
Tepat saat kami hendak sampai sebuah pedang besar berputar di udara lalu menukik tajam ke arahku. Aku menciptakan pedang untuk menangkisnya hingga pedang itu berputar ke arah sebaliknya lalu menancap baik di permukaan tanah sebelum akhirnya berdiri di atasnya seorang wanita dengan rambut pirang bertubuh gadis kecil.
"Aku sudah menunggu sejak lama, tapi kau tidak berniat datang menemuiku Aksa."
Yang menatapku dingin adalah orang bernama Nene, sebelumnya dia adalah orang yang melayani penyihir kegelapan namun setahuku dia hanyalah orang yang terobsesi untuk melawan orang kuat.
"Karena belakangan ini aku memiliki banyak urusan aku tidak bisa langsung menemuimu, aku benar-benar minta maaf."
Itu bukanlah sebuah kebohongan, setelah aku mengambil tubuh Noela di labirin Underworld aku harus menjemput Xie Lien di kekaisaran Lihao selanjutnya aku harus menghadapi makhluk bencana yang akan menyerang kota ini, dibanding pertempuran dengannya apa yang ingin kulakukan jauh lebih penting.
Nene menyibak rambut pirangnya sebahu lalu berkata.
"Sepertinya kau terus melindungi dunia ini, apa boleh buat setelah ini mari bertarung."
Malifana menyelaku dengan berjalan beberapa langkah ke depan.
"Kenapa kau terobsesi sekali dengan Aksa, apa kau mengejarnya sampai kemari?"
"Jangan bodoh pendeta, aku hanya murni kebetulan... harusnya dialah yang menepati janjinya padaku."
Aku mengangguk ke arah Malifana yang tampak memucat, dia mungkin berfikir Nene sangat menakutkan tapi itulah kebenarannya.
Aku bertemu dengannya saat melawan Shinji.
__ADS_1
"Aku yang salah, aku benar-benar minta maaf, aku akan menggantikan waktumu yang terbuang."
"Itu yang diharapkan darimu."
"Kau bilang setelah pertarungan, apa maksudnya?"
Aku jelas tidak bisa mengabaikan perkataan Nene barusan, meski dia mengajakku bertarung saat ini aku jelas tidak memiliki pilihan untuk tidak menerimanya. Nene jelas memiliki kepentingan hingga kami bertemu di sini.
"Ada makhluk bencana yang akan datang kemari, dan pedangku sangatlah lapar."
Kami semua mengarahkan tatapan pada pedang yang dia injak. Pedang itu pedang iblis mungkinkah senjata itu memakan iblis lainnya.
"Seperti yang kalian pikirkan pedangku sangat haus dengan daging serta darah monster namun dia paling menyukai daging iblis atau sesuatu yang terkutuk untuk dilahapnya."
Karena inilah dia disebut pengguna pedang iblis terkuat.
"Biar aku simpulkan bahwa kau tahu kura-kura raksasa akan datang kemari."
"Sepertinya kau datang untuk itu juga, walau aku sebelumnya melayani penyihir kegelapan... aku dan dirinya tidak memiliki tujuan yang sama, aku melakukan apapun yang kuinginkan maupun dia melakukan apa yang dia inginkan, kebetulan saja pedangku terasa lapar."
Naula dan juga Liz menunjukan kewaspadaan mereka.
"Aksa, wanita ini sangat mengeringkan bahkan jika dia ingin menghancurkan kota ini kurasa dia bisa melakukannya."
__ADS_1
"Aura yang benar-benar membunuh."
Aku mengangkat bahuku ringan.
"Setelah ini mari bertarung habis-habisan."
"Aah, ngomong-ngomong bukan kita saja yang ada di sini... keluarlah bocah di sana."
Kami mengarahkan pandangan ke arah sudut bangunan di mana seorang pemuda dengan pedang besar di punggungnya keluar dengan senyuman tipis.
"Wah, Nes... kita ketahuan."
"Itu wajar karena kita hanya bersembunyi seperti biasa desu.. harusnya kau telanjang supaya tidak terlihat."
"Jangan mengatakan hal aneh-aneh, telanjang tidak akan membuatku tak terlihat."
Nene menarik pedangnya lalu berlari ke arah pemuda itu dengan mengayunkan pedang besarnya dari atas ke bawah. Sang pemuda berambut putih menahan dengan pedangnya hingga hembuskan angin menyebar ke sekelilingnya.
"Aku benci sekali dengan pedang milikmu itu."
"Sepertinya kau kenal baik dengan Nes, biar aku perkenalkan, namaku Asterio Berlama salam kenal."
"Kau keturunan pedang suci rupanya."
__ADS_1