
Di kamar penginapan Malifana, aku berbaring di ranjang selagi mendengarkan obrolan mereka.
Malifana menjelaskan semuanya termasuk bagaimana ayahnya mengirimnya ke kerajaan Elysium tanpa bekal sedikit pun kecuali makanan agar dia tidak bisa kembali dan juga alasan kenapa dia datang kemari maupun siapa musuh dari dalang semua ini.
"Lupin? Apa Aksa pernah mendengarnya?" tanya Naula.
"Tidak sama sekali, apa dia orang yang disebut penyihir kegelapan?"
"Bukan, dia merupakan tangan kanan penyihir kegelapan bersama Nene yang menggunakan pedang iblis satu-satunya," balas Malifana demikian.
Nona Heliet dan Vivia juga abadi jadi tidak aneh jika diluar itu ada yang memiliki hal sama.
Tergantung keabadian seperti apa yang dimilikinya, ada juga keabadian yang hanya memanjangkan umur saja seperti para elf atau keabadian di mana meski tubuhmu terpotong-potong mereka akan menyatu sedia kala.
"Kau bilang pedang iblis hanya ada satu barusan?"
"Benar, pedang iblis yang sesungguhnya hanya ada satu selain itu hanyalah barang tiruan."
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Di mana ayah maupun ibuku dikurung. Aku sudah menempatkannya sihir yang mampu menyadap pembicaraan."
Jadi begitu.
Liz yang selanjutnya bertanya.
"Jadi apa yang diinginkan orang itu?"
"Kaleodoskop, sebuah senjata yang sangat kuat saat era penyihir kegelapan ada, selain buku dosa memastikan dan juga pedang iblis.. senjata itu tersegel di ruangan khusus kerajaan dan hanya aku yang bisa membuka ruangannya."
Jadi itu alasannya Roswal ingin menjemputnya.
"Itu pasti benda yang sangat berbahaya," tambah Alyssa yang mendapatkan semua persetujuan semua orang.
Aku bangun dari ranjang dan berkata.
__ADS_1
"Kami tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian, sebagai anggota satu party kami akan membantumu."
"Tapi aku tidak ingin melibatkan hal berbahaya pada kalian."
"Ini sudah diputuskan jadi kau tidak bisa menolaknya."
"Heh."
"Mari tentukan waktu yang tepat untuk menyerang langsung ke istana."
Malifana melebarkan peta istana miliknya.
"Dia bagian belakang ada ruang bawah tanah yang dijadikan sebagai ruang tahanan, jadi jika kita bisa menyusup kemari kita akan mudah menyelamatkan orang tuaku."
"Jadi begitu, harus ada yang membuat pengalihan karena itu.. Liz dan Alyssa tolong buat kekacauan di kota."
"Aku tidak keberatan tapi bagaimana jika penjaga dan para petualang menyerang kami."
"Hajar saja tapi jangan membunuh mereka, ada kemungkinan mereka akan dikendalikan Roswal."
"Untuk Naula dan Malifana akan bertugas menyelinap masuk dari pintu belakang demi menyelamatkan raja dan ratu."
"Kami mengerti."
"Dan untukku aku akan menyerang dari depan, ada satu hal yang kupastikan di sana.. dan siang hari kita akan langsung melakukannya."
Jika bertarung malam hari itu cukup merugikan terlebih saat melawan Roswal dengan kekuatan bulannya dia akan menghukum keadilan.
Hal itu sangat berbahaya.
Pilihan ini adalah hal yang tepat.
Aku menggunakan sihir telepati untuk menghubungkan satu sama lain, akan berbahaya jika mereka mendengar suara dewi karena itu untuk sementara aku melarangnya berbicara denganku.
Walaupun dia mengeluh seperti 'Apa kau ingin menutupi hubungan kita? Apa mungkin kau tidak ingin mengakui anakmu sendiri yang berada di dalam kandunganku' apapun yang dia katakan dia terlalu banyak nonton sinetron.
__ADS_1
Menyebut Dewi dengan kata 'Dia' aku benar-benar kurang ajar. Tapi ini semua pemintaan mereka semua.
"Aku dan Alyssa sudah siap."
"Begitu aku dan Naula."
Dengan ini pertarungan dimulai.
"Alyssa buat tornado api, sementara itu Liz coba apa kau bisa membekukan para kaki para penjaga."
"Itu mudah."
"Rencana dimulai sekarang."
Bersamaan perkataanku api raksasa mulai tercipta di sekitar rumah para bangsawan. Di saat yang sama para penjaga mulai berlarian memfokuskan diri mereka pergi ke lokasi tornado tercipta.
Aku bisa melihat semuanya dari ketinggian dengan sihir terbangku.
"Kalian bisa menyelinap sekarang."
"Baik."
Ketika istana sudah terlihat kosong aku turun ke bawah perkarangan depan, kulihat di sana Malifana berdiri dengan gaun mewah serta memakai tiara, dia bersama kedua orang tuanya.
"Siapa? Kenapa kau datang ke rumah kami?"
Saat Malifana memanggil penjaga aku meledakan ketiganya dengan [Hell of the Abyss] menciptakan api raksasa yang jatuh bagaikan sebuah pilar raksasa.
Seketika tepuk tangan terdengar dari arah sampingku yang berasal dari pria bertato sampai ke wajahnya.
"Kau benar-benar membunuh mereka, bagaimana kau bisa tidur di malam hari?"
"Jangan khawatir, orang yang kubunuh sudah tak terhitung jumlahnya.. satu atau dua orang tidak akan merubah apapun," kataku menciptakan pistol di kedua tanganku.
"Benar-benar mengerikan."
__ADS_1
Itu karena aku sudah tahu dari awal, tiga orang yang kuhabisi hanyalah mayat hidup yang dirubah sedemikian rupa agar terlihat mirip seperti apa yang dipikirkan penggunanya.