja Bundar Robiostos


__ADS_3

Di saat kesadaran Vira Kembali semua orang tampak panik, beberapa dari mereka tidak bisa menghindari apapun yang meluncur dari balik hutan terlebih saat potongan cahaya itu memotong tubuh mereka menjadi serpihan kecil daging.


Beruntung orang-orang yang tersisa masih hidup dan saat sebuah anak panah cahaya meluncur, aku melompat dari atas dan jatuh di depan mereka.


"Naula, Liz dan Alyssa tetap berada di sana, biar aku yang mengurusnya."


"Baik."


"Kalian semua masuk ke dalam desa."


"Baik."


Ketiga muridku bersama pasukannya berlarian mundur.


Menggunakan sihir bawah ataupun menengah bukanlah pilihan bagus, karena itu kugunakan semua kemampuanku untuk menciptakan dinding besi tanpa cacat.


Tak tanggung-tanggung kubuat itu menjadi 10 lapis.


Gerbang pertama sampai kelima dihancurkan dengan mudah baru perbedaannya terlihat saat mencapai gerbang dua dan hancur di gerbang ke satu.


Lucia mengutarakan pertanyaan lebih cepat dari semua orang.


"Apa yang barusan itu? Kami tidak bisa merasakan apapun."


"Itu wajar, dia menyerang kota dari jarak 100 mil."


"Ini pasti bergurau."


"Untuk sekarang kalian semua tetap diam."

__ADS_1


Aku mengarahkan tanganku untuk menyelimuti semuanya dengan sihir.


"Abyss Break..."


Sebuah kubah besi menyelimuti seluruh area yang kuinginkan hingga semua orang aman di dalamnya, di saat yang sama anak panah kembali meluncur dan suara Nermala sedikit gelisah.


"Jangan ceroboh, apapun yang terjadi jangan mati."


"Akan kuusahakan."


Aku menciptakan dua lingkaran sihir di tanganku, pertama untuk mengatasi sihir anak panah cahaya aku harus melemahkannya, sebelumya 10 gerbang tidak cukup menahannya dengan demikian aku harus membuat sesuatu yang lebih kuat lagi.


50 mil.


Aku telah menciptakan 50 puluh dinding tak terlihat untuk berjaga-jaga.


Kecepatan anak panah semakin tajam dan kuat.


Aku tidak ingin mengatakannya tapi di dunia ini orang-orang terlihat sangat kuat.


10 Mil.


"Ini jelas bukan serangan biasa, orang yang melakukannya menggunakan sihir lompatan masal yang dia gunakan kepada sihir serangannya."


Dalam sekejap dinding yang kubuat hancur berserakan menjadikan pecahan yang berjatuhan bagaikan sebuah kaca.


Aku menggunakan kedua tanganku sebagai opsi terakhir. Menyatukan dua lingkaran sihir selagi berkata.


"Iron Shield."

__ADS_1


Perisai besi muncul di tanganku dan itu bertubrukan langsung dengan anak panah yang muncul, mendorongku dengan kekuatan luar biasa.


"Aaaaaaaaaaaah... Sial."


Aku terdorong 10 meter sebelum akhirnya berhenti di tempat dengan tubuh penuh asap. Aku sekali lagi memastikan orang-orang di belakangku tetap terlindungi.


Dalam hitungan tiga, orang yang menembak dari jarak jauh muncul sekitar 20 meter dariku dia pria dengan kacamata serta rambut hitam pendek memakai jubah serta membawa busur di tangannya yang jelas lebih tinggi dari tubuhnya sendiri.


Aku membuang perisai untuk menggantinya dengan pistol.


"Kau repot-repot datang kemari, kau cukup percaya diri sebagai orang pengecut yang menyerang dari jarak jauh."


Dia mendorong kacamatanya sebelum menjawabku.


"Yang barusan aku hanya main-main saja, aku yakin serangan barusan masih bisa kau hindari, yang kuincar hanyalah orang-orang yang kau lindungi itu.


Retakan muncul di atas langit di mana dari sana mata raksasa bermunculan.


"Jadi itu bentuk sihirmu."


"Aah, namaku Robiostos salah satu dewan meja bundar dan namamu?"


"Aksa, orang yang akan membunuhmu."


"Lucu sekali... aku tidak akan kalah dengan orang sepertimu."


Mata yang berada di langit menghilang dalam sekejap.


"Kau bilang aku pengecut karena menyerang dari jarak jauh, jika demikian akan kutunjukan saat aku serius aku juga ahli dalam pertarungan jarak dekat."

__ADS_1


__ADS_2