Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 166 : Dua Gadis Berbakat


__ADS_3

Di depan sebuah perapian yang terasa hangat, seorang ibu duduk selagi membacakan berbagai kisah pada putrinya yang duduk di pangkuannya.


Putrinya tampak bersemangat.


"Aku juga akan menjadi seorang yang sesuai dengan nama yang diberikan mama."


Sang ibu hanya tersenyum lembut selagi mengelus rambut putrinya.


***


Ibukota Elysium dibagi atas dua distrik utama, pertama adalah distrik kesatria suci yang dipimpin oleh seorang yang disebut Oracle, dan kedua adalah distrik kesatria kerajaan yang dipimpin oleh kesatria raja. Meski memiliki nama organisasi berbeda tujuan mereka tetaplah sama untuk memajukan negara ini.


Selain keduanya ada satu tempat lagi yang paling dianggap penting, itu adalah sebuah Akademi yang tersembunyi di pinggiran kota.


Selagi meletakan koperku di tanah, aku menatap gerbang tinggi di depanku.


Hari ini aku proklamasikan.


"Namaku Jeanne d'Arc, umur 8 tahun, mulai sekarang resmi bersekolah di Akademi kerajaan Elysium."


Seperti yang semua orang tahu, namaku bukanlah berasal dari dunia ini, melainkan pemberian Ibuku dari dunia lain.


Beliau adalah orang yang dipaksa untuk menjadi pahlawan di benua Utara demi mengalahkan orang yang disebut Raja Para Monster, suatu hari ketika ibuku sedang belajar di sekolahnya, ia di panggil ke dunia ini bersama seluruh teman kelasnya oleh kekaisaran Eden, di sana mereka dilatih bertarung namun saat mereka bertarung mereka dibantai habis-habisan.


Syukurlah ibuku bisa melarikan diri hingga bisa tinggal di benua Lemuria, namun sayangnya dia juga harus meninggal setahun lalu karena penyakit.


Entah itu kekaisaran atau Raja Para Monster, aku membenci keduanya.


Ketika aku memikirkan itu, seorang muncul dari sapu terbang, dia melompat ke arahku lalu memelukku dengan memasukkan wajahku ke dalam belahan dadanya.


"Imutnya, jadi kau yang akan menjadi muridku."

__ADS_1


"Tolong lepaskan aku."


"Hentikan Heliet, kau bisa ditutut karena pelecehan," suara lain datang dari belakang orang yang memelukku.


Saat aku berhasil meloloskan diri, aku akhirnya bisa melihat sosok yang dimaksud, seperti yang kudengar salah satunya adalah seorang penyihir terkenal bernama Heliet Ladeosfa.


Dia mengenakan jubah serta topi segitiga layaknya penyihir pada umumnya, rambut hitamnya yang panjang menutupi sebelah matanya, sementara satu lagi adalah seorang kesatria kerajaan bernama Vivia legal, aura yang diperlihatkannya sangat gagah dia mungkin seorang wanita yang terkesan kuat yang pernah aku lihat.


Dia memiliki rambut pirang panjang dengan jepit rambut sebagai hiasan.


"Anu.. apa maksudnya muridmu?" aku bertanya pada Nona Heliet untuk memastikannya.


"Sebenarnya aku ingin meninggalkan tugasku di istana, karena itu, sebagai persyaratan aku harus mengajari dua murid akademi yang dikatakan paling muda yang bisa lulus dalam sejarah."


"Dua murid?" tanyaku memiringkan kepalaku sampai seorang yang terlihat seumuran denganku muncul.


"Wah, apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Imutnya.... imutnya."


"Apa-apaan ini? Apa aku akan dinodai? Aku masih kecil."


Aku menatap gadis kecil itu, dibanding imut dia terlihat ke arah cantik. Rambut merahnya di kepang satu ke belakang yang tampak cocok dengannya.


Walau tangannya kecil, di mampu membawa pedang berwarna emas yang seukuran untuk orang dewasa.


"Perkenalkan namaku Lesoria Floresta yang akan menjadi pahlawan dan menyelamatkan dunia ini."


Dia memiliki impian yang sama denganku atau mungkin sejujurnya sebagian siswa di sini juga memikirkan hal sama.


"Namaku Jeanne d'Arc, salam kenal."

__ADS_1


Nona Heliet tersenyum ke arah kami dan berkata.


"Seperti yang kalian berdua tahu, namaku Heliet Ladeosfa, mulai sekarang kalian menjadi muridku."


Vivia legal hanya tersenyum kecil lalu berjalan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.


Aku mengangkat tanganku.


"Apa itu artinya, kami tidak akan sekelas dengan murid lainnya?"


"Benar sekali, kalian akan dilatih secara khusus, kalian tahu banyak orang yang iri dengan posisi kalian sekarang, jika kami membiarkan kalian berdua bergabung dengan yang lainnya mereka mungkin akan menjahili kalian."


"Jika cuma itu, aku bisa menebas mereka dengan pedangku."


"Kau ini bodoh, jika kita lakukan kita akan dikeluarkan."


"Siapa yang kau panggil bodoh hah? Gadis pirang sok pintar."


"Ngajak berantem, aku tidak takut denganmu."


"Kemarilah akan kutebas dengan pedangku."


"Kalian berdua tolong hentikan, mulai sekarang kalian bersaudara."


"Bersaudara dengan orang ini, mustahil."


"Aku juga merasa mustahil."


Kami berdua saling memalingkan wajah, sementara Nona Heliet hanya menghela nafas panjang.


"Untuk sekarang, aku akan menunjukkan kamar asrama kalian."

__ADS_1


__ADS_2