
Melihat kehancuran yang telah ditimbulkan olehku sepertinya aku berlebihan, aku terkadang lupa bagaimana cara menahan diri tentang kekuatanku.
Untuk sekarang mari cek seberapa besar peningkatanku.
Aku memunculkan beberapa layar menu di depanku di mana itu mencangkup statistik, skill serta beberapa komponen yang kau mainkan di dalam sebuah game RPG player.
Setelah mendengar banyak dunia dari para dewi aku memutuskan untuk membuat sesuatu yang sama, di dunia yang mereka kelola pahlawan memiliki hal seperti ini, itu seperti kau sedang bermain VRMMORPG akan tetapi benar-benar di dunia nyata.
Aku mulai mengecek statusku yang kumiliki, dengan nilai aku bisa tahu seberapa kuat diriku.
Nama Aksa, job Sage, level Max, banyak skill yang kumiliki selain [Abyss Break] aku juga memiliki dua skill tingkat atas yang sangat kuat [Hell of the Abyss] dan juga [Trinity of the Flores]
Trinity of the Flores merupakan sihir es, karena itu aku jarang menggunakannya lagipula kami memiliki Liz yang memiliki kekuatan setara dengan itu.
Skill menengah [Skill penciptaan] [Skill Peniru] dan banyak skill lainnya yang sama sekali tidak aku sadari, yang jelas mencakup seluruh elemen yang ada.
Sementara skill paling bawah aku melihat Skill [Tamer]
Jika tidak salah aku pernah melihat skill yang sama di sebuah komik, di sana pemeran utama menggunakan slime untuk membuatnya menjadi rekan.
Kurasa aku akan sedikit mencobanya. Saat perjalanan kembali aku bertemu dengan para slime yang sedang memakan daun. Tak hanya memakan pakaian kurasa mereka juga suka ini.
Skill Tamer mencakup - skill berkomunikasi dengan monster dan juga skill penjinak.
Mari gunakan keduanya.
"Slime, apa kau mau bergabung denganku."
"Haha siapa kau berani mengajak kami, kami ini slime hebat manusia sepertimu hanya makhluk rendahan, pergi sana jangan ganggu kami sedang makan."
"Benar, benar."
"Daun ini enak."
Wajahku memucat.
Slime ini tidak tahu diri rupanya.
__ADS_1
Mari tinggalnya saja, lagipula aku tidak terlalu memikirkan soal familiar sebagainya.
Aku menghilangkan dinding yang kubuat untuk melindungi penduduk di desa dan mereka tampak tersenyum senang, khususnya soal Vira yang melompat ke arahku.
"Terima kasih banyak."
Aku tidak bisa mengatakan apapun kecuali membalasnya dengan pelukan yang sama.
Masalah di sini sudah selesai sekarang tinggal masalah baru yang harus kami selesaikan.
Sejauh ini kami tidak bisa menemukan keberadaan Malifana meski begitu ada satu hal yang pasti.
Dia pasti pergi ke ibukota Animalia.
***
Beberapa hari setelahnya kami tiba di ibukota, kota ini sangat besar dan juga memiliki arsitektur mirip seperti perbukitan di mana terbagi atas tiga tingkatan.
Tingkatan paling bawah dihuni oleh penduduk biasa, terdiri dari pertokoan dan beberapa hal yang kamu bisa jumpai di kota pada umumnya.
Dan yang ketiga merupakan istana.
Tidak ada orang yang mengetahui ini namun sebenarnya kerajaan ini berada diambang kehancuran.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Malifana.
Seperti biasanya mari sewa penginapan untuk kami berempat.
Di dalam kamar mandi aku membantu mengeramasi Alyssa yang telanjang bulat.
"Lihat Aksa, dadaku sedikit tumbuh aku pasti akan bisa melebihi Lulu."
"Kau tidak harus memiliki sebesar itu."
"Benarkah."
Setelah selesai aku menggosok punggungnya lalu menjatuhkan air membilas seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Sudah selesai, kau terlihat bersih sekarang."
"Hehe sudah lama aku tidak dimanjakan oleh Aksa."
Aku melirik ke arah Liz dan Naula yang menatapku penuh harapan dari samping.
"Kalian juga," kataku lemas yang mendapatkan anggukan keduanya.
Dunia ini benar-benar berbeda dengan dunia lamaku.
Setelah mandi kami berkumpul di dalam kamar untuk membahas langkah selanjutnya.
"Sepertinya Malifana belum datang kemari, karena itu mari tinggal di sini dan ambil beberapa quest di guild."
"Apa kita akan menjalani hidup seperti petualang pada umumnya?" tanya Liz demikian.
"Yah, kita kan petualang."
"Tapi aku tidak merasa begitu."
"Sejujurnya aku juga merasa demikian," tambah Naula.
Jika diingat setiap hal yang kami lakukan memang bukan permintaan guild.
Alyssa memotong.
"Bisakah aku juga ikut bertarung, nona Heliet banyak mengajariku sihir juga."
"Sihir apa yang bisa kau gunakan?"
"Sihir api."
"Itu bagus, kurasa sudah waktunya aku bertemu Dewi Nermala... aku akan pergi dulu sebentar."
"Tolong sampaikan salam untuk Sirius dan Marine juga di sana."
Aku mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan Naula sampai sosokku menghilang seutuhnya.
__ADS_1