Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 267 : Kristal Hitam


__ADS_3

Setelah mengetahui bahwa jamur itu bisa dimakan mereka semua berlomba untuk memasaknya, ada yang menjadikannya sup atau pun sekedar digoreng dengan bumbu yang terbilang sulit ditemukan di tempat lain.


"Semuanya sudah selesai, cepat berbaris."


Kepala desa ini benar-benar bersemangat aku bisa melihat wajah kedua anaknya yang memerah.


"Hey anak muda, ini untukmu?"


"Terima kasih bibi."


"Jangan memanggilku bibi, panggil saja Elin."


"Baiklah Elin."


"Fufu rasanya aku menjadi masih muda."


Aku bisa melihatnya pergi. Kazel yang bersembunyi di balik pohon sedikit demi sedikit mendekat.


"Apa dia sudah pergi?"


"Seperti yang kau lihat, kenapa kau bersembunyi Kazel?"


"Aku ini bukan tipe pria beristri, aku masih belum siap terlebih aku langsung punya dua anak besar."


"Itu salahmu sendiri."


Anggota partyku muncul dengan berbagai makanan yang mereka bawa.


"Mari makan bersama," ucap Malifana mengangguk mengiyakan.


Jika Kazel tahu siapa sebenarnya dia, dia tidak akan berani menggodanya.


"Malifana sangat imut, Aksa izinkan dia bergabung denganku... kau sudah memiliki Liz dan Naula."

__ADS_1


"Tidak, aku ingin ikut bersama Aksa kemanapun dia pergi."


Jun dan Hilda akan tinggal sedikit lama karena itu kami akan kembali untuk menukarkan kristal yang kami peroleh di guild.


Anggota staf guild yang ditugaskan untuk menilai tampak terkejut, walau begitu mereka menghargai kristal yang kami dapatkan dengan harga tinggi.


Kazel akan mengambil bayaran Jun dan Hilda juga, bagaimana pun setelah ini kami harus pergi ke wilayah naga untuk mengantarkan Amber.


Aku berbisik pada Lulu untuk menanyakan soal kristal, katanya kristal itu akan dibawa ke ibukota dan diserahkan pada kesatria suci untuk dimurnikan sebelum diolah menjadi senjata yang kuat.


"Kristal ini juga sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja, mungkin dengan ini sebuah bencana telah dicegah sebelum terjadi," tambah Lulu.


Karena itu harganya tinggi.


Sebelum hendak pergi Lulu memegangi lenganku.


"Aksa sudah banyak memberikan jasa terhadap guild maupun kerajaan, aku ingin memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih."


"Kau tidak perlu seserius itu, lagipula aku dibayar."


"Lulu."


Aku diseret ke ruangan pribadinya yang bernuansa penuh ketenangan, di sini ia mendorongku ke sofa sebelum melepaskan bagian atas dari pakaiannya.


"Aksa hanya harus diam, dan sisanya serahkan padaku."


"Tunggu Lulu, ini sedikit berlebihan."


"Tidak ada yang namanya berlebih, kau tahu."


Dia berada di atasku sekarang.


Liz, Naula dan Malifana yang izin ke kamar mandi menerobos masuk.

__ADS_1


"Hoho kau mencuri kesempatan dari kami, itu tidak akan terjadi."


"Benar sekali."


Lulu membuang wajahnya dengan sedikit decapan lidah.


"Cih.. pengganggu."


"Lulu?" aku memangilnya, ini sesuatu yang jarang yang kulihat darinya.


"Mari bergantian, biar aku lebih dulu."


Ketiga orang itu bukannya menyelamatkanku mereka malah mengarahkan jempol padanya.


"Oke."


Oke pala lu.


Kenapa wanita di dunia ini begitu mengerikan? Jika aku tidak menikahi mereka aku yakin aku sampai kapanpun tidak akan hidup tenang.


"Ah, Aksa melarikan diri."


Aku menggunakan sihir Shinji untuk menembus ke sofa lalu lantai hingga akhirnya keluar di pusat kota.


Sekarang aku tidak bisa langsung pulang.


Kukira aku akan jalan-jalan sebentar, saat aku berkata demikian seseorang melompat ke arahku dengan pedang di tangannya.


Dia mengirim tusukan keras dan aku menangkisnya dengan pedang yang kuciptakan dari tanganku hingga memercikan kembang api di udara.


"Pertahanan Aksa memang masih kuat seperti sebelumnya, kurasa giliranku untuk meminta waktu sekarang."


Yang berdiri di depanku adalah gadis dengan empat katana di pinggangnya.

__ADS_1


Dia adalah Ayumi seorang yang dikirim ke dunia lain sama sepertiku dan sekaligus orang yang telah menyelamatkanku saat masih kecil.


__ADS_2