Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 356 : Seorang Pemenang


__ADS_3

Nene melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian dalamnya, dia seperti tipe orang yang bertarung dengan maksimal saat berhadapan musuh yang lebih kuat.


Aku jelas harus menerima tantangan itu juga semaksimal mungkin.


"Jangan kecewakan aku, Aksa."


"Majulah Nene."


Dia melesat maju dengan pedang yang diayunkan melalui dua tangan, aku menangkisnya dengan dua pedang kembar di tanganku dan itu hancur secara luar biasa, tepat di momen dia mengayunkan kembali pedangnya aku bergerak menghindarinya lalu dengan mempersempit jarak aku menangkap tangannya.


"Apa?"


Ketika aku di alam dewi aku mempelajari hal ini, pendekar pedang harus tahu bagaimana bertarung meski di tangannya tidak memiliki pedang untuk digunakan.


Memusatkan kekuatan pada tangan dan kakiku, aku mengangkat Nene ke udara membantingnya ke bawah dengan detuman keras sebelum menendangnya menjauh dariku, dia melepaskan balok es kemudian tenggelam ke dalam laut.


Pedang miliknya ada di tanganku, kecuali pemilik aslinya pedang ini tidak bisa dipakai oleh orang lain jadi aku melemparkannya jauh ke depan hingga pedang itu menancap baik di sana, Nene yang terjatuh mulai merangkak naik selagi mengambil pedangnya dengan satu tangan.


Penampilannya benar-benar berantakan.


"Yang tadi benar-benar lumayan, tapi sekarang kau tidak memiliki pedang bukannya itu sebuah kerugian besar."


"Jangan khawatirkan itu karena aku memiliki banyak cadangan."

__ADS_1


Di atas langit sebuah lingkaran sihir tercipta yang mana dari mereka menjatuhkan ratusan pedang dengan kualitas terbaik yang kumiliki.


Ini berasal dari sihir penciptaanku.


"Haha ini baru menarik."


Aku memperkokoh pijakan kaki kami berdua dengan es yang baru sebelum kembali melanjutkan pertarungan ini, Nene melompat lalu memberikan tebasannya padaku. Aku pun melakukan hal sama hingga kami berdua saling memberikan luka di sekujur tubuh kami.


Dentrang... dentrang... dentrang.


Pedang yang hancur di tanganku sudah tak terhitung jumlahnya lagi, di sisi lain Nene tampak tersenggal-senggal dengan nafas yang telah menipis.


Aku mengarahkan tangan kiri untuk menciptakan lingkaran sihir raksasa.


Api bagaikan ombak mengerikan menerjang ke arahnya, itu menghabiskan seluruh mana yang kumiliki semacam serangan terakhir.


Nene bersiap dengan teknik untuk menebasnya dari atas ke bawah, dia melakukannya penuh konsentrasi, dan dalam sekejap api yang jelas tidak mungkin diblokir siapapun berhasil dia lalui dengan mudah, sayangnya di saat api itu menerjang aku juga berlari ke depan.


Tebasannya menghantamku juga namun pelindung di tubuhku mampu memperkecil dampaknya.


Aku dengan santai meletakan ujung pedangku di lehernya dan berkata selagi menahan darah yang keluar dari tubuhku.


"Aku yang menang bukan."

__ADS_1


"Kau mengorbankan dirimu?"


"Dibanding mengorbankan, ini hanya mengambil resiko untuk menang."


Nene mengerutkan alisnya merasa tidak senang.


"Harusnya kau membunuhku, aku ini telah banyak membunuh orang lain bahkan berada di sisi penyihir kegelapan."


"Itu benar tapi aku ingin memberikan hukuman yang lebih buruk dari kematian."


Nene sedikit terkejut dan juga penasaran jadi aku melanjutkan.


"Aku ingin kau membayarnya dengan hidup lebih baik di tempatku, kekuatanmu juga sangat dibutuhkan oleh banyak orang."


Mendengar itu wajah Nene meneteskan air mata. Sama seperti Shinji aku pikir Nene berhak mendapatkan kesempatan. Dia mungkin telah menyesal sejak lama dan ingin mati namun dia tidak bisa membunuh dirinya sendiri seolah dia seorang pengecut yang melarikan diri, jelas dia tidak bisa menerimanya.


Karena Itulah Nene berkeliling untuk mencari orang lain yang jauh lebih kuat darinya untuk membunuhnya, itulah penebusan darinya tapi sekarang penebusan yang kuberikan padanya adalah sebuah hal berbeda yang membuatnya harus terus hidup.


Aku ingin sedikit menunjukkan bahwa ada dunia yang lebih baik dibandingkan dunia yang dia lihat selama ini.


Karena inilah aku berjuang sebagai pembunuh di masa lalu. Namun aku telah menyadari satu hal jika aku membunuh hatiku maka apa yang aku raih dengan itu tidak akan baik dan berakhir sia-sia.


Paling tidak aku ingin melihat dan merasakan bagaimana dunia yang telah aku ubah, dengan sebuah senyuman di wajahku.

__ADS_1


__ADS_2