Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 113 : Perburuan Penyihir Dimulai


__ADS_3

Di luar masion aku telah menyelesaikan beberapa olahan makanan untuk semuanya, di tempat ini cukup banyak orang diantaranya ada Aku, nona Heliet, Alyssa, Noela, Nicol, Sirius, Lulu, Margaret dan yang terakhir ketiga muridku yang berasal dari kerajaan Animalia.


Ini juga merupakan pesta untuk ketiganya yang akan segera meninggalkan tempat ini, selagi membalik daging aku mulai memilah-milah yang matang kemudian menaruhnya pada siapapun orang yang memintanya.


"Enak, sekali."


"Um.."


"Makanlah yang banyak kalian bertiga, aku akan terus memaksa sampai sore."


"Bukannya itu berlebihan, perut kami bisa meledak," kata Lucia, yang kubalas dengan dengan gelengan kepala.


"Kalian harus menghabiskannya."


"Ini malah menjadi seperti penyiksaan," teriak Claudine disusul Lauren.


"Perutku malah sudah kenyang."


"Apa boleh buat, jika kalian tidak bisa menghabiskan semua ini bawa semuanya ke rumah kalian sebagai oleh-oleh."


"Kami mengerti."


Ketika aku melihat ketiganya berbaur dengan lainnya, Lulu mendekat ke arahku dari samping, Lulu adalah staf guild petualang di kota ini. Dia adalah wanita dewasa yang memiliki dada besar, dan jika diperhatikan itu selalu bergoyang saat dia bergerak.

__ADS_1


"Aku akan bantu."


"Terima kasih," balasku demikian.


"Tempat ini akan jadi sepi tanpa mereka bertiga."


"Aku juga berfikir demikian."


Malam harinya setelah pesta perpisahan semua orang berkumpul, ketiga muridku berpamitan pada kami lalu Lauren merapal sihir dan mereka bertiga langsung menghilang.


"Kuharap mereka akan baik-baik saja di sana, mari masuk ke dalam."


Saat mendekati pintu aku melirik ke arah meja yang dijadikan tempat prasmanan, semua olahan laut yang kubuat semuanya sudah habis lebih dulu dan rasanya itu membuatku senang.


Ketika udara semakin hangat kulihat Richard muncul dari kejauhan, seperti biasanya dia mengenakan pakaian kesatria dengan pedang menggantung di pinggangnya, sosoknya gagah, tubuhnya tinggi serta wajahnya yang berkarisma.


Aku tidak berlebih jika mengatakan bahwa dia pria tampan yang cocok sebagai peran protagonis di sebuah novel fantasi.


"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan di sini?"


"Sudah jelas membantumu, harusnya kau mengatakan soal ini pada kami berdua dulu."


"Benar, Richard telah membantuku untuk menghilangkan kutukan, aku juga ingin membantu."

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan kalian berdua dalam hal berbahaya."


"Tak perlu sungkan, aku melakukan hal ini atas keinginanku sendiri, lagipula aku juga ingin mengalahkan para penyihir itu."


"Terima kasih banyak."


"Kalau begitu masuklah dalam kereta, kami sudah menyiapkannya."


Bertepatan saat nona Heliet naik ke dalam kereta Richard memanggilku dari belakang.


Keheningan terasa di antara kami saat angin berhembus menerbangkan rerumputan ke udara.


"Jika aku berubah, bunuhlah aku."


Dasar bodoh.


Mana mungkin aku bisa membunuh orang yang tersenyum seperti itu.


Aku bisa saja mengatakan hal itu padanya, kendati demikian itu hanya akan membuatnya semakin gelisah, karena itu untuk sekarang aku hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Ada beberapa teknik yang bisa kugunakan untuk membunuh makhluk abadi, jika pun aku harus membunuh Richard, itu bukanlah hal sulit namun sayangnya aku lebih ingin menggunakan cara lain jika itu ada.


Selagi memikirkan hal itu, kereta sudah bergerak menyusuri jalanan setapak, dari dalam kereta aku bisa melihat kota Antares yang semakin menjauh serta di atas tembok yang mengelilinginya tampak seseorang berdiri di sana selagi menatap kami.

__ADS_1


Rambutnya yang berwarna pirang berkibar tertiup angin, dia adalah Vivia Legal.


__ADS_2