Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 175 : Serangan Undead


__ADS_3

Menjelang matahari terbenam aku meminta para petualang untuk pergi berisitirahat, dan sisanya aku dan Lesoria yang mengatasinya.


Di bawah sinar oranye itu, aku menancapkan pedangku di tanah selagi berdiri di belakangnya begitu pula Lesoria yang ada di sampingku.


"Kau sangat baik Jeanne, kau sengaja membiarkan para petualang menjaga di siang hari sementara kita mengambil bagian yang sulitnya."


"Ini memang tugas kita sebagai kesatria... yah, walaupun sepertinya para penduduk masih meragukan kita."


"Mau bagaimana lagi, kita ini hanya bocah di


sudut padang mereka."


Saat hari berubah gelap gulita, terompet peperangan di perdengarkan bersama genderang perang.


Berbeda dari sebelumnya para prajurit undead itu menyerang secara penuh, di belakang mereka tampak sebuah tandu tertutup di mana aku yakin bahwa pelakunya ada di sana.


"Lesoria."


"Aah."


Kami berdua menarik pedang secara bersamaan sebelum melesat maju, setiap undead yang kami tebas berubah menjadi abu kemudian roh mereka akan dikirim ke tempat peristirahatan yang lebih baik.


Lesoria mengarahkan tangannya menciptakan lingkaran sihir.


"Fire Bolt."


Dalam sekejap api membakar seperempat dari mereka.

__ADS_1


"Guru sudah bilang kita harus pakai rapalan saat melaksanakan tugas di luar."


"Tapi itu merepotkan."


"Lakukan saja, agar tidak menarik perhatian."


"Apa boleh buat.... wahai api dalam diriku, kuperintahkan kau menuruti permintaanku, buatlah Fire Tornado."


Rapalan yang sembrono.


Sebuah api membumbung tinggi lalu menghempaskan seluruh pasukan undead sampai berserakan.


"Akulah sang Dewi api, Hell Fire."


Rapalannya berubah-ubah tergantung pikirannya sendiri, jika aku... lebih baik menggunakan pedangku saja. Aku memutar pedangku dengan sudut 180° memotong tubuh mereka untuk menghancurkannya.


Pertarungan ini berlanjut selama dua jam tanpa henti sampai akhirnya kami berhasil mengalahkan semuanya, seorang yang dari tadi duduk di tandu keluar.


Seperti yang kami duga dia seorang Lich yang bisa menggunakan sihir pembangkitan lalu mengendalikan mereka semua layaknya boneka, tubuhnya hanya tengkorak yang diselimuti jubah yang compang-camping.


"Selamat datang di kuburan kalian, aku akan membunuh kalian dengan cepat."


Lich memunculkan sabit di kedua tangannya lalu melayang di udara, aku hendak maju namun Lesoria menghalangiku.


"Biar aku saja yang menghadapinya, aku masih belum puas bertarung."


Padahal dia sudah mengamuk dan menjadikan wilayah ini penuh lubang.

__ADS_1


"Terserah kau saja."


"Yos, majulah tengkorak jelek."


"Jangan meremehkanku."


Di bawah sinar rembulan aku menyarungkan kembali pedangku selagi menatap pertarungannya. Lesoria mengayunkan pedangnya dari atas membelah sabit maupun tubuh Lich tersebut.


"Mustahil, bagaimana aku kalah dengan bocah-bocah seperti kalian berdua," di ucapan terakhir tubuhnya langsung hancur berserakan.


Kurasa semuanya sudah selesai, ucapku selagi melirik para penduduk yang bersuka cita di belakangku.


Di depan Nona Serena kami melaporkan tugas kami yang telah selesai. Berbeda dengan guild kami akan dibayar sebulan sekali meskipun kami tidak memiliki pekerjaan.


Terkadang para kesatria yang bertugas di luar ibukota dengan waktu lama mereka akan langsung mengambil gaji tiga bulan ataupun lebih, tapi terkadang ada kesatria juga yang memilih uang bayarannya diberikan langsung pada pihak keluarganya.


Hidup sebagai kesatria bukanlah pilihan buruk walaupun terkadang resikonya lebih tinggi dibandingkan pekerja lainnya. Semua orang yang bergabung di unit kesatria selalu memiliki satu hal di hati mereka.


Itu adalah.


Sebuah kebanggaan.


"Kalau begitu kami pergi."


"Kerja bagus kalian berdua."


Aku membuka pintu menuju masa depan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2