Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 63 : Pedang Hitam (Lust)


__ADS_3

Seorang pria duduk di atas bangunan tinggi selagi memegangi lima buku di tangannya, buku itu adalah buku dosa mematikan yang terdiri dari Wrath, Slot, Envy, Gluttony dan Pride.


Jika berbicara soal penampilannya seluruh tubuhnya jelas dibalut oleh perban.


Tak lama kemudian pandangannya terarah pada seorang pemuda yang berjalan di bawahnya, dia mengenakan mantel hitam di mana orang itu membawa buku yang sama di tangannya.


"Jadi di sana rupanya, Greed dan Lust, aku hanya perlu merebutnya dan akhirnya semua buku akan kumiliki seutuhnya."


Sebelum pemuda itu menengok ke atas pria itu telah menghilang seutuhnya.


***


Greed tertawa saat aku mencoba membuka segel buku Lust dalam perjalanan kami ke penginapan.


"Kau yakin akan membukanya di sini, Lust itu sulit di tangani loh."


"Sepertinya kau mengenalnya dengan baik?"


"Sebelum menjadi buku, kami kebetulan berteman di hutan roh. Lust itu adalah roh wanita yang montok, aku rela mati asal bisa menyentuhnya."


"Jangan katakan obsesi bodohmu padaku."


"Kau ini pasti pria tidak populer."


Kuputuskan untuk berbelok ke gang sepi di mana tidak ada siapapun yang melihatku di sini, aku menggunakan Magic Script dan kemudian sama seperti Greed buku itu bisa berbicara.


"Segelku bisa terlepas... bocah, kau bukan orang biasa bukan."


"Lama tak bertemu Lust?"


"Kau Greed kan?"

__ADS_1


"Aku masih tak biasa dengan nama itu."


"Mau bagaimana lagi, hanya nama itu yang bisa menjelaskan identitas kita sekarang."


"Benar juga."


Entah kenapa rasanya aku diabaikan.


Lust terdengar seperti kakak perempuan nakal yang akan senang menggoda adik laki-lakinya dengan perkataan mesum, sedangkan Greed terdengar seperti pria dewasa kurang ajar yang tak tahu malu yang menganggap dirinya lebih tinggi dari siapapun.


Seperti itulah yang bisa kusimpulkan dari keduanya.


"Lalu kenapa Greed bisa berbentuk aneh begitu?"


"Semuanya berkat pemuda ini, namanya Aksa dia bisa disebut tuanku."


Harusnya kau balas dulu perkataan "Aneh" yang dilontarkannya barusan.


"Aku perlu kekuatan dan kurasa aku memerlukan bantuanmu juga."


"Aku memang termasuk dosa paling kuat di antara ketujuh dosa lainnya.. aku ingin mendengarkan tawaranmu dulu lalu akan kupertimbangkan akan membantumu atau tidak."


"Greed?"


"Sebelum jadi buku dia memang seperti itu? Maafkan saja dia."


Padahal membuatnya bisa berbicara lebih dari cukup bagiku.


Aku diam sejenak untuk memikirkannya lalu berkata.


"Aku hanya memerlukan kemampuan kalian untuk menantang Dewi Naga Freya, setelah selesai aku akan membiarkan kalian bebas serta mengembalikan wujud roh kalian, bukan penawaran buruk bukan?"

__ADS_1


"Kau bisa melakukan?"


"Tentu saja, aku berjanji."


"Baiklah akan kuterima kesepakatannya tapi ngomong-ngomong siapa Dewi Naga Freya?"


Greed mendesah pelan menggantikanku untuk bertanya.


"Apa kau ingat tentang naga besar?"


"Aah, naga yang selalu berada di langit itu."


"Aksa ingin melawan naga itu."


"Kau ini serius? Yang ada kau bisa mati."


"Aku ingin menyelamatkan seseorang, karena itulah aku harus melawannya, untuk sekarang aku akan memindahkan Lust ke benda lain?"


"Kalau begitu boleh aku mengajukan permintaan?"


Atas pernyataan Lust aku mengangguk mengiyakan, berbeda dengan Greed, Lust lebih suka menjadi sebuah pedang hitam yang mana kugantung di atas punggungku.


"Begini lebih baik, baiklah.. selama perjalanan ini kakak akan mengajarkanmu berbagai cara menggoda wanita dan rahasia di balik tubuh mereka yang indah," katanya bersemangat.


"Aku tidak membutuhkan hal itu. Greed katakan sesuatu?"


Aku mengalihkan pertanyaan itu padanya dan ia hanya tertawa keras.


"Memiliki banyak wanita adalah bentuk keserakahan, aku akan setuju saja untuk itu.. kau ini perjaka, bukannya sangat baik jika kau bisa mengambil beberapa wanita untuk dirimu sendiri."


Perkataan seperti itu sama sekali tidak membantu.

__ADS_1


__ADS_2