
Di bawah langit sore yang memukau mata, udara kini semakin terasa dingin. Dan diantara itu sepasang burung terlihat terbang memberitahukan waktu yang telah kami habiskan di sini.
Sesuai dugaan, kami tidak bisa mendapatkan apapun dengan hanya duduk dan berharap para belut akan memakan umpannya. Berbeda dengan guruku yang hanya diam frustasi, aku telah mendapatkan banyak ikan meskipun tidak ada belut di dalamnya.
Alyssa tampak memainkan mereka dalam ember.
"Guru sudah waktunya pulang, aku lapar."
"Tolong sebentar lagi muridku sayang... aku yakin hanya beberapa detik lagi pancinganku akan dimakannya."
"Meski kau bilang begitu."
Tak lama kemudian intuisi guruku memang tepat, pancingannya memang ditarik hanya saja malah dia yang terbawa ke danau.
"Uwaahh... Aksa."
"Lepaskan pancingannya."
"Tidak akan, ini mangsaku.. akan kutangkap."
Aku mendesah pelan sementara Alyssa hanya menatap tanpa ekspresi.
"Apa dia akan baik-baik saja?" katanya dan kujawab.
"Entahlah."
Aku berteriak pada guruku.
"Coba gunakan sihir petir untuk membuatnya pingsan."
__ADS_1
"Ide bagus."
Sebuah kilatan petir tampak menyeruak dari dalam danau, bersamaan itu seekor belut raksasa perlahan mengambang di permukaan airnya.
"Aku berhasil."
Guruku telah terbang melayang di atasnya, saat ia hendak mendekat ke arah buruannya, ikan yang sangat besar muncul dan menelan belut yang sebelumnya dia kalahkan.
Bahkan aku tidak bisa bereaksi dengan itu.
"Danau ini memang diisi oleh monster."
Pada akhirnya kami hanya cukup untuk makan malam dengan ikan yang kutangkap, ketika pagi menjelang adalah sebuah perpisahan bagi kami.
Di persimpangan jalan itu Alyssa menundukkan kepalanya ke arah si kakek yang pergi dengan kereta kuda miliknya sementara kami akan pergi dengan kereta kami sendiri untuk melanjutkan perjalanan.
"Mari pergi Alyssa."
Kendali kereta kuserahkan pada nona Heliet, untukku sendiri hanya duduk di sebelahnya selagi memeluk Alyssa di pangkuanku yang sedang membaca buku.
"Bukannya itu curang, aku juga ingin dipeluk oleh Aksa."
"Kau ini sudah dewasa guru, tolong perhatikan jalannya."
"Tidak adil."
Membiarkan protes itu berlalu sebuah kota telah menyambut kedatangan kami, kota indah bernama kota Bostos. Di kota ini setiap rumah dicat berbeda dengan jalanan berwarna-warni yang mempesona mata, orang-orang terlihat duduk di depan rumah mereka dan ada juga yang sekedar duduk di jendela selagi menghisap rokok di mulutnya.
Beberapa pakaian di gantung di setiap gang dan di antara itu anak-anak tampak sedang saling mengejar satu sama lain.
__ADS_1
"Bagaimana menurutmu Alyssa?"
"Ini kota yang indah yang dipenuhi warna pelangi."
"Warna pelangi kah," memang seperti itulah yang terlihat.
Kereta berhenti tepat di depan penginapan, menyewa gudang serta kamar itu berakhir dengan 1 koin emas, aku sempat bertanya kenapa harganya sangat mahal? Hingga hal yang mengejutkan diutarakan oleh receptionis tersebut.
"Sebenarnya kota kami sedang masa kristis, akibat pemilik tanah yang suka berjudi dia malah mengadaikan kota ini kepada orang yang dihutanginya, kami di sini sedang berusaha mengumpulkan banyak uang yang nantinya akan kami pakai untuk pindah, maaf atas ketidaknyamanannya."
"Aku tidak masalah, kuharap guru bisa belajar tentang masalah ini."
"Aku sudah berhenti berjudi," katanya bangga.
Tidak ada hal yang baik dengan melakukan judi.
"Lalu bagaimana tanggapan dari kerajaan Elysium?"
"Aku kurang tahu tapi, mungkin saja pemilik ini akan ditahan sedangkan kotanya akan diambil alih lalu diratakan."
"Diratakan?" kata nona Heliet.
"Orang yang dihutangi itu terkenal sebagai orang jahat, aku yakin dia akan merubah kotanya jadi tempat penjudi ataupun prostitusi."
"Bukannya itu gawat."
Receptionis kembali berkata.
"Kami menyediakan pemandian air panas, kalau mau silahkan gunakan itu dengan gratis."
__ADS_1
"Terima kasih."
Kami naik ke lantai dua dimana kamar kami berada.