
Aku menciptakan bom sebanyak yang kubutuhkan, kurasa dengan ini juga sudah cukup.
"Micin."
"Namaku Mikan," balasnya lemas.
"Terbanglah menggunakan sapu dan jatuhkan semua benda ini di atas pasirnya."
"Aku tidak masalah, tapi benda apa ini?"
"Ini hanya obat cacing."
"Obat cacing?" katanya ragu.
"Lakukan saja, terbanglah dari bagian ujung pasir sampai ke ujungnya."
"Walau firasatku tidak enak, akan kulakukan."
Dengan membungkusnya dengan kain, Mikan bisa membawanya dengan baik selagi terbang di langit. Dengan sekali aba-aba dia mulai terbang selagi menjatuhkan satu persatu bomnya, saat dia melakukannya para cacing bergantian muncul ke atas hendak memakan Mikan, tentu yang mereka makan malah bom yang dijatuhkan tersebut.
"Uwaaahh... aku akan mati."
"Kau harus cepat."
"Ini mengerikan," teriak Mikan.
Setelah dia berhasil suara ledakan mulai menyahut satu sama lain membuat getaran di tanah, tak hanya materialnya yang terangkat, potongan daging dan darah pun turut menjadi pemandangan kami.
Mikan yang terlihat panik mendaratkan kakinya lalu berteriak ke arahku.
"Apa-apaan barusan? Kau bilang obat cacing tapi malah meledak, coba bayangkan jika aku terlambat menjatuhkan benda tadi."
"Kau juga akan meledak."
"Jangan mengatakannya dengan santai begitu, Kupikir aku akan mati."
"Yah, paling tidak kau berhasil."
__ADS_1
"Oi."
"Dengan ini kau bisa mengantarkan suratmu tanpa perlu terbang jauh lagi."
"Entah kenapa rasanya aku ragu untuk mengucapkan terima kasih."
Atas pernyataan itu aku hanya tersenyum masam.
"Ikutlah denganku untuk mengirim suratnya, setelahnya aku akan mentraktirmu."
"Tentu saja."
Pada akhirnya sepanjang hari itu aku mengikuti Mikan ke setiap rumah untuk memberikan suratnya, ada yang menyambutnya dengan senang ada juga yang marah-marah karena surat yang diterimanya hanyalah peringatan bayar hutang.
Walau begitu, itu cukup menyenangkan bisa melihat berbagai karakter seseorang dalam waktu sehari.
Perkataan itu yang dikatakan Mikan, untukku sendiri lebih suka melihat tipe kakak berdada besar dan tipe loli. Saat aku mengatakannya, wajah Mikan memucat.
"Tak kusangka kau seperti itu Aksa."
"Itulah pesona dari wanita dewasa."
Wanita dewasa apanya?
Sejujurnya aku banyak kenalan yang berumur ratusan tahun dan mereka masih terlihat seperti anak-anak, termasuk Sirius dan guruku.
Anggap saja ini obrolan biasanya yang terjadi diantara pria yang menghabiskan waktunya bersama di bar tengah kota.
"Tolong tambah minumannya."
"Baik."
"Kau yakin tidak meminum wine atau bir, bukannya kedua minuman ini lebih enak dibandingkan susu."
"Ini juga sudah cukup bagiku."
Aku meneguk susu di gelasku.
__ADS_1
"Begitu, kalau begitu aku harus kembali bekerja lagi selalu ada upah lebih jika aku melakukannya."
"Aah, berhati-hatilah."
Mikan memberikan beberapa koin perak pada bartender termasuk pesananku sebelum akhirnya keluar dari bar.
Dia terlihat terlalu memaksakan diri, aku bertanya pada bartender yang dengan santai mengelap gelas pelanggan.
"Nah paman, apa pekerjaan mengirim surat begitu sibuk?"
"Kalau tidak salah mereka berubah sejak dua bulan yang lalu saat perusahaan itu dipindah alihkan kepada orang lain, orang yang memilikinya sekarang sangat menyukai uang dan kehidupan glamor, kau bisa menemukannya setiap hari di rumah bordil atau di bar ini."
"Dia juga suka kemari?" kataku terkejut.
"Di sana orangnya."
"Harusnya kau mengatakan itu dari awal," kataku lemas selagi menatap sosok pria yang dimaksud paman ini.
Ada kemungkinan Mikan langsung pergi karena melihat orang ini masuk.
Dia adalah pria gemuk dengan kumis melingkar serta dikelilingi wanita dan bodyguard. Walau kerajaan sudah tidak ada orang-orang seperti ini selalu memenuhi kota.
Tak lama kemudian terlihat seorang dibawa paksa oleh bodyguardnya lalu dipaksa berlutut di depan kakinya.
"Tolong ampuni aku."
"Hutangmu masih belum dibayar, dan bunganya sudah mencapai lebih dari 1000 koin emas."
"Ibuku sakit, dan aku harus merawatnya."
"Peduli amat, kau meminjam uang dariku, sudah sewajarnya kau membayarnya.. Jika tidak inilah akibat yang akan kau dapatkan."
Pria mesum itu mengambil sebotol anggur di meja, saat ia hendak menghantamkannya ke atas kepalanya aku lebih dulu menembaknya dengan senjata api hingga akhirnya aku dikerumuni para bodyguard.
Sepertinya aku terlibat hal merepotkan lagi.
Aku benar-benar tidak bisa mengabaikan seseorang yang membutuhkan bantuanku terlebih yang ada di depan mataku.
__ADS_1