Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 54 : Meninggalkan Kota


__ADS_3

Aku duduk di atas batu saat Greed yang menyandang kata serakah berbicara padaku.


"Pria itu harus sedikit serakah, kau harus memiliki impianmu yang lebih tinggi."


"Kau ini... hidup damai itu bentuk keserakahan."


"Aku baru dengar itu. Yah, lupakan saja.. jika kau berniat mengumpulkan buku dosa mematikan lainnya kuharap kau bisa lebih dulu menemukan Lust. Kemampuannya bisa memudahkanmu menemukan buku lainnya."


Aku mendesah pelan.


Mengumpulkan buku yang lain juga sudah sangat sulit. Mengingat apa yang telah terjadi di masa lalu aku juga tidak bisa asal bicara menanyakan buku itu pada orang.


Aku bangun dan berjalan ke arah penginapan, tampak beberapa orang terlihat berkerumun di depannya.


"Apa yang mereka lakukan?" kata Greed mendahuluiku.


"Kuharap bukan sesuatu yang berhubungan dengan wanita itu."


Dadanya yang besar juga sudah banyak menarik orang.


Tidak sesuai dengan apa yang kupikirkan ternyata hanya perkelahian orang dewasa saja di sana.


"Sudah dewasa masih saja berkelahi, mereka berdua tak tahu malu."


"Greed bisakah kau tidak mengatakan itu."


Kini kedua orang itu malah menatapku.


"Beraninya kau mengatakan hal itu pada kami."


"Ingin mati hah?"


Sekarang mereka malah menjadi akrab.


"Jadi apa yang membuat kalian bertengkar?" seolah mengingatnya mereka saling mencengkeram kerah kembali.


"Ini semua salahmu."

__ADS_1


"Salahmu."


Mereka melempar perkataan yang sama sampai sosok yang tidak ingin kulihat muncul, dia adalah Tiffany.


"Hoyah, ada apa ribut-ribut di sini?"


"Bukan apa-apa, kami hanya sedang bercanda."


"Begitukah?"


"Tentu saja, mari pergi dari sini."


"Tentu."


Semua orang yang berkerumun akhirnya membubarkan dirinya sendiri meninggalkan Tiffany yang memiringkan kepalanya heran.


"Enak sekali jadi wanita cantik," suara itu berasal dari Greed.


"Apa kau mengatakan sesuatu Aksa?"


Aku menunjukan pistolku padanya.


"Jangan bilang dia buku itu?"


Aku mengangguk mengiyakan sebelum akhirnya kembali ke kamar bersama Tiffany yang terus menempel padaku. Di dalam sana Nicol sedang membersihkan senapannya.


"Sampai kapan kau terus melekat padaku?"


"Ini hanya insting wanita yang selalu ingin dilindungi pria kuat."


"Kukira tidak ada yang bisa sekuatmu Tiffany bahkan jika itu pria."


"Kau ingin mengatakan bahwa tubuhku dipenuhi otot."


Aku mendorong kepalanya menjauh.


"Kita akan pergi besok, sebelum itu apa tidak ada tempat yang ingin kalian berdua kunjungi, kalian hanya tinggal di penginapan sepanjang hari."

__ADS_1


"Kota ini telah hancur, aku tidak tahu harus pergi kemana."


"Nicol sendiri?"


"Beberapa orang terlihat putus asa tuan, karena itu aku hanya ingin tinggal di penginapan ini saja."


Mereka sudah menyadarinya juga.


Apa boleh buat kami memutuskan untuk tetap berada di penginapan, membeli beberapa bahan makanan sebelum akhirnya meninggalkan kota tersebut


Aku mengecek kembali uangku dan tanpa sadar itu hanya tersisa sedikit saja.


"Kau kehabisan uang Aksa? Kalau mau kau bisa meminjam uangku," kata Tiffany selagi merogoh belahan dadanya.


Brankas miliknya ada di sana.


"Tidak, lebih baik kau mulai sekarang membayar apapun dengan uangmu sendiri."


"Membiarkan seorang gadis muda sepertiku membayar sendiri itu adalah tindakan kasar loh."


"Kau ini orang serakah atau hanya orang pelit saja."


Nicol yang memperhatikan dari belakang hanya tertawa kecil.


"Kalian berdua jadi sangat akrab."


"Tidak, tidak, aku tidak mau menjadi akrab dengannya," balasku yang mana memancing Greed turut melontarkan perkataannya.


"Padahal kau menyukainya, kau terus memandangi dadanya sejak tadi."


"Mau bagaimana lagi ukurannya..."


"Jadi tuan seperti itu yah.. ah ya, aku masih belum tumbuh he he."


"Hentikan Nicol kau membuat suasana menjadi suram," teriakku.


Kalau bisa aku ingin menutup mulut Greed, tapi aku tidak tahu mulutnya ada di mana.

__ADS_1


__ADS_2