Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 144 : Perangkap


__ADS_3

Saat aku dan Sirius keluar dari kota, jauh di depanku berdiri seorang pria yang kukenal sedang tersenyum dengan pedang di tangannya, dari ujungnya tampak sebuah noda darah yang menetes dari sana.


"Mikan."


"Akhirnya kau datang juga Aksa."


Sebuah suara lain memangilku dari samping, suara itu berasal dari si penjaga kota yang tergeletak dengan darah mengucur dari dadanya.


"Larilah."


Dia terluka parah namun syukurlah pedang itu tidak mengincar organ vitalnya, melainkan melewatinya ke samping.


"Sirius tunggu di sini saja, biar aku yang menghadapi Mikan sendirian."


"....Um."


Aku berjalan mendekat ke arah Mikan yang dengan santai mengarahkan pedangnya ke arahku.


"Aku adalah salah satu empat jenderal dari kerajaan Cygnus, namaku Mikan."


Berbeda dari sebelumnya dia mengenakan kemeja hitam dengan celana panjang polos. Sosoknya tidak terlihat cupu karena dia membuang kacamata di wajahnya.

__ADS_1


Selama ini dia hanya mata-mata yang berperan sama seperti Anastasia.


Mikan meluncur ke depanku dengan kecepatan tinggi, dia menghunuskan pedangnya di udara dan aku menarik setengah tubuhku ke bawah demi menghindarinya sebelum memunculkan pedang di tanganku untuk menahan serangan selanjutnya.


"Kudengar beberapa orang kuat dari kota menghilang secara tiba-tiba, jadi semua itu ulahmu," kataku demikian.


"Tepat sekali, aku meminta mereka membantuku untuk pergi ke hutan waktu itu dan dari sana aku melempar mereka masuk ke dalam para cacing."


Kami saling menjaga jarak satu sama lain, aku mengarahkan tangan kiriku dan memanggil lingkaran sihir melewati jari-jariku.


"Fire Bolt."


Dari rapalannya, itu menciptakan semburan api bagaikan sebuah gelombang ombak, aku mengeluarkan sihir air sebagai balasan hingga kedua elemen itu saling bertubrukan lalu menguap menjadi asap ke udara.


Dari asap itu Mikan meluncur ke arahku, aku hendak menerjang ke depan sayangnya kaki dan pergelangan tanganku terikat rantai yang tiba-tiba muncul dalam tanah. Mikan mengayunkan pedangnya sejajar leherku siap menebas dan Sirius lebih dulu menahannya dengan tangan kosong.


"Master terlalu menahan diri, orang ini sangat kuat loh."


Sebuah sayap besi keluar dari punggung Sirius memaksa Mikan untuk menjaga jarak puluhan meter ke belakang, sayap itu terbuat dari berbagai roda yang berputar mengikuti arus jam.


"Ka-kau, siapa kau sebenarnya?"

__ADS_1


Sayap putih hanya digunakan ketika Sirius bersikap santai sementara sayap besi di keluarkan ketika dia dalam mode bertarung.


Dengan mengarahkan tangannya Sirius menciptakan meriam raksasa yang seluruhnya terbuat dari besi.


Aku menghancurkan seluruh rantai yang mengikatku dengan mudahnya.


"Jika begini kerajaan Cygnus tidak akan datang kemari, aku hanya menahan diri agar mereka berfikir tidak ada orang kuat lagi di kota ini," kataku tenang.


"Jangan khawatir master, aku akan membunuhnya."


Ketika Mikan berubah ketakutan dia merapalkan sihir untuk melawan balik sayangnya saat meriam ditembakkan semuanya sudah berakhir.


DOOOM!


BAAAAAMM.


Sebuah kawah raksasa tercipta tepat dimana Mikan sebelumnya berdiri, akibat ledakan itu seluruh kota berguncang hebat layaknya gempa bumi sementara tubuh musuh kami lenyap tak tersisa.


Dengan ini pekerjaanku malah bertambah banyak, aku memperbaiki daratan akibat ledakan barusan kemudian menanamkan beberapa peledak di dalam tanah untuk menghabisi pasukan yang nantinya menyerang tempat ini.


Aku hanya perlu menekan tombolnya saat musuh melewatinya, dengan ini tidak perlu takut ada seseorang yang tidak sengaja menginjaknya.

__ADS_1


__ADS_2