Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 218 : Obrolan Di Guild


__ADS_3

Aroma bir menyeruak dari sekitarku tatkala aku duduk di kursi yang kupilih bersama anggota partyku.


Bagaimana pun ini adalah bar yang dikelola guild karena itu saat malam hari orang-orang lebih suka berpesta dengan minuman alkohol untuk menghilangkan kelelahan.


Aku memesan minuman tanpa alkohol serta beberapa tusuk sate yang kunikmati sendiri sementara Naula dan Liz memesan bir dan beberapa potong daging panggang.


Adapun untuk Malifana ia memesan salad yang terkesan murah.


Aku bertanya padanya.


"Apa kau tidak menyukai daging?"


"Tidak, aku hanya saja ingin berhemat."


"Kau tidak perlu menahan diri belilah yang kau sukai biar aku yang membayarnya."


"Tidak, tidak, itu akan membuatku tidak enak... tolong jangan pikirkan aku."


Meski dia bilang begitu.


Sebelumnya aku memang sedikit penasaran karena itu aku berbisik diam-diam.


"Kalau boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kerajaan Animalia? Apa Malifana sebenarnya bukan petualang."


"Aku petualang, kenapa memangnya?"


"Kau lebih terlihat seperti bangsawan bahkan di satu sisi kau terlihat seperti seorang putri raja."


Naula dan Liz mengangguk atas pernyataanku hingga wajah Malifana memerah.


"Aku tidak seperti itu, aku hanya seorang pendeta biasa."


"Benarkah?"


Ketika aku meragukannya Lulu muncul dengan sepiring besar daging panggang yang dia taruh di depan kami semua.

__ADS_1


"Ini gratis, setiap meja petualang mendapatkan satu loh."


Aku melihat sekeliling dan itu benar.


"Syukurlah, ambilah Malifana, ini untukmu semua."


"Benar, perutku sudah kenyang."


"Begitu juga denganku," tambah Liz demikian.


"Itu... terima kasih banyak, aku akan memakannya."


Lulu memiringkan kepalanya selagi berkedip ke arahku.


Dia sengaja melakukannya untuk Malifana.


Kupikir aku akan mengambil quest dengan bayaran paling tinggi mulai sekarang. Ketika aku bersantai di kamarku di mansion Lulu mengetuk pintu dan aku memperbolehkannya masuk.


Dia mengenakan baju tidur berupa gaun putih dan membawa bantal sendiri.


"Kupikir yang kau katakan hanya candaan, kau benar-benar datang."


"Wanita dewasa tidak akan menarik perkataannya."


Aku ingin melarikan diri saja tapi tidak enak juga karena terkadang Ayumi, guruku ataupun semua orang di mansion ini memang kadang ke tempatku hanya untuk tidur bersama.


Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan tapi aku selalu menjaga semuanya masih tetap dalam batasan tertentu.


Aku mengambil tempat tidur seperti biasanya dan Lulu tidur di sampingku.


"Menurutku ada yang mencurigakan tentang Malifana," ucap Lulu.


"Aku juga merasa begitu, mungkin saja dia punya alasan yang tidak bisa dikatakan pada siapapun."


Lulu menopang kepalanya dengan siku selagi melirik ke arahku.

__ADS_1


"Aku diam-diam menyelidiki latar belakang Malifana."


"Yah, kau tidak boleh melakukan itu... dia mungkin merasa tidak nyaman."


"Selagi tidak ketahuan oke."


"Jadi apa yang kau dapatkan?"


"Aksa ingin tahu?"


"Tidak juga."


Aku segera menutup mataku.


"Heh, jangan tidur.. mari mengobrol lebih lama."


"Aku sudah ngantuk, besok saja."


Aku bisa merasakan Lulu sedang mengembungkan pipinya cemberut kepadaku.


Keesokan paginya di guild aku bersama anggota partyku sedang memilih-milih quest seperti apa yang akan kami ambil.


Malifana menunjuk ke arahku selagi bertanya.


"Aksa di wajahmu banyak bekas lipstik, apa yang terjadi?"


"Entahlah, saat aku bangun tanda itu sudah berada di sana.. aku sudah mencoba menghapusnya tapi sulit dihilangkan "


Ketiga anggota partyku segera melirik Lulu yang sedang membawa kertas di tangannya, merasakan tatapan itu dia terjatuh.


"Ah, hari ini aku ceroboh."


"Jangan khawatir nona Lulu, Kazel yang tampan ini akan membantu."


Karena terkejut Lulu meninju wajah Kazel hingga tubuhnya terlempar menabrak dinding.

__ADS_1


"Kenapa?" teriak Kazel sampai sosoknya menghilang.


__ADS_2