
Reruntuhan bawah tanah adalah nama yang diberikan para penduduk sekitar untuk tempat ini, selain bangunan yang telah terkikis usia dan dipenuhi tanaman Ivy yang merambat di sekitarnya, di sini juga ada sebuah jalan yang menunjuk ruang bawah tanah yang menjadikan tempat ini sangat misterius.
Aku yakin bahwa penamaan tersebut diambil dari ini.
Kuciptakan api-api kecil di sekeliling kami sebagai penerangan, sebelumnya para elf itu memeriksa reruntuhan ini demi menemukan harta karun namun sayangnya entah itu harta karun atau monster semuanya tidak ada.
Aku menggunakan skill pendeteksiku bersamaan dengan skill penilai, kedua skill ini bisa kugunakan untuk menghindari jebakan.
"Tahan sebentar."
Aku menciptakan batu kecil untuk melemparkannya ke depan jalan kami, bersamaan itu jebakan aktif menembakan panah beserta semburan api dalam kurun waktu cukup lama.
"Kalau terkena itu pasti gawat," kata Malifana sebelum mengikutiku bersama yang lainnya.
Setiap jebakan kami lewati hingga kami sampai di sebuah altar yang menurutku itu sangat luar biasa di sekelilingnya tampak pilar-pilar tinggi disusun sedemikian rupa.
Liz dan Naula menyentuh mereka karena penasaran. Aku memastikan tidak ada jebakan di sini kecuali wanita tembus pandang di sana yang sedang melirik ke arahku, semua orang memekik takut saat wanita itu turun melayang.
"Kalian siapa? Di sini tidak ada harta karun apapun."
"Kami tahu, aku hanya penasaran tentangmu," jawabku ringan.
"Mungkinkah kau ingin tinggal di sini bersamaku."
"Tidak mungkin, aku hanya penasaran bagaimana kau merubah elf itu menjadi naga?"
"Ah, kalian teman mereka... aku paham, karena kalian tahu bahwa seekor naga ada di sini kalian ingin membunuhku dan mengambil koleksi darah nagaku."
Dia sudah mati bagaimana kami membunuhnya.
"Sebenarnya aku sudah banyak kenalan naga."
__ADS_1
"Kau serius? Bagaimana keadaan di luar."
"Para naga ingin menguasai dunia dan kami telah mengalahkan mereka."
"Aaah."
Wanita di depanku memegangi kepalanya frustasi.
"Setelah kematianku malah jadi seperti ini."
"Kematianku? Siapa Anda sebenarnya?" tanya Liz.
"Namaku Amber, aku ratu para naga dan sering disebut naga kuno."
Naula dan Alyssa saling berbisik.
"Dia tidak mirip seperti ratu."
"Aku bisa mendengar kalian, begini-begini aku kenal dengan dewi naga... apa mereka melakukan sesuatu terhadap pendudukku?"
"Tidak juga."
"Syukurlah, jika dewi naga ikut semua pendudukku akan mati."
Aku menyela.
"Jadi kenapa kau ada di sini? Dan juga kau berubah jadi hantu?"
"Sebenarnya Fafnir membunuhku, dia awalnya memintaku untuk datang ke sini tapi tahu-tahu dia menusukku dengan pisau... sebelum aku mati, aku melihat reruntuhan ini dan menyegel rohku di dalamnya dan mengambil darah dari tubuhku yang telah mati, kupikir dia mau menembakku atau sebagainya tapi malah berakhir tragis hiks hiks."
Kurasa seseorang sudah mengubur tubuh Amber.
__ADS_1
"Aku telah membunuh Fafnir kurasa kau bisa tenang untuk itu."
Aku tidak merasa bersimpati dengannya sama sekali. Namun anggota partyku malah lebih perasa dengan mata berkaca-kaca.
"Tunggu kau sama sekali tidak peduli denganku."
"Terserah aku peduli atau tidak terlebih kau ini bisa hidup lagi jika aku mau."
"Jangan PHP, aku tidak mungkin bisa hidup lagi.. jika kau melakukannya aku akan berterima kasih dan melayanimu selama hidupku."
"Aku bisa memindahkan rohmu ke dalam boneka, mau?"
"Tidak, tidak, jangan boneka... bagaimana aku melakukan enak-enak jika tubuhku terbuat dari kayu.. hey tunggu, kenapa kau ingin pergi."
Naga syaraf.
Pantas saja dia mudah dibohongi.
Dia memegangi kakiku hingga aku menghela nafas.
"Aku mengerti."
Sebelumnya aku membuat tubuh manusia dengan darahku di kediaman Dewi Micel kurasa itu saja.
Tubuh itu muncul dari sihir penyimpananku.
"Owh, ia memiliki rambut coklat, tubuh sexy dengan dada besar.. aku suka."
"Aku akan memasukan rohmu ke dalamnya jadi bersiaplah."
"Oke."
__ADS_1
Aku memunculkan lingkaran sihir di keduanya dan roh naga kuno masuk ke dalam tubuh tersebut.