
Di bibir pantai aku duduk selagi merapihkan senjata yang akan aku gunakan untuk pertarungan ini, tiga hari bukanlah waktu lama hingga dalam sekejap itu berlalu begitu saja.
Liz di sampingku berkata.
"Aksa memiliki kemampuan sihir yang tinggi tapi kenapa malah menggunakan senjata-senjata seperti ini dan juga menggunakan mobil atau sebagainya untuk berpergian."
Itu memang patut dipertanyakan tapi aku memiliki pemikiran berbeda soal hal tersebut.
"Aku hanya ingin sesering mungkin menggunakan alat yang kuketahui di dunia sebelumnya, bukan berarti aku ingin kembali hanya saja itu lebih nyaman saat kau tahu benda apa yang sedang kau gunakan."
Itu mungkin perasaan rumit tapi Liz memilih untuk tidak mengajukan pertanyaan lagi, sementara tirai keheningan telah diturunkan dua anggota lain muncul dengan roti lapis di tangannya yang mana mereka berikan sisanya pada kami.
Malifana berkata selagi menunjuk dua orang yang saling berdebat, keduanya adalah pedang suci atau apalah itu dan yang lain adalah pedang iblis atau apalah itu.
Menurut beberapa hari ini di masa lalu mereka saling membenci, tapi saat itu bukan Asterio melainkan melibatkan ibunya.
Pasti ada cerita dibaliknya dan aku tidak peduli, yang sekarang aku tahu tentang tujuan mereka.
__ADS_1
Nene bilang bahwa pedangnya merasakan lapar dan kura-kura raksasa adalah santapannya sementara Asterio datang untuk mencegah bencana dia semacam pahlawan yang telah ada untuk memenuhi tujuan nenek moyangnya.
Seperti itulah.
Khusus hari ini semua orang telah ditempatkan di belakang kami kendati demikian para pelayan dan penjaga bersama Ruri masih bersiaga tampak menghilangkan kewaspadaan sebagai upaya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Beberapa saat kemudian suara Mai memperingatkan di mana tampak sebuah gelombang tsunami terjadi jauh di pandangan kami, dalam sekejap pasti akan menghantam kota ini dengan mudah.
"Akhirnya dia datang," ucap Nene dan disusul Asterio.
"Aku pasti akan mengalahkannya."
Aku menyerahkan serangan itu untuk diselesaikan oleh Liz, dia berjalan sedekat mungkin dengan air saat tangannya ia sentuhkan di atas permukaan air seluruhnya telah membeku dalam waktu singkat, gelombang setinggi puluhan meter langsung terhenti di udara.
Kekuatan yang luar biasa.
Tapi jelas ini bukan sesuatu yang akan selesai begitu saja dari laut yang membeku seekor makhluk menyeruak keluar menghancurkan es dan berjalan di daratan beku.
__ADS_1
Dia memiliki tubuh raksasa dengan sebuah cangkang menyerupai pulau yang dihiasi bangunan kecil perumahan, berbeda dari yang terakhir kami lihat kura-kura ini jelas lebih agresif dan matanya menunjukan warna merah tajam.
Asterio dan Nene tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan mereka menerjang ke depan seperti hewan buas, aku pikir mereka menjadikan makhluk ini ajang perlombaan siapa yang lebih dulu membunuhnya.
Naula di sisi lain menarik sebuah tombak dari balik roknya yang dia satukan dengan mudah.
"Aku sudah siap," katanya.
"Aku juga."
Aku mengangguk kecil sebelum berlari bersama mereka, memang benar laut ini telah membeku meski begitu pijakan kami tidaklah licin seperti yang kubayangkan.
Penguasaan sihir Liz sangat hebat.
Aku bertanya ke arahnya untuk memastikan.
"Berapa lama es ini bertahan?"
__ADS_1
"Beberapa hari tapi jika aku menambahkan sedikit mana ke dalamnya itu bisa selamanya."
Jadi es ini bisa diperpanjang, untuk sekarang kami tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu es ini pecah.