
Aku menidurkan Sirius di ranjang, untuk seorang gadis ramping dia sangatlah berat, itu menjelaskan seberapa banyak makanan yang dia makan.
Aku menyelimuti tubuh Sirius lalu duduk di kursiku untuk membaca buku harian Meliana, aku tahu dari setiap tulisan Meliana bahwa dia adalah orang dengan karakter ceria dan bersemangat.
Petualangannya dimulai saat desanya dihancurkan oleh penyihir pengguna buku dosa mematikan.
Sungguh petualangan yang luar biasa, aku telah membaca ke bagian tengah buku di mana itu adalah menjadi petualangan yang menegangkan.
Setelah mengalahkan para penyihir, Meliana sempat pergi ke pulau di tengah laut untuk liburan, saat itu tiba-tiba saja pulaunya bergerak.
Ketika Meliana memastikan kembali, itu bukanlah pulau melainkan seekor kura-kura raksasa yang telah hidup ribuan tahun.
Kalau ada kesempatan aku ingin melihatnya sendiri suatu hari nanti.
Pagi berikutnya kami kembali menantang lantai menara Altima, dari sini kami berniat untuk kembali ke lantai pertama setelah mencapai lantai 210 yang menjadi lantai yang paling sulit.
Hanya untuk sampai kemari kami memerlukan waktu seminggu lebih dan masih harus terus berjuang menyelesaikannya.
Greater Eater bos lantai 210, memiliki bentuk seperti rusa raksasa yang mana bisa menggunakan sihir petir, aku, Richard dan Kazel terus berusaha melemahkannya. Untuk serangan akhir kami berikan pada Vivia dan pedangnya.
Finish.
Di saat aku melihat tulisan tersebut aku menjatuhkan diriku ke lantai dengan nafas terengah-engah, sedangkan Sirius berjongkok di dekatku selagi menopang dagunya.
"Master aku lapar."
"Biarkan aku beristirahat sebentar di sini."
__ADS_1
"Apa boleh buat."
"Tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan, tolong bantu aku," ucap Kazel yang mendapatkan bantuan dari Richard.
"Makin lama semakin sulit juga, apa Dewi ini sedang mempermainkan kita sekarang," tidak ada siapapun yang menjawab perkataan Vivia tersebut.
Sekembalinya ke penginapan aku menjatuhkan diriku di ranjang saat Natalie muncul dengan air hangat dan handuk.
"Silahkan gunakan ini Aksa."
"Terima kasih," aku menutup wajahku dengan handuk yang dibawanya.
"Kalian ini nekat sekali, biasanya orang perlu berbulan-bulan untuk mencapai satu lantai tapi kalian langsung menyelesaikannya dalam beberapa hari."
"Tujuan kami ingin segera mencapai lantai paling atas untuk bertemu Dewi."
"Tidak, aku hanya ingin meminta sesuatu padanya."
"Kalau Dewi mendengar, dia pasti akan menangis."
Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan.
"Saat makan malam aku akan memanggilmu jadi tidurlah sebentar."
Aku menganggukkan kepalaku sekali lalu berbaring di atas ranjang, saat aku bangun aku menemukan Sirius tidur di sampingku. Jika melihatnya seperti ini orang pasti tidak akan percaya bahwa dia sebelumnya adalah Dewi jahat.
Tak lama kemudian Natalie muncul memanggilku.
__ADS_1
"Aksa, Sirius, makan malam sudah siap... turunlah."
"Baik."
"Apa ada yang mengatakan makan?"
Dia cepat sekali bangun saat mendengar kata makan.
Kazel, Richard dan Vivia sudah berada di meja makan.
"Hari ini Natalie membuat sup daging, rasanya pasti enak," ucap Kazel mengambil mangkuk nasi yang diberikan oleh Natalie padanya.
"Ini untuk Aksa."
"Natalie boleh aku minta mangkuk yang agak besar?"
"Apapun untuk Sirius... silahkan."
"Gede," teriakku.
Mangkuk tersebut berukuran 10 kali lebih besar dari ukuran mangkuk biasanya.
"Selamat makan."
Richard dan Vivia hanya tersenyum kecil tanpa mengatakan apapun lagi.
"Ini enak sekali."
__ADS_1
"Kalian bisa tambah sebanyak yang kalian mau."