
Di antara gunung itu ada jalan setapak yang kulalui dengan motorku, dan di belakangku seekor ular raksasa tengah mengejarku.
Baru saja sampai di benua barat aku harus mengalami hal seperti ini, memacu kendaraanku dengan kecepatan tinggi hanya akan berakhir sia-sia faktanya kecepatan ular itu berada di luar kata masuk akal.
Aku memarkirkan motorku lalu dengan terpaksa melawannya satu lawan satu menggunakan pistol di satu tanganku, aku menembakinya seraya menghindar dari serangan balasannya.
"Percuma."
Brak.
Sekali lagi ular tersebut menghancurkan tanah yang sebelumnya kupijak, apa boleh buat walau akan sulit mengendarai motorku lagi ke negara terdekat, itu lebih baik daripada mati.
Dihitungan ketiga setelah menghindar aku menggunakan," Hell of the Abyss," yang mana meledakan seluruh tubuhnya tanpa bersisa, aku duduk di tanah dengan nafas terengah-engah.
Hanya ada sedikit mana yang bisa kugunakan sekarang karenanya aku membaringkan tubuhku di rumput selagi mencoba beristirahat sejenak.
Saat jam 06:00 aku kembali ke alam Dewi.
Di sana aku menemukan diriku bersama Dewi Nermala yang hanya duduk di sampingku selagi memainkan bunga di tangannya, setelah merangkainya menjadi satu ia dengan senang menaruhnya di kepalaku.
"Cocok sekali bukan," katanya yang mana membuatku membalasnya dengan senyuman, sebelum aku berangkat ke benua barat Dewi Nermala lah yang memberikanku sihir penciptaan katanya ini hanya sedikit hal yang bisa dilakukan padaku sebagai bonus telah mau dikirim ke dunia itu.
__ADS_1
Tidak seperti dunia lainnya yang memiliki banyak Dewi yang mengawasi dunia tersebut, dunia yang kutinggali saat ini hanya dikelola oleh Dewi Nermala jadi tidak mungkin ada Dewa atau Dewi yang lain di sana alasannya sederhana, dunia itu adalah dunia yang ditinggalkan oleh mereka.
Kejahatan di sana sudah tidak bisa diselamatkan hingga berada di level jauh di atas bahaya, jika bukan karena Dewi Nermala dunia itu sudah sejak lama hancur namun baginya sebuah harapan selalu ada untuk merubahnya.
Karena itulah dia sering mengirim beberapa orang untuk mengambil job pahlawan meskipun sampai sekarang tidak ada hasil yang dapat diperoleh. Untukku sendiri di perbolehkan untuk memilih antara hidup santai atau ikut berjuang dalam peperangan yang terjadi.
Dan jawabanku adalah ingin hidup santai.
Itu adalah jawaban pertama yang kuambil tapi sekarang karena banyak hal yang ingin kulindungi aku pun memutuskan untuk mengambil pilihan kedua.
Dewi Nermala duduk lalu memintakan untuk berbaring di pangkuannya.
"Ini pelayanan Dewi, Aksa tidak boleh menolaknya atau hukuman ilahi akan menimpamu."
"Bukannya itu berlebihan."
Aku pun akhirnya membaringkan kepalaku di pangkuannya yang nyaman, saat aku mencoba melihat ekspresi dari Dewi Nermala, itu benar-benar terhalang oleh dua gunung yang besar.
"Apa ada yang sedang Aksa pikirkan?"
Dewi bisa melihat kegelisahan.
__ADS_1
"Aku hanya sedikit merasa bersalah pada Dewi?"
"Untuk apa?"
"Soal rencana menggunakan kitab itu."
Dewi Nermala tertawa kecil lalu melanjutkan selagi mengelus kepalaku.
"Maaf aku tertawa, Aksa berfikir bahwa aku akan memusuhimu bukan begitu."
"Ya, aku tidak bisa membayangkan bahwa Dewi Nermala membenciku."
"Itu tidak akan terjadi, bagiku kekuatan tidak ada yang jahat atau baik melainkan bagaimana seseorang menggunakannya, entah itu untuk tujuan yang baik atau jahat."
"Dewi."
"Sudah waktunya bangun, jangan lakukan hal yang ceroboh."
Saat aku membuka mataku, langit telah berubah gelap gulita di mana hanya ada cahaya bulan sebagai penerangan.
Aku sudah tidur jadi sulit untuk kembali tidur lagi, pada akhirnya kuputuskan untuk kembali menaiki motorku lalu melanjutkan kembali perjalananku ke negara terdekat.
__ADS_1