
Ini adalah alam Dewi yang selalu kudatangi, atau lebih tepatnya bukan di kediaman Nermala melainkan kediaman Dewi lain bernama Athena, semenjak kematian Richard aku memutuskan untuk berlatih di sini bersama ke tujuh Dewi utama setiap harinya.
Aku tidak tahu apa yang akan mereka minta nanti sebagai balasan, akan tetapi aku tidak ingin mundur dan melihat seseorang mati di depan mataku lagi. Athena memiliki rambut abu metalik yang dibiarkan terurai sampai pinggul, mata berwarna biru laut dan terkesan tatapannya cukup tajam hingga bisa menusukmu. Jika berbicara soal penampilan dia mengenakan pakaian mirip kesatria dengan bagian depan lebih pendek dibanding bagian belakang.
Athena berkata ke arahku.
"Kau sudah siap?"
"Aah."
"Kalau begitu mari pergi."
Hanya dengan sekali jentikkan aku berada di hamparan padang rumput dimana ada ratusan tidak, ribuan pedang yang menancap.
"Di antara pedang-pedang ini ada pedang asli yang mampu menahan senjataku, tugasmu adalah mencarinya dan gunakan untuk melawanku."
"Aku mengerti."
Aku menarik satu pedang terdekat sementara, Athena memunculkan sebuah tombak dimana sisinya adalah palu dan kapak.
__ADS_1
"Mari mulai."
Athena meluncur ke arahku dengan cepat, aku menahan tombaknya dan pedang di tanganku seketika hancur berserakan, jadi ini yang dimaksudkan mencari pedang yang mampu menahan senjatanya.
Aku berguling saat tombak diayunkan menghasilkan ledakan ke udara.
"Athena, kau tidak menahan diri sama sekali."
"Dalam pertarungan apapun kita dituntut untuk serius bahkan jika seseorang mati dalam latihan tidak akan siapapun yang disalahkan."
Dewi ini cukup mengerikan.
Dia mengayunkan tombaknya kembali dan seketika dari hasil ayunannya menciptakan tanah runcing yang melesat tertuju padaku.
"Guakh."
Baru dua ayunan pedangku langsung hancur, melihat celah tersebut aku terlempar kembali ke samping dengan darah menyembur dari mulutku.
"Mau istirahat dulu."
__ADS_1
"Tidak, kita lanjutkan."
Athena tersenyum puas lalu melangkah maju, setiap kali aku menahan atau menyerang seluruh pedangku hancur berserakan, selagi bertarung aku terus mengawasi setiap pedang yang kulalui.
Mereka semua memang berbeda satu sama lain namun tetap saja sulit untuk menemukannya, apa mungkin ada cara lain untuk mengetahuinya.
Aku mengambil pedang yang paling besar, pedang ini mirip seperti yang dipakai karakter Cloud dalam final fantasi VII, saat aku ayunkan itu menciptakan dentingan keras yang mampu mementalkan tubuh Athena beberapa meter ke belakang.
"Jadi ini pedangnya."
"Selamat karena berhasil menemukannya, apa kau menyadari apa yang sedang kuajarkan padamu?"
"Aku disuruh memilih satu pedang dari semua pedang di sini dan setiap kali aku memilih, aku selalu mencari pedang yang ringan, akan tetapi itu mudah hancur tapi saat aku memilih pedang besar aku malah berhasil menyerangmu.. Kupikir Athena melatihku agar fokus dalam memilih senjata."
"Dalam pertempuran seberapa baik pedang yang kau gunakan maka semakin banyak pula peluang yang kau memenangkan, tapi ini hanya pelajaran dasar... Latihan sebenarnya akan dimulai setelah ini dan kau hanya diperbolehkan menggunakan pedang itu," ucap Athena menunjuk pedang yang sedang kuangkat mati-matian.
"Yang benar? Ini sangat berat loh "
"Beratnya sekitar 100 kg sih."
__ADS_1
Aku sendiri bahkan terkejut karena bisa mengayunkannya sekali barusan.
Waktu di alam Dewi dan Dunia fana memiliki perbedaan, meski aku tinggal beberapa bulan itu hanya akan berakhir beberapa hari saja atau lebih saat pulang nanti.