Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 139 : Menara Pengiriman Surat


__ADS_3

Kesedihan akan selalu menciptakan kegelapan di dalam hati seseorang, dan kegelapan itu akan menciptakan kejahatan.


Meski begitu.


Selalu ada harapan agar seseorang tak terjerumus, dan harapan itu berasal dari seseorang yang berusaha memperbaiki semuanya.


Menelusuri jalanan kota yang ramai, aku sampai ke sebuah bangunan yang cukup tinggi, tidak berlebih kalau menyebutnya menara tinggi dimana di dalam sini banyak orang-orang yang mengenakan seragam mirip merpati berwarna putih.


Saat aku memasukinya aku beruntung bahwa antriannya tidak terlalu panjang, di dunia ini tidak ada namanya teknologi sehingga jika kau mengirim surat hanya bisa lewat jasa antar pos seperti yang aku lakukan sekarang.


"Selamat datang, mau mengirim surat ke alamat mana?"


"Aku ingin memakai pengiriman antar benua."


"Begitu, semuanya 5 koin emas."


"Tentu, terima kasih."


Semakin jauh kau mengirim surat maka ongkosnya semakin mahal. Beberapa orang petugas pos mulai berdatangan dengan sapu terbang mereka lalu mengambil surat baru di wilayahnya masing-masing.


Saat aku hendak melangkah keluar tanpa sengaja seseorang menabrakku hingga kami berdua jatuh di waktu bersamaan.


"Maafkan aku, maafkan aku."


"Tidak masalah... lain kali kau harus berhati-hati."


Orang yang menabrakku adalah pria kurus dengan rambut jamur serta kacamata bulat, apa yang jelas terlihat darinya dia seperti tokoh pada komik biasanya.


"Aku terburu-buru, maaf."

__ADS_1


Aku hanya bisa mendesah pelan.


Barusan dia datang dari pintu masuk tapi sekarang dia malah pergi ke pintu keluar, apa dia baik-baik saja? Ketika aku memikirkannya akhirnya dia kembali.


Aku bertanya padanya saat dia mengambil surat pengiriman yang baru.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan saja karena harus berputar."


"Berputar? Apa terjadi sesuatu?"


"Ada monster yang mendiami rute biasanya karena itu aku mengambil jalan memutar."


"Kalau mau aku bisa mengatasi monster itu?"


"Tidak, tidak, itu mustahil.. monster itu sangatlah besar terlebih aku tidak memiliki uang."


"Heeeh."


Aku menarik lengannya dan keluar bersamanya. Agar tidak menyolok aku juga menciptakan sapu terbang untuk mengikuti pria ini dari samping.


"Ternyata kau juga seorang penyihir, benar juga, namaku Mikan."


"Aku Aksa, salam kenal Mikan."


"Sama-sama," balasnya demikian.


"Ngomong-ngomong kau sudah berapa lama kau bekerja sebagai pengantar pos?"

__ADS_1


"Ini tahun ketigaku, aku sempat beberapa kali ingin keluar namun pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak melakukannya haha."


"Bekerja terkadang terasa jenuh, hal seperti itu memang wajar."


Mikan mengusap rambut belakangnya dan berkata malu-malu.


"Seperti itulah, terlebih pekerjaan seperti ini cukup melelahkan... Kau harus sudah mengirim surat pagi-pagi sekali lalu baru selesai malam hari bahkan tidak liburnya cuma sebulan sekali."


"Itu jelas melelahkan."


"Aksa sendiri bekerja sebagai apa?"


"Aku hanya petualang biasa di benua Lemuria, kebetulan aku datang kemari untuk liburan."


"Mungkinkah tadi Aksa mengirim surat ke sana."


"Benar, aku bisa saja pulang pergi dengan sihir perpindahan namun di masionku ada seseorang yang pasti sulit untuk melepaskanku lagi."


"Heh, sihir tingkat tinggi, apa dia istrimu?"


"Bukan, bukan, dia guruku."


"Aku mengerti, ah lihat... Di sana."


Mikan menunjuk ke arah lokasi sebuah hutan lebat di mana hanya wilayah itu saja yang tanahnya adalah pasir yang membentang panjang.


"Bukannya itu aneh ada pasir di tempat seperti ini?"


"Benar, setiap ada makhluk yang melewati di atasnya akan ada seekor cacing yang menyerangnya."

__ADS_1


Aku memperhatikan kawanan burung yang melintasi pasir tersebut, dan benar saja sesuatu menyeruak dari sana lalu memakan burung tersebut sekali suapan.


__ADS_2