Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 116 : Penyihir Dewi Jahat Ariesta


__ADS_3

Walau disebut dengan kedai, mereka masih saja mempunyai bir untuk diminum pelanggannya termasuk guruku.


"Sebuah kehormatan bisa bertemu nona Heliet Ladeosfa di tempat seperti ini, boleh aku meminta tanda tangannya."


"Dengan senang hati."


Setelah menandatangi sapu terbang untuk penyihir muda itu, nona Heliet kembali pada gelasnya, jika diteruskan aku akan berakhir menggendongnya pulang.


"Aksa cepat minum, ini enak loh."


Aku tidak menyukai alkohol karena itu kutolak, walau kota dalam bahaya sepertinya orang-orang terlalu percaya dengan Richard dan guruku.


Tidak ada salahnya memberikan kepercayaan pada kami, hanya saja kami bukanlah Dewa yang bisa menyelamatkan semua orang, aku harap mereka bisa mengerti itu dan sedikit khawatir.


Aku meminum tehku dengan pelan selagi menyaksikan nona Heliet yang mulai berbicara melantur, karena inilah aku tidak suka alkohol.


Aku berpikir kenapa orang-orang melukai dirinya dengan minuman seperti ini? Bagaimana kalau mereka celaka saat perjalanan pulang atau mengganggu orang lain, Sebelum hal itu terjadi aku membawa nona Heliet di punggungku sementara pedangku aku biarkan di punggungnya.


"Aku harap guru bisa sedikit menahan diri."


"Aku sudah menahan diri, aku tidak mabukkan."


Beberapa kali aku menasihatinya dia tidak mau dengar, aku yakin pagi harinya dia akan muntah-muntah.


Aku membaringkan tubuh guruku di ranjang lalu menyelimutinya dengan selimut, dia benar-benar tidak mengenakan bra di balik pakaiannya.


"Aksa, kau tidak tidur bersamaku."


Aku memukul keningnya pelan dengan telapak tanganku.

__ADS_1


"Sakit."


"Guru cepat tidurlah, besok adalah pertarungan sesungguhnya."


"Aku tahu, sesekali kau harus memanjakan gurumu dengan hubungan percintaan."


"Aku tidak mendengar apapun barusan."


"Hummph."


Walau umurnya sudah ratusan tahun, dia tetap seperti gadis nakal pada umumnya. Aku duduk di kursi untuk membaca kembali buku harian Meliana. Sebelumnya aku telah membaca tentang pulau kura-kura di tengah laut sekarang aku ingin membaca keseluruhan buku ini.


Ada satu yang ingin kukatakan tentang Meliana, tenyata dia wanita nakal seperti guruku, murid dan guru ternyata sama saja. Aku berfikir apa aku akan seperti guru nanti? Kuharap tidak.


Cahaya menyilaukan menembus tirai jendela saat aku terbangun di atas meja, ada selimuti di punggungku dan saat aku mengalihkan pandangan ke arah nona Heliet dia sedang berada di kamar mandi.


Aku berdiri lalu mengecek keadaannya.


"Guru baik-baik saja."


"Aku tak apa... Huekk."


"Sebaiknya guru harus berhenti minum."


"Haruskah?"


Aku mengelus punggungnya secara perlahan-lahan, aku bisa saja merapal sihir untuk membuatnya agak baikan hanya saja aku menyimpannya agar dia bisa sedikit belajar.


Kami berdua kembali ke area tengah kamar lalu tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar kami secara tergesa-gesa.

__ADS_1


"Penyihir sudah datang menyerang, kami tidak bisa mengatasinya... Guakh."


Dari pintu yang tertutup itu sebuah tombak menembusnya, ada noda darah dari ujungnya.


"Guru sebaiknya bantu yang lainnya, aku akan mengatasi ini."


"Um."


Aku mengambil pedangku bertepatan nona Heliet keluar dari jendela. Saat para penyihir muncul dari pintu yang di rusaknya, aku sudah mengarahkan senjata pada kepala mereka.


Mereka semua seketika terhenti selanjutnya mereka mati dengan sekali tembakan.


"Sudah waktunya bertarung Sirius, mari pergi."


Tentu saja tidak ada jawaban dari sana.


Aku berlari turun ke arah penginapan, tak hanya para penyihir, binatang iblis dengan empat kaki juga turut ada di tengah kota, sayap mereka yang besar dengan mudah menghancurkan bangunan di sekelilingnya.


Kulihat ada es yang mencuat ke atas jika bukan Richard aku tidak yakin seseorang bisa melakukannya, selagi berlari aku menebas para penyihir yang kulalui sampai seorang penyihir pria berambut merah berdiri di depanku.


"Mau kemana kau? Lawanmu adalah aku."


"Ugh."


Dia menembakan bola api dari tangannya yang mana kutahan dengan pedang milikku hingga aku terlempar ke udara selagi bersalto beberapa kali sebelum mendarat dengan kedua kakiku.


"Yang barusan sangat kuat."


"Akan kuperlihatkan kekuatan dari penyihir pemuja Dewi Jahat Ariesta sesungguhnya."

__ADS_1


__ADS_2