
Saat senja tiba para monster mulai terlihat bermunculan dari jauh, di bawah sinar oranye aku berdiri saat semua orang hanya menonton dari belakangku.
"Ledakan mereka muridku."
Itu yang kusebut teriakan semangat.
Aku mengulurkan kedua tanganku menciptakan deretan lingkaran sihir sekitar 10 buah yang mana seluruhnya diisi dengan Magic Script.
Dari lingkaran itu menembakan sihir yang berbeda-beda, menghasilkan ledakan " Boom" menciptakan kawah yang besar.
Para monster lenyap sekaligus bersamaan debu asap yang tertiup angin dan hanya meninggalkan teriakan senang dari orang-orang di belakangku, yang paling heboh tentu saja guruku.
Aku hanya bisa tersenyum ke arahnya.
Kami menerima kamar luas yang mana di dalamnya terdapat satu ranjang, aku diam selagi menatap guruku yang lebih dulu berbaring di sana dengan hanya mengenakan Lingerie.
"Cepat tidur di sebelahku Aksa."
Aku sedikit penasaran apa yang dibicarakannya dengan kepala desa tadi namun, pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak berfikir dan berbaring di sebelahnya selagi menyelimuti diriku dengan selimut.
"Selamat malam guru."
"Selamat malam Aksa."
"Kau terlalu dekat guru."
"Hubungan murid guru harus seperti ini."
Ini pertama kalinya aku mendengar hal itu.
__ADS_1
Keesokan paginya aku memutuskan untuk mengunjungi hutan monster, aku berangkat sendirian dan menyuruh guruku untuk tetap tinggal bersama penduduk desa. Setelah terbang selama sekitar dua jam, hutan yang dimaksud terlihat oleh mataku.
Tampak sebuah pohon besar di tengah hutan tersebut yang terlihat bersinar yang mana membuatku sedikit penasaran terlebih pohon itu mencegah para monster untuk hidup tenang di dalam hutan.
Aku mendaratkan kakiku di depannya hingga kulihat seorang wanita memakai gaun terusan tipis berdiri di depan pohon tersebut, ia memiliki rambut hitam panjang dengan sebuah pita berada di belakang kepalanya.
Saat ia menyadari kedatanganku dia langsung masuk ke dalam pohon.
Apa yang bisa kukatakan di situasi ini, dia adalah roh.
Aku mendekati pohon tersebut lalu mengetuknya beberapa kali.
"Pergilah, aku tidak ingin bertemu siapapun."
"Meski kau bilang begitu, keberadaanmu di sini membuat sebagian desa dalam bahaya."
Wanita roh itu keluar dari pohon, atau tepatnya memunculkan bagian kepalanya saja.
"Sayangnya itulah kenyataannya, kau pasti termasuk roh pelindung.. awalnya wilayah ini dihuni para monster kau mungkin telah salah memilih tempat."
Roh itu terkejut selagi mendekatkan wajahnya padaku.
"Terlalu dekat, terlalu dekat."
"Aku tidak tahu.. aku hanya memilih tempat secara acak, bagaimana ini? Aku telah membuat hal merepotkan bagi semua orang."
Kurasa dia bukan roh jahat.
"Aku memiliki ide yang lebih bagus untukmu."
__ADS_1
"Ide?"
"Aah, aku bisa menemukan tempat yang nyaman untukmu."
"Benarkah?"
"Sudah kubilang kau terlalu dekat."
Aku kembali ke desa selagi membawa benih pohon kecil di tanganku, sesampainya di sana para penduduk mengerumuniku.
"Tuan Aksa sudah kembali."
"Aku sudah mengembalikan hutannya sekarang, sebentar lagi para monster akan kembali lagi ke sana, dan kebetulan aku menemukan ini."
Aku menunjukkan benih pohon itu kepada semua orang, karena pohonnya bersinar itu menarik banyak mata.
"Apa itu tuan?" tanya kepala desa.
"Ini adalah pohon ajaib, di dalamnya tinggal seorang roh pelindung... jika membiarkan dia tinggal di sini aku yakin tidak akan ada monster yang akan mendekat."
Suara kekaguman muncul di antara penonton.
"Tergantung pilihan kalian, apa kalian mau menerimanya dan membiarkan roh itu tinggal di sini?"
Tanpa ditanya lagi semua orang pasti mengiyakan, roh pelindung sangatlah diminati banyak orang, hanya untuk membuat mereka bisa tinggal di desa adalah sesuatu yang sulit dilakukan.
"Kami sangat terhormat jika roh pelindung mau tinggal di desa kami."
Aku menanamkan pohon itu di tengah desa, saat aku melakukannya pohon itu tubuh semakin besar sampai sosok roh cantik muncul dari dalamnya membuat semua orang terpesona hingga terdiam.
__ADS_1
"Loh, apa aku membuat kesalahan," katanya imut.
Jika harus dikatakan dia lebih cocok sebagai idol grup saja.