
Yu'er tak henti-hentinya berteriak menyemangatiku dari bawah.
"Go Onii-chan, Go."
Yang mana menjadi pusat perhatian, orang yang menjadi musuhku tanpa sangat marah denganku tanpa alasan jelas.
"Kau memiliki adik sangat manis, tapi kenapa aku tidak memilikinya."
"Kau bisa mencarinya di tempat-tempat hiburan."
"Kau, adik itu haruslah suci Itulah yang di sebut keindahan."
Aku tidak punya waktu untuk omong kosong, dia berlari padaku dan aku menendangnya sekali hingga dia terlempar beberapa ratus meter.
"Pemenangnya Aksa."
Orang-orang lebih kagum dari sebelumnya.
"Sebenarnya siapa pria yang hanya memasang ekspresi datar itu?"
"Entahlah, dia datang dengan Nona Bai, aku yakin kekuatannya tidak bisa diremehkan."
Akhirnya mereka bisa mengerti.
"Kerja bagus Aksa, minum dan duduklah, aku akan memijatmu."
"Terserah kau saja."
__ADS_1
Entah kenapa aku diperlakukan seperti atlit tinju. Aku melirik ke arah pertandingan Pangsit dia bertarung secara brutal melukai musuhnya hingga mereka muntah darah.
Apa semua sekte elang emas seperti itu, aku yakin aku juga membunuh orang yang memiliki kriteria sama waktu di kedai itu.
Dia berhasil melangkah jauh dan aku mengikutinya secara perlahan, aku mengalahkan seluruh ahli bela diri dengan pukulan dan tendangan bahkan aku sama sekali tidak memiliki kesempatan menarik pedangku.
Kini orang-orang menaruh ketakutannya serta kekaguman di waktu secara bersamaan, di luar itu Xie Lien tampak gembira.. dari awal aku datang untuk menyelamatkannya dari pernikahan ini dan membawanya kembali ke kota Antares sebagai petulang dan juga sebagai penghibur yang selalu dia banggakan.
"Sialan kau."
Seorang berlari dengan kekuatan luar biasa namun aku menghentikannya dengan satu jari yang mampu melemparkannya jauh ke luar arena .
"Pemenang Aksa."
Setelah mengalahkan beberapa orang, seperti yang bisa ditebak aku dan Pangsit lah yang berhadapan di babak final.
"Kau mungkin salah mengira aku orangnya," kataku demikian.
"Tidak, aku tidak mungkin salah... cincin Ruo yang kau kenakan berasal dari sekteku."
Aku sepertinya ceroboh dengan memakainya.
"Kau tahu orang itu menjadikannya taruhan sudah jelas aku akan mengambilnya."
"Bacot, aku akan membunuhmu di sini."
Dia melesat maju sebelum wasit memulai pertarungan, tinju besarnya kutahan dengan satu tangan dan ketika aku hendak mengirim tinju balasan dia mundur.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melawanmu dengan setengah-setengah akan kutunjukan seluruh kemampuanku."
Tanah bergetar hingga puing-puing kerikil berterbanganke udara, dia melapisi dirinya dengan energi Qi seperti berubah menjadi super saiya.
Aku juga harus sedikit serius.
Aku menarik pedangku lalu mengisinya dengan energi Qi ku yang terlihat seperti kegelapan.
Dia menerjang ke arahku dengan kecepatan tinggi, membuatku harus mengikuti semua pergerakannya.
"Kenapa? Kenapa? Apa kau kesulitan melawanku?" teriaknya.
Dari bangku penonton semua orang tidak bisa melihat pergerakan kami yang sangat cepat, kami berduel di udara sebelum menjaga jarak satu sama lain.
"Sudah waktunya untuk mengakhiri ini."
"Itu kata-kataku," katanya demikian.
Dia melesat maju dan aku mengayunkan pedangku dari samping.
"Tebasannya tidak akan mencapaiku."
"Siapa bilang aku menggunung bilah."
"Kau?"
Pedang ditanganku berubah menjadi besar mencakup seluruh area pertarungan. Pangsit yang tidak menyadarinya tertebas secara langsung hingga tubuhnya terlempar beberapa ratus meter menembus beberapa bangunan di belakangnya.
__ADS_1
Sesuai peraturan siapapun yang keluar arena dinyatakan kalah.