Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 58 : Sebuah Janji


__ADS_3

Selagi menggendong Margaret di pelukanku, aku membawanya ke sebuah lingkaran sihir yang telah kubuat.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati Margaret, aku akan merubahmu menjadi roh.. walau pembuatan Od terkesan lama aku yakin dalam waktu ratusan tahun kita bisa hidup bersama lagi."


"Meliana?"


"Kalau terjadi sesuatu padaku atau aku meninggal.. aku juga akan menjadi roh sama sepertimu."


Aku meletakkan Margaret dimana dia menjadi pusat lingkaran tersebut lalu melanjutkan.


"Selama itu aku akan menyegelmu di dalam tongkat ini."


"Begitu, sampai saat itu mari hidup bersama lagi."


"Pasti, aku berjanji."


Aku mengaktifkan sihirnya dan kemudian cahaya menyilaukan menelan kami berdua.


Keesokan paginya aku telah mengganti pakaianku dengan jubah penyihir serta toping runcing di atas kepalaku, tak lupa aku juga membawa tongkat di tanganku.


Setelah mengubur semua orang, aku berdiri di depan kedua nisan yang ada di bawah pohon.


"Ayah, ibu, aku berangkat," aku duduk di atas tongkat kemudian terbang menuju kota terdekat.


Angin lembut berhembus menerpa wajahku bersamaan suara-suara dari kicauan burung di bawahku.


Seperti kedua orang tuaku katakan, suatu hari akan ada dimana semua orang bisa saling mengerti satu sama lain entah itu penyihir ataupun manusia. Jika perlu, aku sendiri yang akan mewujudkan mimpi kalian berdua.


Aku mengepalkan tanganku selagi berkata itu di dalam hati.

__ADS_1


Di bawah padang rumput yang landai aku memacu tongkat terbangku dengan kecepatan tinggi, awalnya aku berniat melakukan perjalanan dengan santai hanya saja beberapa lebah tak membiarkanku untuk melakukannya.


Mereka terus saja mengejarku.


"Kenapa kalian mengejarku? Aku sudah minta maaf karena mencuri madu kalian, aaah."


Setelah memasuki hutan aku bersembunyi di balik pepohonan dan setelah mereka pergi aku baru bisa menarik nafas lega. Aku bisa saja menggunakan sihir untuk menyerang mereka hanya saja itu sedikit tidak adil karena akulah yang membuat masalah di sini.


"Nah Margaret, kau baik-baik saja? Kurasa kau baik-baik saja karena kau sebuah tongkat haha."


Tentu saja Margaret tidak bisa mendengar ataupun menjawabku, dia sedang tertidur dalam tongkat ini sampai pengumpulan Od miliknya selesai kendati demikian, aku merasa tidak sendirian lagi, sampai saat itu tiba aku akan terus menunggunya.


Di bawah pepohonan yang rindang aku menyusuri jalanan setapak hingga akhirnya kutemukan sebuah kota di ujung hutan ini.


"Itu dia, dari kota ini aku akan mencari keberadaan para penyihir jahat itu dan menghentikan semuanya... penyihir atau bukan mereka yang jahat akan mendapatkan balasannya."


"Dunia ini benar-benar luas."


***


Setelah sedikit membaca buku jurnal Meliana aku menutupnya kemudian memasukannya ke dalam sihir penyimpananku, sayang sekali bahwa di tempat ini tidak ada buku yang kami cari.


Pero yang mengajak kami ke ruangannya tampak menganggukan kepalanya saat aku menceritakan kisahku juga, tentang guruku serta tongkat yang dimilikinya.


"Tapi kau yakin menyerahkan jurnal yang lebih mirip buku harian itu pada Aksa?" tanya Tiffany.


"Kurasa kau berhak memilikinya. Bagaimana pun kau juga memiliki hubungan dengannya."


"Lebih tepatnya aku mewarisi sihir darinya."

__ADS_1


Sama seperti yang dikatakan Pero ini memang takdir.


Nicol meletakkan teh yang diseduhnya untuk kami.


"Silahkan tuan."


"Terima kasih Nicol."


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Pero.


"Aku memang ingin segera memberitahukan kepada guruku bahwa penyihir Meliana masih hidup akan tetapi, sekarang masih ada yang harus kulakukan."


"Begitu, kau berencana menaiki menara Dewi Freya.. aku hanya bisa mengatakan semoga beruntung."


"Apa kau ingin ikut bersama kami Pero?"


"Tidak, di sini adalah tempatku."


"Begitu."


Keesokan harinya kapal terbang menjemput kami kembali ke kota, tanpa menunggu lagi kami melanjutkan perjalanan dengan mobilku.


"Tuan, bolehkah aku belajar mengendarai mobil?"


"Tidak, kau terlalu kecil untuk bisa mengendarainya.. kakimu mungkin tidak akan sampai," atas pernyataanku Nicol hanya bisa mengembungkan pipinya cemberut.


"Lalu tempat tujuan kita selanjutnya?" tanya Tiffany memotong.


"Seperti petualangan pertama penyihir Meliana, kita akan pergi ke kota menara jam," balasku demikian.

__ADS_1


__ADS_2