
"Menghancurkan kah? Dengan kata lain Jeanne sudah meramalkan hal ini sejak lama," selagi berkata itu aku menutup buku yang sebelumnya kubeli lalu menaruhnya di meja dekat tempat tidurku.
Setelah dia menyelamatkan kota ini, Jeanne terus bertarung melawan para monster hingga kedamaian bisa diraih saat dia mengalahkan raja para monster.
Setelah ia berhasil menyelamatkan benua ini Jeanne sepertinya dipaksa untuk menerima wawancara dari semua pihak hingga akhirnya buku ini tercipta.
Jika semuanya benar, berarti entah Lesoria ataupun Jeanne adalah kakak seperguruanku.
Hal yang sungguh mengejutkan.
Aku memosisikan diriku duduk selagi melihat anggota partyku yang tertidur di lantai dengan futon mereka.
Sirius, Marine, Naula serta Liz Calista, sebenarnya aku tidak ingin melibatkan mereka semua dalam pertarungan panjang yang akan kuhadapi, kendati demikian mereka malah memarahiku karena telah mengusir mereka.
Pada akhirnya kami akan terus bersama sebagai satu party.
Banyak hal yang ingin kulakukan di dunia ini khususnya demi temanku Richard yang telah pergi lebih dulu. Aku menyelimuti mereka semua dengan selimut lalu keluar dari penginapan.
Tempat yang kukunjungi adalah sebuah bar yang sudah sepi.
Mereka buka 24 jam hingga aku bisa memesan kopi pahit untuk kunikmati sendiri, bartendernya merupakan pria tua yang seluruh rambutnya telah memutih.
"Aku jarang melihatmu, apa kau penduduk baru?"
"Aku hanya singgah sebentar di sini, tempat ini sangat tenang."
"Aku selalu menjaga keadaan tempatku seperti ini.. beberapa pelanggan datang kemari agar bisa menenangkan dirinya dengan aktivitas sibuk mereka."
"Begitu."
Beberapa orang masuk setelahku dan sepertinya mereka sedang mabuk.
"Yo paman, berikan kami makanan, aku sangat lapar."
__ADS_1
"Kalian harusnya datang ke kedai, mohon maaf... tolong pergi dari sini."
Bukannya menurut, pria itu malah memukul bartender hingga aku menangkapnya dengan baik.
"Kau tidak apa-apa?"
"Maaf atas keributannya, mereka biasanya jarang berbuat keributan di sini."
"Biar aku yang mengatasinya."
Kelima pria itu mengelilingiku.
"Jangan sok pahlawan, kami sangat lapar... cepat hidangkan makanan untuk kami."
"Kalian sudah membuat onar, sayangnya kalian tidak diterima di sini lagi."
Salah satu orang mengirim tinjunya ke arahku dan aku dengan baik menangkapnya sebelum membantingnya ke lantai selagi menodongkan pistol ke arahnya.
"Apa itu?"
Timah panas menyerempet pipinya dengan garis darah yang tampak jelas.
"Selanjutnya kepala kalian yang akan meledak."
Mereka semua berteriak ketakutan selagi berlarian keluar bar.
Aku menghilangkan senapanku lalu merogoh sakuku untuk memberikan satu koin emas pada pria pemilik bar.
"Kopinya terasa enak, ambil saja kembaliannya."
"Terima kasih banyak."
Aku hanya terus berjalan pergi.
__ADS_1
Keesokan paginya Sirius memelukku dari belakang sementara Liz dan Marine menghimpitku dari samping hingga Naula mengerenyitkan alisnya.
"Kalian semua sampai kapan terus melekat pada Aksa, kita akan pergi... jadi cepatlah bersiap-siap, kalian juga belum mandi kan."
"Master, mari mandi bersama."
"Curang Sirius, kau sudah sering melakukannya gantian aku saja."
"Liz itu hanya mandi dengan air dingin, Master tidak akan nyaman."
"Siapa yang kau bilang begitu, jangan pikir karena aku penyihir es hanya bisa mandi, makan dan minum es juga."
"Apa aku salah?"
Sirius dan Liz saling memelototi satu sama lain. Di saat itu..
"Aku ingin dapat hukuman dari tuan Aksa, aaah... aaahh."
"Dari semua orang kaulah yang paling mesum Marine."
"Sok suci, padahal kau juga sama sepertiku kan, Naula?"
"Ti-tidak."
"Tuh kan, kau juga tergagap saat membalas perkataanku."
"Bukan begitu."
"Pipimu memerah."
"Berisik."
Aku hanya mendesah pelan dan kuputuskan untuk mandi di pemandian air panas bersama-sama.
__ADS_1
Bagi sebagian orang mungkin akan sangat menyenangkan memiliki banyak bunga di tangan mereka, tapi bagiku ini merepotkan.
Selepas mandi aku menciptakan mobil yang akan kami naiki lalu berangkat secepat mungkin untuk menghancurkan kerajaan lainnya.