Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 265 : Permintaan Dari Dua Elf


__ADS_3

Pagi berikutnya aku berjalan bersama anggota partyku untuk pergi ke guild, tak hanya mereka di kiriku melekat Lulu dan di sisi lain adalah Liz.


Aku tidak berlebih jika mengatakan bahwa dada mereka juga sama besarnya.


Diapit dua wanita cantik di sampingmu benar-benar sangat mencolok. Bahkan di kota pemula orang-orang cenderung menaruh kebencian padaku.


"Gue pengen gebukin tuh orang, siapa orang itu?"


"Kau tidak tahu bro, dia adalah Raja Harem yang mengambil kesucian wanita di kota ini.... hampir 90 persen loh."


"Lalu 10 persen lagi?"


"Mereka anak-anak."


"Paling tidak dia bukan lolicon, karena aku yang lolicon."


Sebaiknya aku melaporkan hal ini dulu pada Jeanne dan kebetulan dia berdiri di toko donat dan aku berbisik padanya hingga ia segera mengejar mereka.


"Tunggu kalian."


"Uwaah lari."


Vivia dan Alma yang baru keluar tampak kebingungan.


Terkadang ada orang yang seenaknya saja.


Sesampainya di guild Lulu kembali ke perkerjaannya, sementara kami menuju kursi yang telah diduduki kelompok yang terdiri dari Jun, Hilda dan Kazel.


Misi kali ini diberikan oleh kedua elf tersebut.


"Terima kasih sudah mau membantu Aksa."


"Bukan masalah, jadi apa yang membuat kalian sangat resah."


Jun dan Hilda saling menatap satu sama lain lalu mengangguk kecil dalam diam sebelum beralih kembali padaku.


Jun menjelaskan.


"Sebenarnya desa kami sudah lama terjebak, tiba-tiba saja guncangan gempa bumi terjadi, dan membuat sebuah retakan jurang yang memisahkannya dengan daratan lain.. kami bisa saja membuat jembatan atau meminta penyihir yang bisa terbang untuk memindahkannya hanya saja di jurang itu ada monster yang akan langsung menyerang jika kami mendekat, Kazel bilang Aksa sangat bisa diandalkan dengan ini."


"Aku bisa mengerti apa yang terjadi, lebih baik kita bergegas untuk menyelamatkan desamu."


Dan begitulah kami tiba di lokasi yang dimaksud, aku bisa melihat desa setelah jurang mengelilinginya.

__ADS_1


Dibanding itu aku penasaran monster seperti apa yang telah membuat ini.


Malifana menggunakan bola bercahaya untuk menjatuhkannya ke dasar.


"Dalam sekali."


Liz dan Naula melemparkan sesuatu ke dalam sana dan dalam sekejap puluhan cacing raksasa keluar dari dalamnya menargetkan kami sebagai incaran.


"Kalian berdua?"


"Kami hanya penasaran saja tae-hee."


Mereka terlalu cepat memangil para monster tersebut.


Kazel mendorong tubuhnya ke depan bersama Jun yang menarik dua pedang yang berubah ukuran.


Di saat yang sama Malifana maupun Hilda menggunakan sihir pendukung mereka.


Aku masih diam untuk mengawasinya sementara Liz dan Naula turun menyerang.


Kazel mengayunkan pedang dua tangannya memotong tubuh itu dengan mudah.


"Aksa kau tidak menyerang mereka? Kami butuh bantuan di sini."


"Binatang iblis katamu."


Walau setiap tubuh raksasa itu dipotong mereka akan muncul dua kali lipat.


"Sesuai yang diharapkan dari Aksa kau bisa menyimpulkan hal itu."


Binatang iblis tercipta dari perasaan negatif yang bercampur dengan mana liar, biasanya mereka berbentuk kristal hitam yang berada di dalam tubuhnya namun binatang ini sangat berbeda.


Aku berkata pada Liz dan Naula.


"Liz tarik seluruh cacing ke udara dan Naula buat tubuh mereka hancur berkeping-keping."


"Laksanakan."


"Kazel dan Jun mundur dulu."


"Kami mengerti."


Liz menciptakan sayap es di punggungnya lalu membuat tangan raksasa dari es untuk menariknya ke udara.

__ADS_1


Saat cacing terbang Naula mengulurkan tangannya menciptakan lingkaran sihir dengan jumlah mengagumkan.


"Aku selalu ingin melakukan ini, Wind Blade."


Pedang udara bermunculan memotong seluruh bagian mereka menjadi potongan terkecil, kugunakan mata pendeteksi untuk mencari keberadaan kristal hitam itu.


Dan hasilnya.


"Sudah kuduga, kalian berdua mundur."


Tepat saat mereka melakukannya cacing yang lebih banyak bermunculan.


Hilda menyeringai pahit.


"Tidak ada habisnya."


"Masalahnya ada di dasar jurang ini, biasanya binatang iblis menyimpan kristal di dalam tubuhnya, sepertinya monster ini malah sebaliknya."


"Apa kita akan turun ke jurang?" tanya Naula.


"Hanya aku saja, kalian terus lawan cacing-cacing ini."


"Baik."


"Oi jangan nekat."


Aku membiarkan perkataan Kazel itu berlalu begitu saja sementara aku menerobos masuk ke para cacing yang mulai keluar dari jurang.


Kuarahkan tanganku dan berkata.


"Hell of the Abyss."


Api bagaikan gelombang raksasa menyapu mereka sementara aku melompat dari atas jatuh ke bawah kendati demikian para cacing masih bermunculan.


"Kita serahkan pada Aksa, sampai saat itu mari terus habisi mereka, Hilda."


"Protection Heal."


"Aku juga... Healing."


"Dengan ini aku menjadi bersemangat, Liz Naula ikuti aku."


"Apa kita harus mengikutinya?"

__ADS_1


"Untuk kali ini menurut saja."


__ADS_2