Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 357 : Akhir Pertarungan


__ADS_3

Berlina telah kembali ke kota Oracle sementara aku dan Nene kembali ke daratan, di sana Malifana, Liz dan Naula telah selesai mengalahkan monster yang dikendalikan kura-kura raksasa tersebut.


Aku bisa melihat es dari sihir Liz.


Potongan daging dari sihir Naula.


Dan juga sihir suci berbentuk pedang dari Malifana.


Mereka jelas sudah cukup kuat.


Mereka berbaris di depanku dengan wajah memelas, seperti anak kucing yang meminta diadopsi.


"Kerja bagus."


"Tidak baik Aksa, kau harus mengelus kepala kami satu persatu."


Ini jelas merepotkan tapi tidak bisa aku abaikan jadi aku melakukannya.


"Jadi bagaimana dengan Nene?"


"Ia akan ikut dengan kita ke kota."


"Benar sekali, mulai sekarang aku adalah budak dari pria ini."


"Bu-budak," mereka mengatakannya secara serempak dan aku jelas membantahnya.


Dia hanya akan membantu di kota Oracle sebagai pelayan, hanya itu.


Kata budak terlalu berlebihan.


Ruri dan pelayannya mulai berdatangan, dia melompat ke arahku dan aku merangkulnya.


"Onii-chan sangat hebat, mari buat perayaan untuk kota ini, walau hancur setidaknya semua orang masih hidup."


"Ah tentu."


Bagaimana mengatakannya kebanyakan bangunan dihancurkan oleh anggota partyku, aku jelas meminta maaf untuk itu.


Kami mengadakan perjamuan di kediaman Ruri yang megah di mana para pelayan telah membuat banyak olahan luar biasa untuk kami semua, hampir setengahnya makanan laut jadi itu jarang di dapatkan di kota lain.


Aku teringat sesuatu.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu."


Semua orang memiringkan kepala mereka saat aku berkata demikian dan membawa mereka ke sebuah kolam renang di belakang rumah.

__ADS_1


"Kenapa kita ke sini Onii-chan?"


"Lihat ini."


Aku memunculkan lubang di atas langit dan dari sana jatuh seseorang dengan sirip ikan namun bagian tubuhnya manusia, dia memiliki rambut biru dengan bra yang dibuat dari kerang laut.


"Fuah... akhirnya aku bisa keluar, di sini banyak orang."


"Si-siapa dia?"


Liz berkata.


"Mungkin ini penculikan, tak di sangka Aksa menculik gadis muda.. mungkinkah dia banyak menerima pelecehan."


Aku menarik pipi Liz hingga melebar ke samping.


"Sa-sakit."


Malifana menambahkan.


"Dia seekor duyung, mungkinkah dia terseret gelombang ke sini."


"Lebih tepatnya karena kura-kura raksasa itu," ucap Nene disusul Naula.


"Dia cukup cantik, kita bisa memajang di akuarium dan meminta tiket untuk semua orang yang ingin melihatnya."


Nasibnya cukup tragis.


"Sebelum kembali ke Oracle kami akan mengantarkan dulu Aqua ke rumahnya."


"Onii-chan mau pergi lagi, kupikir Onii-chan bisa lebih lama lagi tinggal di sini."


"Masih banyak yang harus kukerjakan, lain kali aku akan menjemputmu untuk tinggal di kota Oracle aku akan memanjakanmu."


"Fufu aku sangat menantikannya, mandi dengan Onii-chan, tidur dan makan juga semuanya dihabiskan bersama."


Anggota partyku saling berkerumun dalam diskusi.


"Ada sesuatu yang tidak normal di sini."


"Aku juga berfikiran sama."


"Rasanya kita semakin jauh dari apa yang kita inginkan."


"Siscon."

__ADS_1


"Hentikan kalian semua, aku bisa mendengarnya."


Ruri hanya tersenyum kecil.


Aku senang dia bisa seperti ini, aku adalah orang yang membunuh kakaknya, walau itu terpaksa tetap saja aku menanggung tanggung jawab di pundakku karena melakukannya. Aku selalu ingin bisa menggantikan sosoknya untuknya.


Saat aku berfikir demikian Ruri mencium pipiku membuat semua orang terdiam. Dia berkata dengan wajah yang serius.


"Mari hentikan sandiwara kakak adik ini."


"Ruri?"


Apa yang dia katakan.


"Aku pikir aku ingin melangkah lebih jauh dari hanya sekedar itu, Aksa menikahlah denganku mari hidup bersama sebagai suami istri."


Otakku membeku.


"Heeh?" semua orang berteriak sama dan Ruri menunjukan senyuman jahil.


"Dengan begitu aku sudah masuk di haremnya Aksa bukan."


"Soal itu."


Sebelum aku menjawab sekarang Ruri mencuri ciuman bibir, aku tidak bisa berbuat apa-apa selagi menerimanya, semua orang semakin tercengang.


Saat kami saling menjaga jarak ada air liur yang menghubungkan kami.


"Ini sesuatu yang ingin kulakukan sejak lama, aku tahu Aksa selalu merasa bersalah tapi aku sekarang tidak masalah, kakakku sudah meninggal dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya dan aku juga tidak ingin seseorang harus berusaha untuk menjadi dirinya, mulai sekarang rawat aku dan perlakuan aku sebagai wanita dewasa, benar kan."


Ini sangat mengejutkan tapi jika dia bilang begitu aku tidak punya keluhan.


Aku tersenyum selagi menepuk-nepuk kepalanya.


"Sudah kubilang jangan perlakukan aku seorang anak kecil."


Sekilas aku melihat bayangan Richard yang melihatku selagi melambaikan tangannya dan berbalik, mungkin hanya perasaanku.


"Aku juga ingin berciuman dengan Aksa," Liz melompat ke arahku dan aku berusaha mendorongnya.


"Menjauhlah."


"Ini tidak adil."


"Mari lakukan itu di dalam kamar."

__ADS_1


"Aku mengerti kita akan melakukan lebih dari itu."


Aku hanya menghela nafas panjang.


__ADS_2