Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 280 : Kachou Fuugetsu


__ADS_3

Aku sedikit khawatir dengan keadaan semuanya karena itu mari selesaikan ini dengan cepat.


Tanpa mengenakan senjata apapun aku meluncur dengan kecepatan tinggi, menambahkan sedikit sihir di lompatan, aku telah berada di depan wajah Loki yang telah kehilangan kemanusiaannya.


Dengan mengambil wujud seperti itu jelas tidak mungkin bisa mempertahankan kesadarannya, ini hanya mirip sebuah bom bunuh diri yang tidak bisa ditarik mundur lagi.


Dia membuka mulutnya untuk memasukanku ke dalamnya dengan taring penuh jeruji, tentu bagiku itu hanya sebuah peluang untukku.


Aku menopang tangan kanan dengan tangan kiriku menciptakan lingkaran sihir berganda.


"Hell of the Abyss."


Teriakan naga memekakkan telinga saat api menyembur lurus ke dalam mulutnya. Aku menginjak bagian kepala Loki untuk membuatku naik di atas punggungnya.


Setelah api aku menyusulnya dengan sihir air, kemudian petir.


"Water."


"Gyaaaah."


"Thunder."


Dengan kombinasi itu paling tidak bisa memberikan damage cukup kuat, Loki memalingkan wajahnya ke arahku lalu menyerangku dengan ekor hingga aku tersungkur ke tanah.


Itu cukup berbahaya karena tubuh itu bisa meregenerasi kerusakan dengan kecepatan tinggi. Jika demikian, tepat saat pijakanku kembali ke tanah aku berkata.


"Abyss Break."

__ADS_1


Sebuah bongkahan besi jatuh dari langit menimpanya secara berurutan, pertama seberat 1 ton disusul kelipatan lima ton.


Tanah yang diinjak Loki langsung hancur berserakan membuatnya semakin merebas ke dalam tanah.


"Graaaaaah."


Aku menciptakan besi runcing yang menusuknya dari segala arah. Walau regenerasinya cepat tetap saja jika dia dihentikan secara ini akan sulit melakukan apapun.


Loki mulai meronta-ronta tanpa kenal takut, tubuhnya mulai terkoyak membuatnya hanya menjadi semakin menjadi-jadi, aku tidak tahu bagaimana cara dia melakukannya? Hanya saja setiap seranganku kini larut menjadi cairan kemudian masuk ke dalam tubuhnya yang semakin membesar.


"Kau harus menusuk inti kehidupannya jika kau ingin menang."


Suara itu berasal dari seorang gadis yang sama sekali tidak kukenal sebelumya, dia memiliki rambut biru panjang dengan gaun berenda yang muncul secara tiba-tiba di sampingku.


Ekpresinya tampak kekanak-kanakan.


"Namaku Marika Kinoko, aku sama sepertinya... seorang yang disebut pilar suci."


"Dengan kata lain kau komplotannya."


"Yah, aku tidak suka dengan mereka atau kerajaan Hespringer.. aku hanya terjebak di dalamnya."


Tepat saat itu kaki raksasa muncul dari atas hampir mengenaiku, entah aku atau orang bernama Marika turut melompat ke belakang.


"Mengobrol dalam situasi ini tidak bisa dilakukan, aku akan menanyaimu semuanya nanti."


"Semuanya, maksudnya dengan tiga ukuran tubuhku juga."

__ADS_1


Dia memiliki tubuh anak kecil, itu sama sekali tidak bagus untuk mengetahuinya.


"Aku tidak peduli soal itu, pokoknya kita harus mengalahkan makhluk ini lebih dulu."


Marika mengangguk kecil lalu menarik katananya.


"Aku memiliki skill untuk melihat di mana inti kehidupannya berada, itu ada di dadanya.


"Dimengerti."


Tanpa menunggu lagi kami berdua melesat secara bersamaan, Loki meraung lalu melompat dengan dua kaki depan berusaha menginjak kami kembali.


Aku maupun Marika berguling ke samping untuk menghindar sebelum menyerang kembali dengan tebasan.


Satu tangan terpotong dengan mudah lewat pedangku dan satu lagi lewat pedang Marika, kendati demikian tangan itu beregenerasi lebih cepat dari yang kubayangkan.


Itu seperti semakin banyak tubuhnya terpotong maka semakin cepat pula kembali sedia kala, tubuhku terlempar oleh sundulan kepala sementara itu Marika telah memosisikan diri menyamping dengan tangan bersiap pada katana yang tersarung.


Loki berdiri dengan dua kaki bersiap menyerang Marika dengan dua kaki depannya.


Saat itulah aku melihat warna pedangnya berubah.


"Kachou Fuugetsu."


Marika mengayunkan pedangnya hingga dalam sekejap membuat tubuh Loki tak bergerak dengan sayatan setipis kertas di seluruh perutnya terutama dadanya.


Dari bekas tebasan itu bunga sakura bermunculan tak terkendali menyelimutinya lalu menghancurkannya menjadi serpihan kelopak bunga yang berterbangan tertiup angin.

__ADS_1


Ini pertama kalinya aku melihat tebasan pedang seperti itu.


__ADS_2