Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 128 : Perbatasan Elysium


__ADS_3

Setelah meninggalkan kota Antares aku berada di sebuah kota kecil di perbatasan antara kerajaan Elysium. Kota ini tidak terlalu besar ataupun kecil dan seperti biasanya sekelilingnya dilindungi oleh tembok tinggi menjaga semua orang tetap aman dari binatang buas.


Meliana dan Margaret berjalan di depanku sementara aku di belakang bersama Cardina. Kami hanya tinggal sementara di sini untuk berisitirahat setelah itu kami akan pergi ke kerajaan Animalia demi memburu para Oracle Dewa-Dewi jahat beserta pengikut mereka.


Di sela perjalanan berbagai dagangan di tawarkan oleh para pedagang, selain kami bertiga, Meliana yang paling antusias tentang itu, kini di kedua tangannya di penuhi tas belanjaan dengan berbagai makanan.


"Semua makanan ini sangat enak, Margaret kau ingin mencobanya juga?"


"Meliana, sepertinya kau terlalu banyak makan hari ini, apa kau akan baik-baik saja?"


"Jangan khawatir, walau aku banyak makan tubuhku tidak pernah berubah gemuk atau semacamnya."


"Bikin iri," potong Cardina.


Bahkan di dunia lain wanita tetaplah wanita yang selalu merasa gelisah dengan tubuh mereka. Di sisi lain aku lebih penasaran dengan orang yang terus mengikuti kami sejak masuk ke dalam kota.


Meliana berkata ke arahku tanpa menoleh ke belakang.


"Apa boleh aku saja yang mengatasinya?"


"Biarkan saja, dia hanya datang untuk memata-matai kita, aku yakin nanti rekan mereka juga akan muncul."


"Kau lebih suka menangkap ikan besar dibandingkan ikan kecil rupanya."

__ADS_1


Aku mengabaikan perkataan itu lalu memilih penginapan sederhana untuk bermalam kami, aku menyewa dua kamar dimana aku memutuskan untuk tidur bersama Cardina.


Aku menyandarkan empat pedang di dinding, sementara Cardina duduk di depan cermin merapikan rambutnya, dia bertanya ke arahku.


"Bukannya lebih baik kita berpergian dengan wujud nagaku? Aku tidak masalah jika terus dalam wujud seperti itu."


Aku membaringkan tubuhku selagi memeluk punggung kepalaku.


"Naga tidak terlalu diterima baik oleh manusia, kukira jika mereka melihat naga akan muncul kesalahpahaman dan menganggap kita sebagai musuh."


"Aku bisa mengerti itu, tapi kakiku sangat lelah untuk berjalan."


"Aku akan membeli kereta kuda nanti."


Naga bisa mengatur berat tubuh mereka, jika dalam bentuk mereka memiliki berat tonnan tapi jika berubah jadi manusia mereka memiliki berat yang sama dengan manusia pada umumnya jadi tidak masalah apabila mereka naik kereta kuda.


Aku menutup mataku dan saat aku bangun hari sudah gelap, kulihat Cardina sudah tidur nyenyak di tempat tidur sampingku jadi aku membiarkannya lalu keluar dari jendela menuju genteng penginapan bersama empat pedang milikku yang menggantung di pinggangku.


Di luar dugaan bahwa Meliana juga ada di sana.


"Kau baru bangun Ayumi."


Aku tersenyum pahit sebagai balasan lalu melanjutkan.

__ADS_1


"Bagaimana situasinya?"


"Aku melihat sekitar 20 orang telah mengepung tempat ini, mereka sepertinya bukan penyihir dari Oracle jahat, aku pikir mereka sindikat penjualan orang yang mengincar para pelancong, karena kita wanita harganya cukup mahal di pasar gelap."


"Begitu."


"Apa yang kau inginkan dariku?"


"Bunuh saja mereka."


"Kau yakin?" Meliana bertanya dengan ragu.


"Dunia ini sudah rusak, dengan menghabisi mereka, itu akan mengurangi orang-orang jahat di dunia ini."


"Kau memiliki keadilan yang unik, setidaknya aku akan membiarkan satu orang tetap hidup untuk diinterogasi."


"Lakukan sesukamu."


Aku duduk dengan satu lutut di atas, sementara Meliana menciptakan tombak- tombak es di udara yang semakin lama semakin mengecil menyerupai jarum.


"Kurasa dengan ini tidak akan merusak kota ini terlalu banyak."


Dia menembakan satu persatu jarum es itu dengan santai, membunuh mereka tepat di satu organ vital tanpa meninggalkan rasa sakit.

__ADS_1


Bagiku Meliana terlihat seperti pembunuh profesional atau mungkin dia sudah terbiasa.


__ADS_2