Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 271 : Sebuah Bentuk


__ADS_3

King slime menyemburkan peluru lendir ke arahku yang kutahan dengan sihir pelindung.


Slime ini berwarna kuning jadi yang kukhawatirkan bahwa orang akan salah mengira jika makhluk ini berada di aliran sungai.


Itu yang kupikirkan.


Lingkaran pelindungku tiba-tiba dihancurkan dengan mudah, bola-bola lendir ini juga menghasilkan asam yang melelehkan pertahanan.


Sebagai gantinya kulemparkan sihir api bersama sihir angin untuk memperbesarnya daya serangannya.


King Slime membuka mulutnya dan memakan apa yang tepat mengarahnya.


Kenapa slime ini begitu kuat, mungkinkah dia titisan raja iblis. Untuk memastikan hal itu kuciptakan pedang sebelum melesat maju.


"Tenang sebentar, kenapa kau begitu bernafsu ingin membunuhku? Apa salahku?"


Dia juga bisa bicara dengan bahasa manusia.


"Tanyakan pada rumput yang bergoyang."


"Kau ini pelawak kah?" teriaknya.


Kuhunuskan pedang secara vertikal, slime itu melompat ke atas dan berubah wujud menjadi seorang wanita berambut pirang lengkap dengan gaun yang menutupi tubuhnya.


"Kau gila."


Dia membalasku dengan tendangan mengenai pergelanganku hingga pedang menancap baik di sisi kiriku.


"Apa kau yang mengendalikan slime ini untuk menyerang penduduk."


"Hah? Memangnya keuntungan apa yang dapat kuterima saat mereka menyerang manusia, lagipula mereka hanya bisa melarutkan pakaian dan lihat itu, mereka hanya makan daun di sana... yah, aku juga slime jadi aku juga suka daun."


Aku mengalihkan pandanganku dan melihat mereka telah menggunduli satu pohon selagi tersenyum bahagia.


"Daun ternyata enak."


"Perutku kenyang."


Aku menghela nafas panjang dan anggota partyku juga muncul dari langit dan mendarat di belakangku.

__ADS_1


"Siapa gadis ini?" tanya Liz.


"Dia slime, kurasa dia bisa meniru tubuh manusia."


"Kurasa itu benar.."


Bahkan dia juga meragukan dirinya.


"Namaku Serilia hmm... mungkin kau bisa memperlakukan seperti manusia, dan jangan menyentuhku."


Anggota partyku mengelilinginya selagi menusuk-nusuk pipinya dengan jari.


"Jadi kenapa kau bersama kumpulan slime ini?" aku menyela.


"Yah, tiba-tiba kawanan ini turun ke desa, kupikir ada apa jadi aku mengikutinya."


"Hah?"


Aku mendekatkan wajahku padanya.


"Terlalu dekat, dekat, yah... kupikir saat orang-orang berlarian, aku akan menyelinap masuk ke dalam rumah dan mencuri beberapa pakaian yang bagus...jadi itu, saat melihatmu kupikir aku ketahuan dan menyerangmu, tapi jika yang membuat slime ini turun aku sama sekali tidak terlibat, apalagi menyerang manusia."


"Jadi kenapa kau turun?"


Saat dia bicara tentu saja hanya aku yang mengerti.


"Apa katanya?" tanya Malifana.


"Dia bilang slime tiba-tiba hilang ingatan dan mereka mengira bahwa dirinya naga."


"Slime sableng, bentuknya juga udah beda mereka hanya setinggi 10 sentimeter loh," teriak Amber marah.


Dia naga sesungguhnya mungkin itu melukai dirinya jika disamakan dengan slime.


"Apa ada kemungkinan bahwa ada seseorang yang melakukannya?"


"Sudah jelas begitu, dan orang itu adalah orang yang ada di sana," Naula berkata seperti seorang detektif profesional, menunjuk pohon yang dipakai untuk bersembunyi.


"Rencanaku telah digagalkan dengan mudah sial."

__ADS_1


Pria itu menerjang ke depan untuk mengahadapi Naula yang siap menerimanya, Naula hanya menggunakan sedikit teknik beladiri untuk membantingnya ke belakang hingga tumbang ke tanah, di saat yang sama anggota partyku yang lain mulai menginjak-injaknya.


"Sakit, sakit, hentikan."


Aku hanya menatap pemandangan itu dengan wajah datar sampai seluruh penduduk desa bermunculan untuk menangkapnya.


Orang ini menggunakan sihir unik untuk mengubah ingatan para slime hingga menyerang manusia, alasannya sederhana.


Ingin melihat para wanita di desa ini telanjang.


Selanjutnya dia hanya akan berada di penjara.


Aku meminta para slime untuk pindah ke tempat yang jauh dari pemukiman.


"Apa kau bilang, kau hanya manusia kau tidak sederajat dengan slime."


"Jika kami ingin mendengarkanmu jadilah slime dulu."


"Kalian yakin di tempat yang jauh itu banyak daun enak."


"Apa?"


Para slime membuka mulutnya.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi, let's go."


"Daun, daun."


Mereka melompat secara bersama-sama.


Melihat ini kepalaku jadi pusing.


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Yah, aku tidak punya tujuan... kalau bisa bolehkah aku ikut dalam perjalananmu, kupikir desa naga akan cocok denganku."


"Aku tidak keberatan, bagaimana denganmu Amber."


"Lebih banyak teman lebih baik."

__ADS_1


Dengan ini rekan perjalanan kami bertambah satu orang.


__ADS_2