Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 184 : Senjata Api


__ADS_3

Di depan sebuah pintu besar aku menciptakan Revolver berkaliber 22 dengan jumlah peluru 10 buah, senjata ini lebih efisien saat untuk menembak dari jarak dekat.


Walau aku bertujuan untuk menghancurkan seluruh kerajaan di benua ini, aku juga tidak begitu saja mengabaikan kejahatan di depan mataku, aku tidak peduli orang mengatakan aku naif atau pembunuh berdarah dingin.


Yang jelas tujuanku hanya satu.


Merubah dunia ini.


Aku menendang pintu besar itu keras-keras hingga semua orang terdiam melihatku yang menyeringai selagi mengacungkan senjata pada mereka.


Ini adalah tempat pelelangan para budak yang memiliki keterikatan dengan kerajaan yang akan kuhancurkan.


"Apa yang kau lakukan?" teriak salah satu pembawa acara.


"Acara sudah berakhir untuk selamanya."


"Habisi dia."


Salah satu orang berlari ke arahku dengan pedang di tangannya, aku mengelak ke samping lalu menjatuhkannya dengan menendang bagian kakinya, saat dia hendak berdiri kutembak kepalanya hingga meledak.


Aku lupa memberitahukannya, aku menggunakan sihir penguat untuk meningkatan senjata ini. Melihat pria yang langsung terkapar itu semua orang bangsawan yang terlibat mulai berlarian hingga bersamaan itu, mereka mulai ditembaki oleh senapan jarak jauh yang digunakan anggota partyku yang lain.


"Apa-apaan ini semua?"


"Sudah kubilang pertujukan kalian sudah berakhir, go to the hell."


Door.. Door.


"Beberapa orang mati dengan mudah, salah satu orang melompat di atasku selagi mengayunkan pedangnya, sayangnya peluru lebih cepat dibanding pedang.


Door.

__ADS_1


Kemudian aku mengarahkan tanganku ke orang-orang yang tak hentinya menyerangku, aku melompat ke atas lalu menendang tubuh mereka dan mengakhirinya dengan tembakan dari satu orang ke orang lainnya.


"Jangan-jangan kau, Black Death."


Aku menembak pembawa acara ini beberapa kali hingga dia jatuh sebelum melepaskan seluruh budak dan menyuruh mereka keluar.


Tepat saat aku di depan pintu kulemparkan bom hingga dalam seketika bangunan terbakar oleh api.


Liz dan Sirius pun mulai membagikan pakaian serta sejumlah uang yang mereka bisa gunakan.


"Kalian sudah bebas."


"Terima kasih banyak."


Para budak membungkuk beberapa detik lalu pergi secara beramai-ramai, tak lama kemudian Naula dan Marine muncul dengan senapan di dekapannya.


"Senjata ini sangat berat."


"Kerja bagus kalian berdua, berikan senjatanya kembali padaku."


"Ini bukan untuk kami?" ucap Marine kecewa.


"Marine sudah kuberikan pistol dan Naula lebih baik dalam serangan jarak dekat."


"Heh."


Aku memasukan kembali senjata itu dalam sihir penyimpananku sebelum memunculkan mobil untuk mengantarkan kami ke ibukota kerajaan Draco.


Dalam rasi bintang, itu melambangkan seekor naga, apa kerajaan ini bekerja sama dengan para naga?


Aku akan melihatnya secara langsung nanti.

__ADS_1


Aku menginjak pedal gas dan mobil kami melesat di hamparan pandang rumput yang rata. Marine mengeluarkan kepalanya dari jendela selagi berteriak.


"Kita dikejar sesuatu yang sangat besar, aku belum tahu rasanya di makan oleh ular raksasa... aaah, aaah, pasti terasa nikmat."


"Kau tidak akan pernah merasakannya."


Aku membanting stir ke kiri dan ular itu hanya bisa menghancurkan tanah dengan mulutnya, ular itu menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum kembali bergerak.


"Naula ambil kemudi, biar aku yang mengurusnya."


"Baik."


"Biar aku yang mengemudi master."


"Kau tidak akan bisa melakukannya."


"Kejam sekali."


Aku membuka pintu mobil lalu memanjat ke atas mobil yang bergerak tidak terlalu cepat hingga bisa berdiri di atasnya.


"Yo, ular jelek... kau keras kepala sekali, biar aku berikan sebuah penyambutan khusus untukmu."


Aku melemparkan beberapa granat ke arahnya hingga langkahnya terhenti dengan sebuah ledakan besar, tak cukup di sana ular itu membuka mulutnya dan terus mengejar.


Kugunakan sihir terbang untuk menghadapinya secara langsung, kuciptakan palu raksasa yang mana menghantam kepalanya dengan bunyi deburan tanah yang terlempar ke udara.


Di momen itu kuciptakan lingkaran sihir raksasa juga.


"Hell of the Abyss."


Bersamaan itu, pilar api membakarnya hingga berubah gosong dan menjadi debu. Hanya kawah raksasa saja yang tercipta setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2