
Di ujung tangga beberapa naga telah tumbang tak sadarkan diri dan di antaranya tampak Amber telah babak belur, pakaiannya lusuh dan darah merebas dari wajahnya menetes ke permukaan lantai batu.
Aku bisa mendengar pria di depannya berkata sesuatu.
"Hentikanlah, seberapa banyak kau mencoba kau tidak akan bisa mengalahkanku... uang adalah segalanya di dunia ini, dengan uang aku telah banyak membeli item untuk membantuku dalam pertarungan."
Saat Amber akan roboh aku menangkapnya.
"Kakak."
"Kau tak apa?"
"Um.."
Aku membaringkannya di lantai dan meminta Malifana untuk memberikan sihir penyembuhannya.
Sementara itu pria di depanku menggaruk kepalanya dengan tombak di tangannya.
"Kalian bermunculan seperti hama, bisakah kalian pergi dan membiarkanku untuk bersantai di sini."
"Kami harus pergi ke dalam untuk mengakhiri semuanya, bisakah kau membiarkan kami masuk."
"Aku tidak bisa melakukannya, aku akan dibayar tinggi untuk menjaga tempat ini."
"Aku akan membayarmu lebih tinggi lagi," kataku dengan datar.
Jika dugaanku benar orang ini hanya bertarung demi uang, apa perkataanku bisa mencapainya?
"Berapa banyak?"
"Dua kali lipat yang mereka tawarkan."
Matanya bersinar terang.
"Baiklah, pertama mereka memberikanku 1000 koin emas, apa kau sanggup melakukannya."
Aku memunculkan lubang hitam di langit dan koin emas berjatuhan tanpa henti, bahkan hanya melihatnya itu jelas lebih dari 1000 koin.
__ADS_1
"Oi, oi, kau ini sultan kah... uang sebanyak ini."
"Dengan ini apa kami bisa lewat?"
"Tentu saja."
Aku bisa melihat bahwa semua naga ini sama sekali tidak dibunuh olehnya, kurasa Amber telah berhasil mencegahnya dengan bertarung di garis depan.
Liz berkata padaku dengan nada merajuk.
"Apa Aksa yakin memberikannya uang, kita bisa mengalahkannya dengan sedikit usaha."
"Aku juga berfikiran begitu, lagipula dia sebelumnya pasti membunuh para naga."
"Jika ada jalan mudah kenapa harus bertarung serius."
Saat kami hendak melangkah maju, seorang lagi muncul di belakang pria tombak.
Ia seorang pria dengan pakaian layaknya pelayan. Rambut hitamnya sepanjang bahu dan matanya berwarna merah.
"Apa ini maksudnya Sebastian, kukira raja telah memerintahkanmu untuk melindungi tempat ini."
"Begitukah, bagaimana jika aku juga ikut dengan penawaran?"
"Berapa banyak?"
"Nyawamu."
SRAK.
Kepala pria bernama Sebastian terpenggal ke udara dan jatuh di sisi lain tubuhnya hanya dengan ayunan dari sebuah tangan pria tersebut.
Tombak yang digunakan untuk menahannya hancur berkeping-keping dengan mudahnya.
Naula dan Liz cukup terkejut hingga tak bisa berkata apapun. Malifana dan Amber juga turut mengikuti pandangan kami.
"Maafkan aku tapi kalian akan melawanku sekarang."
__ADS_1
"Bukannya dia rekanmu, kenapa kau membunuhnya?" teriak Naula.
"Rekan, dia hanya alat untuk kami... harganya pun tidak jauh lebih tinggi dari sampah."
"Aksa?"
"Tenanglah kalian berdua, dia bukan manusia sudah sepantasnya dia berkata itu."
"Bukan manusia?"
"Dia iblis."
"Kau menyadarinya juga, biar aku perkenalkan namaku lagi, aku Remis salah satu jenderal yang melayani Raja Iblis Beelzebub, salam kenal."
Aku menyela.
"Kurasa yang ada di dalam Istana itu bukanlah raja iblis bukan."
"Benar sekali, mereka hanyalah sebuah boneka... selama ini akulah yang menciptakan kerajaan ini untuk membuat perpecahan diantara manusia maupun ras lainnya."
Orang-orang dari istana mulai bermunculan dan berjalan layaknya sebuah boneka hidup, termasuk raja di dalamnya.
"Apa kita harus menyelamatkan mereka Aksa?" tanya Naula
"Mereka sudah mati, bunuh saja."
"Tapi..."
"Iblis ini sangat pintar, pantas saja selama ini kita belum mendengar pergerakan mereka.. aku yakin mereka sejak awal berusaha memecah belah setiap ras agar saat raja iblis memulai operasinya, tidak ada yang cukup kuat untuk menghalanginya."
"Tepat sekali."
Aku menodongkan senjata padanya.
Dan beberapa tubuh manusia itu menghalangi dan aku menembaki mereka semua hingga tumbang.
"Menarik, kau bahkan sama sekali tidak berkedip saat membunuh mereka.. apa kau yakin kau ini bukan iblis?"
__ADS_1
"Terserah apa yang ingin kau katakan, aku bisa melihat parasit di dalam tubuh mereka.. begitukah kau mengendalikan mereka."
"Haha benar, benar, kukira saat kalian menyelamatkannya kalian bisa aku tipu dengan cara ini, tapi biarlah aku sendiri yang akan membunuh kalian."