
Di dalam ruangan yang hanya ada aku dan Lesoria. Nona Serena duduk selagi memilah-milah berkas di tangannya, ekpresinya terlihat kesulitan untuk memberikan kami misi pertama kami.
Mungkin dia mencoba memberikan kami misi yang mudah, betapa pengertiannya itu.
"Ini terlalu mudah, apa ada misi yang lebih sulit lagi."
Kutarik kata-kataku, orang ini sangat kejam.
Lesoria terlihat seolah tidak peduli selagi memegang pedangnya menatap para burung yang sedang membuat sarang dari balik jendela.
"Apa masih lama Nona Serena, aku lelah terus berdiri," aku salut dengan orang ini, dia bisa mengatakan apapun dengan santainya.
"Ini dia, misi pertama kalian."
Aku menerima kertas yang disodorkannya padaku dan Lesoria mengintip dari sampingku.
"Heh, melenyapkan para undead yang menyerang desa di perbatasan kerajaan?"
"Aku yakin kalian dapat melakukannya dengan baik, ngomong-ngomong kenapa kalian selalu bersama?
Lesoria tersenyum bangga selagi membusungkan dadanya.
"Karena kami pasangan kekasih."
"Itu tidak benar, Lesoria hanya mengikutiku sampai urusan kami berdua selesai."
"Muu... Jeanne suka malu-malu."
__ADS_1
~Tatap
Karena ulah gadis ini. Nona Serena menatap kami dengan curiga sementara aku berusaha mengabaikannya lalu menarik tangan Lesoria keluar dari ruangan.
"Sebaiknya jangan mengatakan hal aneh-aneh, candaanmu yang sedikit vulgar akan membuat salah paham."
"Aku hanya mengatakan yang ada di kepalaku."
"Lain kali pikirkan dulu."
Rasanya aku sedang mengasuh seorang adik yang nakal, aku mengambil kuda untuk perjalananku, begitu juga Lesoria hingga dia bisa mengikutiku dari samping.
Perjalanan akan memakan waktu tiga hari dua malam, karena itu aku telah mempersiapkan barang yang dibutuhkan saat berkemah. Tentu urusan memasak diserahkan padaku sementara bahan makanan akan diserahkan pada Lesoria.
"Makanlah."
"Tunggu, kenapa kau mengatakannya seperti pada hewan peliharaan."
"Tidak, insting gadisku sangat kuat."
Aku melihat, selain dadanya apa ada yang membuatnya mirip gadis.
Aku mengalihkan pembicaraan ke arah makanan yang kubuat, biasanya kesatria suci akan bergerak bersama kelompoknya akan tetapi aku dan Lesoria hanya pergi berdua saja.
"Kurasa aku harus menambahkan beberapa sayuran di dalam supnya lain kali."
"Sayuran lagi, tolong tambahkan daging juga."
__ADS_1
"Saat perjalanan pulang aku akan menambahkannya."
"Kau ini."
Sesampainya di desa tersebut semua orang menyambut kami ramah, khususnya kepala desa bertubuh kecil.
"Para undead itu tiba-tiba muncul lalu menyerang kami, syukurlah ada petualang yang mau melindungi kami sampai saat ini."
Ada sekitar tujuh orang diantara mereka dan dua Priest wanita tampak terluka parah, aku mendekati ke arah keduanya lalu mengeluarkan sinar cahaya dari tanganku.
Semua kesatria suci bisa melakukannya hingga kedua Priest itu berhasil disembuhkan.
"Terima kasih banyak," ucap salah satu perwakilan petualang.
"Harusnya kami yang berterima kasih karena kalian sudah berjuang membantu desa ini."
Walau petualang menerima upah dari pekerjaannya, tetap saja menyelamatkan desa sejauh ini suatu percapaian yang tidak mudah, kalau mau mereka bisa saja meninggalkan orang-orang ini begitu saja, akan tetapi mereka memilih tetap bertahan.
Lesoria yang selesai mendengar penjelasan kepala desa berjalan ke arahku.
"Undead-undead ini berasal dari pemakaman yang berada di kota yang sudah ditinggalkan, kurasa ada seseorang yang sengaja membangkitkan mereka seperti Lich atau lainnya."
"Kurasa begitu, normalnya para undead tidak akan meninggalkan wilayah kebangkitan mereka kecuali diperintah oleh seseorang."
Aku beralih ke arah para petualang.
"Kami akan beristirahat sebentar sampai matahari terbenam, sampai saat itu tolong berjaga di desa ini."
__ADS_1
"Kami mengerti."
Aku dan Lesoria pun dibawa oleh kepala desa ke tempat peristirahatan khusus bagi tamu.