Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 354 : Kekalahan Kura-Kura Raksasa


__ADS_3

Bola itu ditembakan menyerupai sebuah laser raksasa, awalnya satu kemudian berpecah menjadi 10 sekaligus.


Satu diantaranya berhasil aku dan Nene tahan sementara sisanya meluncur langsung ke arah kota.


Aku sudah bisa menduganya, di atas kota tampak seorang wanita iblis berdiri dengan anggun dimana ia menciptakan lingkaran sihir di udara lalu menahan semua itu dengan kekuatannya yang besar.


Dia adalah Berlina, di manapun aku pergi dia pasti bisa menemukanku dengan sihir teleportasinya.


[Terima kasih Berlina, kau bisa pergi sekarang]


[Aku ingin melihat pertarungan ini, bisa aku tetap tinggal]


[Aku tidak keberatan]


Nene berkata ke arahku dengan senyuman di wajahnya.


"Bukannya itu iblis tingkat atas."


"Dia pelayanku jadi abaikan saja."


"Kau cukup berani juga."


Kura-kura raksasa kembali membuka mulutnya, berbeda dari sebelumnya jelas aku tidak akan membiarkannya begitu saja, aku menghentakan kaki dan sebuah es menyeruak dari bawah kepalanya yang mana menusuknya dari segala arah.


Nene hendak berlari untuk menebasnya namun tiba-tiba saja sesuatu terjadi, kura-kura itu lebih kesakitan dari yang terlihat dan bersamaan itu tubuhnya terbelah oleh sebuah tebasan dan aku bisa melihat Asterio muncul dari tubuhnya. Seluruh tubuhnya terlihat penuh darah sementara tangannya masih memegang senjata.

__ADS_1


"Nyaris saja, kukira aku akan mati."


Nene memberikan komentar pedas dari mulutnya..


"Sudah kuduga orang itu tidak bisa mati, aku melihat tubuhnya terkoyak-koyak saat dia dimakan."


Di dunia ini terlalu banyak makhluk abadi.


Tidak, mungkin saja sihirnya lebih ke regenerasi atau pemulihan.


Nene berjalan dengan pedang yang telah berubah menyerupai iblis, pedang itu memakan daging kura-kura sebagaimana makhluk hidup pada umumnya.


Ada pecahan bola kristal di dalam tubuh kura-kura tersebut, jadi ini yang menjadi inti kehidupannya.


"Tugasku di sini selesai, mari pergi Nes."


"Tunggu sebentar, sebenarnya apa tujuanmu?"


"Tujuan?"


Asterio menaikan bahunya ringan.


"Tidak ada yang istimewa, aku hanya ingin membunuh makhluk bencana dan kemudian melawan penyihir kegelapan, sebelumnya orang tuaku tidak bisa mengalahkannya karena itu akulah yang akan menyelesaikan tugasnya, sampai nanti... karena ada aku, kau tidak perlu repot-repot memikirkan soal makhluk bencana, sisanya akan kuhabisi sendiri."


Berlina melayang ke dekatku.

__ADS_1


"Dia cukup sombong juga, pantas menjadi iblis sepertiku."


"Dia manusia," kataku ringan.


Dan aku melihat ke arah Nene yang sudah siap dengan pedangnya.


"Karena pedangku sudah selesai makan maka giliran kita yang bertarung."


Nene melesat ke arahku dengan cepat, Berlina melayang naik dan membiarkanku bertarung dengannya secara langsung. Aku memunculkan pedang ke tanganku untuk menahan pedangnya secara langsung.


Ini adalah janji karena itu lebih baik menepatinya sekarang juga.


Orang bernama Asterio sepertinya sudah pergi jadi tidak perlu menahan diri lagi, dia adalah orang yang misterius sebelum aku tahu tujuannya aku tetap harus mewaspadainya.


Nene memutar pedangnya dan aku menarik tubuhku ke belakang sebelum bersalto untuk menjaga jarak.


Kuarahkan tanganku di masing-masing menciptakan sihir api.


"Fire Bolt."


Bola api dengan jumlah cukup banyak mengepung Nene dari segala arah, pedang di tangannya dengan mudah menangkisnya sebelum melompat ke arahku.


Aku menahan dengan pedang dan tubuhku terpental jatuh ke bongkahan es sebelum tenggelam di air.


Aku melesat naik dan kembali mendarat di permukaan es.

__ADS_1


"Hell of the Abyss," kataku menggunakan dua tangan.


Api menyembur dari sana menelan keseluruhan tubuh Nene tanpa memberikan waktu untuk mengelak dari serangan, dia hanya mengibaskan pedangnya dan api menghilang begitu saja.


__ADS_2