
Liz menciptakan lingkaran sihir di tangannya begitu juga denganku.
"Hell Fire."
"Freezer."
Kedua serangan itu saling berbenturan menciptakan asap dingin ke udara, dari dalam asap itu beberapa tombak es ditembakan padaku dan kugunakan dinding api untuk menahannya, sebelum serangan selanjutnya dilesatkan aku berlari menembus asap, tepat di depanku Liz seketika terkejut sementara aku mengirim tinjuku bergiliran.
Dia menangkisnya selagi menjaga jarak dariku, kugunakan tendangan samping dan dia menahannya dengan punggung tangan menciptakan butiran es di bagian yang disentuhnya.
"Untuk seorang dari luar benua, kau terlalu bersemangat menyelamatkan orang lain."
"Terserah kau bilang apa? Tapi karena ulah-ulah kalian banyak diluar sana yang mendambakan keadilan dengan memilih jalan salah."
Aku mengarahkan tanganku kembali dan berkata.
"Inferno."
Api keluar dari sana setinggi 24 kaki ke udara yang mampu melelahkan seluruh salju di sekelilingnya, tapi tak begitu dengan Liz, dia berhasil menyelimuti dirinya dengan kristal es di sekujur tubuhnya.
Retakan muncul di depannya kemudian seekor naga kristal menyeruak dari dalam lalu meluncur ke arahku selagi membuka rahangnya. Aku meluncur ke samping untuk menghindarinya, saat naga itu meluncur ke langit aku merapalkan sihir terlarang.
"Aku adalah pedang yang membunuh Dewa, membawa dunia ke dalam bencana dan memasukkan semuanya ke dalam neraka kehancuran, sihir terlarang Abelona."
"Tunggu, kenapa kau menggunakan sihir seperti itu?"
Ini adalah sihir yang pernah digunakan oleh Leonardo.
Saat Liz Calista menatap langit ribuan pedang jatuh dari sana layaknya hujan.
"Kau ingin membunuhku?"
Seluruh pedang itu menembus naga kemudian berjatuhan tanpa ampun, Liz menciptakan dinding es di atas kepalanya kendati demikian semuanya hancur tak bersisa.
Saat pedang hampir mengenai kepalanya, pedang itu menghilang dalam sekejap hingga Liz terduduk dengan lutut lemas.
__ADS_1
"Kau sangat mengerikan."
Aku mendekat ke arahnya untuk mengulurkan tangan membantunya berdiri.
"Dengan ini kerajaanmu telah hancur, aku akan memberikan dua pilihan, hidup sebagai rakyat biasa atau ikut denganku."
"Aku harus melihat wajahmu dulu."
Aku melepaskan topengku hingga seketika wajah Liz bersinar terang.
"Ternyata kau sangat tampan, aku akan mengikutimu, tolong injak aku dengan sepatumu."
Mungkinkah, orang ini tipe M.
Tak lama kemudian sebuah pukulan menghantam wajahnya hingga dia meluncur di salju.
"Bukannya itu berlebihan," teriakku pada Sirius.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal seenaknya, hanya aku yang boleh diinjak oleh master."
"Aaah, sakit sekali tapi rasanya mantap, tolong lakukan lagi."
Aku segera menghentikan Sirius.
"Jangan pukul dia lagi."
"Orang ini sangat genit."
Lebih tepatnya semua wanita di dunia ini juga seperti itu.
Aku melanjutkan.
"Sepertinya aku tidak jadi merekrutmu, sampai nanti."
Liz menahan kakiku dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Heh, mana bisa begitu... Aku sudah kehilangan harga diri, paling tidak kau harus membawaku bersamamu, mari buat bayi sebanyak yang kau mau."
"Kau ini pelawak kah."
Aku pasti akan menyesali hal ini nanti.
Keesokan paginya di tempat persembunyian sebelumnya, Naula muncul setelah menyelesaikan tugasnya dan langsung duduk di kursinya.
"Aku sangat lelah."
"Silahkan."
"Terima kasih."
Saat Naula melihat siapa yang memberikan gelasnya, air dingin menyembur dari mulutnya.
"Li-liz Calista, apa-apaan ini Aksa?"
"Dia kini bergabung dengan kita."
"Sejujurnya aku telah membuat kontrak seumur hidup dengan tuan Aksa."
"Kontrak budak, aku hanya bercanda soal merekrutnya bersama kita... Jika begini kota akan tertimbun salju."
Dengan tergesa-gesa Naula menengok ke arah luar untuk memastikan salju tidak turun di sana.
"Masih cerah, kenapa?"
"Itu karena aku jatuh cinta."
"Heeh... maksudmu pada Aksa."
Liz mengangguk mengiyakan.
Saat Liz sedih sekelilingnya akan tertutup salju dan saat dia senang maka cuaca tidak berubah bahkan bekas wilayahnya juga kini telah berubah menjadi musim semi yang indah.
__ADS_1
Aku bisa membayangkan orang-orang sedang menikmati bunga yang indah sekarang.