
Di bawah pohon sakura di dunia roh, kami berdua terus berlatih setiap harinya, tak hanya mengajarkan sihir, Nona Heliet begitu pandai memainkan berbagai senjata khususnya sebuah pedang.
Kini aku tahu alasan kenapa kerajaan Elysium meminta beliau mengajari kami, yang mana itu sepadan dengannya sebagai syarat dia bisa hidup di luar kerajaan.
Terkadang Nona Heliet mengajari jurus-jurus aneh seperti gaya sexy miliknya, kami sebenarnya ingin menolak hal itu hanya saja kami juga tidak bisa menentang guru kami setiap saat.
Pada akhirnya sesekali kami hanya menurut dengan ekpresi datar saat melakukannya, di luar itu, dia juga mengajari kami sihir tingkat atas serta sihir terlarang.
Kami berlatih dari pagi sampai malam dan di akhir pekan kami baru bisa beristirahat sepenuhnya tanpa melakukan apapun, yang paling sering kami lakukan adalah latihan pertarungan dalam duel kesatria.
Duel kesatria hanya bisa dilakukan setelah melakukan simbol perdamaian dengan menyilangkan tangan kanan dari masing-masing orang yang berduel kemudian mundur beberapa meter.
"Hari ini aku akan mengalahkanmu Jeanne d'Arc."
"Semoga beruntung Lesoria Floresta."
Kami mengangkat pedang kayu, tepat saat Nona Heliet mengatakan 'Mulai' kami berdua melesat maju.
Kuayunkan pedang dari sisi kiri Lesoria yang dengan baik dia tahan dengan pedang miliknya, memutarnya ke arah sebaliknya kemudian membalas seranganku secara diagonal.
Aku menangkisnya selagi memperhatikan setiap gerakan yang dilakukannya, khususnya kakinya.
Berbeda denganku yang menggunakan pedang satu tangan, Lesoria menggunakan pedang dua tangan walau masih terbuat dari kayu kekuatannya jelas lebih unggul.
__ADS_1
Sebagai buktinya aku bersalto ke belakang dan di mana tempatku berada hancur hanya dengan pedang kayu.
Aku melirik ke arah guruku yang memperhatikan selagi menyilangkan tangannya menopang dadanya yang cukup besar.
"Guru memangnya boleh menggunakan sihir penguatan dalam latihan duel."
Dia menepukkan tangannya selagi menatapku dengan sebelah matanya, bagaimanapun mata yang lain tertutup rambut hitam miliknya.
"Ah, aku kira aku akan mengizinkannya asal jangan menggunakan sihir serangan langsung."
"Baiklah."
Lesoria tersenyum puas.
Aku hanya tersenyum masam sebelum kembali menyerang.
Selain sihir serangan, sihir pendukung diperbolehkan. Jika begitu aku akan menggunakan sihir percepatan yang membuatku bergerak dua kali lipat.
Prak... prak...
Bunyi khas dari pedang kayu mewarnai seranganku di mana aku muncul di segala arah selagi mengayunkan pedang ke arahnya, sejauh ini Lesoria mampu menahannya dengan menyilangkan pedang di depan.
"Usaha bagus, tapi aku yang akan menang," kataku percaya diri.
__ADS_1
Aku muncul di depannya sedikit melompat dan terkejut dengan pergerakan Lesoria yang tiba-tiba.
"Pedangnya hilang," kataku pelan.
Celaka.
Dia membuang pedangnya ke atas lalu menerjang ke arahku layaknya seekor banteng hingga menjatuhkan diriku ke permukaan tanah.
Aku berusaha meloloskan diri sayangnya dalam posisi di bawah, hal itu sangat sulit dilakukan.
"Mau menyerah Jeanne?"
Dia memang semakin kuat, terlebih kami yang tumbuh bersama akan mudah menyadarinya satu sama lain.
Aku tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, aku kalah.
Lesoria berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri dan Nona Heliet berjalan mendekat.
"Kalian sudah mengalami peningkatan setelah berlatih di tempat ini selama tiga bulan, untuk sekarang kalian bisa beristirahat sejenak."
"Syukurlah," ucap Lesoria menjatuhkan bahunya lemas sebelum akhirnya mengikuti kami duduk bersandar di bawah pohon sakura selagi memakan apel.
__ADS_1