
Pagi berikutnya di salah satu pulau di lantai pertama Arcana, aku dan Richard saling berhadapan dengan pedang biasa di tangan kami berdua.
"Terima kasih Aksa sudah mau mendengarkan permintaanku ini, aku ingin bertambah kuat dengan melawan orang yang lebih kuat dariku."
"Aku tidak sekuat itu, tapi tak masalah untuk melakukan latih tanding seperti ini."
Kami berdua membuat kuda-kuda sebelum melangkah maju, kemampuan berpedang Richard berada di tingkat atas aku harus mengeluarkan kemampuanku kalau tidak ingin membuatnya kecewa.
Aku mengayunkan pedangku dari atas sementara Richard menepisnya ke samping, saat dia membalas aku memutar pedangku untuk menahannya sebelum bersalto ke belakang. Pertarungan seperti ini mengingatkan akan masa laluku saat aku berada di dojo, saat itu aku hanyalah anak kecil yang belajar mengayunkan pedang setelah kehilangan rumahnya.
Saat aku di jalanan seorang gadis kecil berambut hitam membawaku ke rumahnya, saat itu aku bertemu ayahnya yang merupakan ahli pedang.
"Aku pulang ayah... aku membawa seseorang kemari."
"Seseorang? Mungkinkah dia calon suamimu kelak, aku tidak akan menerimanya, tak akan kuserahkan putriku padamu."
"Aku masih kecil."
Pria itu menerjang ke arahku dengan kecepatan tinggi sebelum dia bisa menangkapku, sebuah pedang bambu mengenai bahunya hingga ia rubuh ke bawah.
"Seperti biasa Ayumi tidak menahan diri pada ayahnya."
Bagiku seorang gadis kecil mengalahkan orang dewasa sesuatu yang luar biasa.
"Jangan khawatir jika orang ini mengganggumu, aku akan menghajarnya untukmu."
"Aku ini ayahmu loh, jangan menyerang ayahmu dengan teknik kendo."
"Aku ingin bisa seperti itu, tolong ajarkan aku berpedang?"
"Ayah?"
__ADS_1
Pria itu duduk selagi menggosok dagunya.
"Aku tak masalah, tapi kau mungkin harus meminta izin orang tuamu dulu."
"Mereka sudah tidak ada."
"Rumahmu?"
"Aku tidak memiliki rumah," balasku demikian.
Pria itu tampak menangis lalu merangkulku dalam dekapannya.
"Mulai sekarang tinggallah di sini, kau bisa jadi adik Ayumi."
"Aku tidak mau, aku akan menikah dengannya," potong Ayumi.
"Aku tidak akan membiarkannya."
Suatu hari saat pulang dari pertandingan mobil yang kami kendarai jatuh ke jurang saat aku sadari aku telah berada di ruangan putih itu di mana Dewi Nermala yang menungguku di sana.
"Apa aku sudah mati?"
"Sejujurnya kau masih hidup, sebelum kau jatuh aku memindahkanmu kemari."
"Kenapa?"
"Aku ingin mengabulkan permintaanmu, bukannya kau ingin pergi ke suatu tempat yang menyenangkan."
"Soal itu, aku sudah memiliki tempatku."
"Aku harus mengatakannya tapi keluargamu yang sekarang keduanya telah meninggal."
__ADS_1
"Mustahil? Padahal..."
"Mau bagaimana lagi Aksa, kalian tidak sengaja memilih rute berbahaya hingga mengalami kecelakaan."
Aku hanya diam beberapa saat, lalu melanjutkan.
"Begitukah?
"Benar, aku bisa saja mereinkarnasikanmu hanya saja, aku lebih memilihmu memindahkanmu agar kau tidak perlu menjadi bayi saat aku mengirimmu ke dunia lain."
"Apa aku akan diberikan tugas atau semacamnya?"
"Sebenarnya kalau untukmu aku membiarkan kau memilih, mau hidup damai atau apapun aku tidak masalah."
"Dunia seperti apa yang akan kutinggali?"
"Dunia dimana pedang dan sihir berada, sebuah dunia fantasi yang indah... kalau ada permintaan katakan saja, aku akan mengabulkannya."
"Kalau begitu..."
Trang... Trang... prang.
Kedua pedang kami saling bertubrukan menghasilkan suara memekikkan telinga, di serangan terakhir kedua pedang kami hancur berkeping-keping.
"Mau melanjutkan?" tanyaku demikian.
"Tentu saja, dengan tangan kosong."
Dia terlalu bersemangat soal hal seperti ini, sekarang ini malah menjadi tak berarti.
Aku dan Richard saling memukul wajah masing-masing dan kami berdua terlempar di waktu bersamaan, kurasa kita bisa menganggapnya seri saja.
__ADS_1