Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 137 : Aturan Malam Hari


__ADS_3

Selesai mandi semua hidangan yang lezat telah disiapkan oleh pemilik kedai penginapan ini, semuanya terlihat menggugah selera.


Karenanya mari berterima kasih pada Naula yang susah-susah mengumpulkan uang dari jarahan peperangan, jika menyangkut uang dia memang bisa diandalkan.


Walaupun apa yang dia lakukan terkesan sedikit salah.


Aku mengambil satu piring daging sapi dengan saus pedas serta beberapa sayuran di sekelilingnya, hampir seluruh piringnya dipenuhi sayuran.


Jika berbicara rekanku yang lain, Sirius sudah menghabiskan 10 piring, Naula 5 piring dan Liz 3 piring, hanya di dunia ini saja kau bisa menemukan banyak wanita seperti ini.


Aku tidak meminum anggur karena itu aku menggantinya dengan air lemon yang jelas ini makan malam yang sangat mewah hingga aku yang lebih dulu menyelesaikannya.


"Kalian makanlah sebanyak yang kalian mau aku akan pergi berkeliling dulu sebentar."


"Baik," ketiganya menjawab di waktu hampir bersamaan


Aku keluar penginapan dan kulihat sepanjang jalan telah sepi, ini aneh karena tidak ada siapapun yang keluar.


Mungkin kota ini menerapkan jam malam sampai pukul sembilan.


Ketika aku hendak berjalan kembali receptionis penginapan menghentikanku.


"Tuan, sebaiknya jangan keluar malam hari, di luar sangat berbahaya."

__ADS_1


"Apa ada sesuatu yang menakutkankan?"


Si receptionis membisikkan sesuatu di telingaku, jujur itu geli.


"Semua orang yang keluar lebih dari jam sembilan malam, mereka menghilang secara mendadak," kataku mengulang kalimat tersebut.


"Benar, menurut desas-desus ada seekor monster yang menyeret mereka ke langit malam lalu lenyap begitu saja, ini sudah terjadi selama puluhan tahun lalu."


"Sungguh sangat lama, maksudmu monster seperti itu?"


Aku menunjuk ke arah salah stau genteng bangunan dimana kulihat sosok burung raksasa bertengger di sana, burung itu berwarna gelap serta bersayap lebar, matanya berwarna merah dan juga mengeluarkan suara khas dari seekor gagak.


Ukurannya cukup besar dimana bisa membuat orang dewasa ketakutan.


"Bersembunyilah di belakangku."


Burung itu terbang untuk mengincarku, dia menukik dengan kecepatan tinggi bersamaan senjata api yang tercipta di tanganku.


"Kalau begitu, selamat tinggal."


Letupan kecil meledakan kepalanya hingga burung itu jatuh di sampingku lalu menghantam bangunan.


"Sepertinya jumlah burungnya tidak hanya satu."

__ADS_1


"Heh, kita akan mati."


"Sebaiknya kau kembali ke penginapan, biar aku yang atasi semuanya."


"Tapi mereka sangat banyak?"


"Ini bukan masalah bagiku, cepat pergi."


Aku menciptakan senjata lain di tangan satunya lagi.


Menembakannya secara berurutan burung-burung hitam yang berkerumun di atas kepalaku jatuh satu persatu begitu saja, kulihat beberapa orang melihat pertempuranku walaupun mereka hanya melihat dari jendela rumah mereka.


Dua ekor burung jatuh menimpa kanal hingga menyemburkan air ke udara, jika aku tidak salah menghitung sudah 10 ekor yang kukalahkan dan jumlahnya bertambah banyak saat menjelang tengah malam.


Door... door... door.


Aku pikir aku sudah membereskan semuanya akan tetapi satu ekor muncul kembali di atas langit, saat cahaya bulan menerpanya itu memberikan nuansa bahwa dia pemimpinnya.


"Tidak sepatutnya seekor burung liar tinggal di kota manusia, akan lebih baik jika kalian pergi saja."


Berapa kali aku mengatakan itu semuanya sia-sia saja, burung itu mengepakkan sayapnya menciptakan hembusan angin kencang yang masih bisa kutahan, aku menggunakan sihir hingga bisa mengikutinya di udara.


Gerakan burung ini sangat cepat hingga sulit diikuti oleh mata biasa, jika begitu bagaimana dengan ini?

__ADS_1


Kuhentikan waktu di sekelilingku selama lima detik, saat terhenti kutembakan beberapa peluru ke arah si burung hingga saat waktu kembali berputar dia menukik jatuh ke bawah.


Dengan ini kota juga bebas dari para burung.


__ADS_2