
Aku menceritakan apa yang dikatakan pemilik penginapan ini pada Tiffany dan Nicol.
"Ini pasti sulit, jikapun bukunya ada di sana, kita tidak mungkin bisa membelinya dengan harga satu koin emas serta dua koin tembaga."
"Kau sedang membicarakan uangku," kataku pada Tiffany yang tersenyum jahil.
"Aku meninggalkan uangku di penginapan, yang ku punya hanya kedua dada ini, ambilah sebagai pembayaran.. ini aset berhargaku."
Kuharap aku bisa cukup tega melemparnya dari jendela penginapan sekarang. Yang pasti selama perjalanan ini dia tidak mengeluarkan uang sedikitpun.
"Maaf tuan, aku juga tidak memilikinya."
"Tak perlu meminta maaf Nicol, harusnya akulah yang memberikan uang padamu sebagai upah."
"Heh, tapi aku.."
"Tidak ada tapi-tapian, kau bekerja untukku karena itu aku akan membayarmu setelah punya uang."
"Tuan."
Aku tersenyum lembut ke arahnya, jika aku tidak membayar gajinya aku takut dia akan hidup serba kekurangan, aku jelas tidak ingin itu terjadi.
"Lebih baik kita mencoba mencari pekerjaan sebisa mungkin sampai pelelangannya dimulai."
"Itu ide bagus.. aku cocok bekerja di rumah makan atau cafe di sekitar sini."
__ADS_1
Tempat ini terlalu megah, aku tidak yakin Tiffany bisa beradaptasi dengan baik.
Di kota itu kami mulai berpencar, aku sudah melarang Nicol untuk ikut akan tetapi dia menolak hingga ingin membantu kami bekerja, kubiarkan dia ikut bersama Tiffany sedangkan aku berjalan ke arah berlawanan dengan mereka.
"Yo, apa kau bisa memberikanku pekerjaan?" aku bertanya ke arah seorang pria pemilik toko namun dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya kau cari ke tempat lain saja."
Aku menuruti hal yang disarankan olehnya akan tetapi masih belum berhasil hingga akhirnya aku tiba di sebuah masion megah yang berada di dekat menara jam.
Di sela-sela perjalanan itu Greed terkadang suka berkata seenaknya.
"Lebih baik kalau kita merampok saja dan mendapatkan uang sebanyak yang kita mau, itu berlaku untuk bukunya juga."
Sesuai namanya dia benar-benar serakah, mari abaikan itu, dan kembali dengan apa yang akan kulakukan sekarang.
Pria itu duduk di sofa selagi dikelilingi beberapa pelayannya yang montok, kehidupannya jelas terlihat sangat begemerlap bagiku.
"Jadi begitu, kau ingin mengambil pekerjaan ini."
"Benar, aku bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari dijanjikan tapi dengan syarat tolong bayar aku dua kali lipat."
"Sepertinya kau terlihat perlu uang."
Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku perlu uang untuk mengikuti pelelangan karena itu aku hanya mengangguk sebagai jawaban lalu pergi ke menara jam setelah mendapatkan kesepakatan.
__ADS_1
Di sana sebuah menara terlihat jelas dengan jam besar yang terus berputar, setiap jam itu sejajar itu menghasilkan dentungan yang cukup untuk melukai gendang telinga.
Kalau bisa aku harus menyelesaikan ini dalam beberapa menit saja, tak hanya sendirian seorang pelayan juga turut mengawasiku dari belakang.
Bukti memang dibutuhkan agar aku mendapatkan uang yang kuinginkan. Pertama aku akan membersihkan bagian luarnya menggunakan sihir yang selalu kupakai untuk membersihkan kamar guruku.
Aku mengarahkan kedua tanganku, saat hendak menembakan sihir air, si pelayan segera menghentikanku.
"Sebaiknya jangan dilakukan, terlalu banyak air mungkin bisa merusak jam itu sendiri, akan lebih baik kalau mengelapnya dengan kain basah."
"Itu akan sangat lama."
"Lebih baik dibanding merusaknya."
Hal itu pasti merepotkan.
Meski begitu, pada akhirnya aku melakukan apa yang disarankan oleh si pelayan, menggunakan sihirku kain sebanyak 100 buah membersihkannya secara bersamaan.
"Tuan sangat hebat, jarang sekali saya melihat penyihir yang bisa memasok mana dari luar, apa tuan berasal dari akademi sihir?"
"Aku belajar dari guruku."
"Begitukah, beliau mungkin pernah belajar di sana."
"Apa boleh aku tahu tentang akademi itu?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku akan menceritakannya sambil tuan mengerjakan tugas tuan."
Pelayan terkadang cukup ketat dalam urusan seperti ini.