Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 82 : Bos Lantai


__ADS_3

Dari semua itu, ujian sebenarnya baru saja dimulai. Kecuali kelompok kami, tidak ada lagi yang berani melanjutkan penjelajah.


Di dalam bagian terdalam dungeon terdapat sebuah gerbang raksasa yang menjadi ruangan bos berada.


Saat gerbang terbuka, ruangan gelap itu seketika berubah terang dan kulihat di tengah altar tersebut sebuah minotourus bertangan empat berdiri di sana selagi mengeluarkan asap dari mulutnya.


Ia memegang pedang di setiap tangan.


"Bos lantai 200 memang harus sekuat ini," kata Vivia melesat maju setelah menarik pedangnya.


"Raugghh"


"Kita juga," aku menerima Sirius yang telah menjadi pedang di tanganku sebelum berlari bersama Richard di belakang Vivia.


Mata minotourus bersinar terang mengawasi pergerakan kami, ia segera mengayunkan dua pedang secara bersama, Vivia yang berada di depan menahannya sementara kami berdua berlari ke samping untuk memberikan serangan lanjutan.


"Ice Blade."


Prang.


Sihir es memang sangat praktis, tidak hanya bisa digunakan untuk menyerang bisa juga digunakan untuk menghentikan gerakan musuh


Aku melompat ke atas minotourus selagi mengirim bilah hitam berbentuk bulan sabit, keempat tangannya berhasil menahannya lalu melemparku ke belakang.


"Aksa?"

__ADS_1


Richard pun diterbangkan menyusul diriku.


"Jangan remehkan aku."


Di bawah kaki minotourus Vivia terus menebas beberapa kali dan itu hanya membuat goresan kecil di sana sebelum akhirnya dia juga diterbangkan dengan sebuah tendangan.


"Sial."


Bergantian dengan Vivia aku melangkah maju mengirimkan ayunan pedangku yang bertubrukan langsung dengan keempat pedangnya, di saat yang sama entah itu Richard atau Vivia keduanya menancapkan pedang mereka di lantai kemudian lingkaran sihir muncul dalam sekejap mengeluarkan roh Astral yang mereka miliki.


Roh Vivia mengenakan gaun hitam, sedangkan roh Richard bergaun putih.


"Knight Mode."


Keduanya langsung dilapisi zirah besi.


Vivia menangkis setiap pedang yang dikirim oleh Minotourus dan selanjutnya dari arah lain Richard telah bersiap dengan pedang yang sepenuhnya dilapisi hawa dingin.


Ketika Vivia berhasil menghancurkan seluruh pedang musuhnya, sebuah bilah raksasa menebas tubuh minotaurus.


"Ice Blade."


Minotaurus seketika berubah menjadi es lalu hancur berkeping-keping digantikan uang koin yang berjatuhan tanpa henti.


Sirius berubah menjadi sosok manusianya dan langsung bersama-sama denganku mengumpulkan uang tersebut.

__ADS_1


"Aku bisa beli makanan sebanyak yang kumau master."


"Jangan mengambilnya terlalu banyak."


Richard maupun Vivia pun mendekat dengan penampilan biasanya.


"Kupikir uang ini akan cukup membayar hutang Kazel," kata Richard yang mendapat jawaban Vivia.


"Tentu saja, biasanya melawan bos tidak mungkin bisa dilakukan dengan orang sedikit, semakin tidak menguntungkan saat kita melawan bos maka uang yang didapat akan jauh lebih besar."


Di atas kepalaku muncul tulisan " Finish" dan sosok pintu muncul di depan kami.


"Itu pintu menunju lantai berikutnya."


"Ngomong-ngomong Richard item seperti apa yang kau dapatkan?" tanya Vivia.


"Hanya botol asap yang memiliki efek memberikan lumpuh sementara."


"Itu pasti akan berguna nanti."


Setelah menyimpan seluruh uang dalam sihir penyimpanan, kami melewati pintu tersebut dan yang menanti kami adalah sebuah kota indah yang seluruhnya belum ditempati siapapun, ada burung-burung terbang di atas kota tersebut sementara sisanya hanyalah pulau-pulau melayang di sekelilingnya dimana pulau tersebut diisi oleh kincir angin raksasa.


Benar-benar dunia lain.


"Sekarang apa yang terjadi setelah lantai ini terbuka?" tanyaku pada Vivia.

__ADS_1


"Semua informasi ini akan dimunculkan di alun-alun kota hingga semua orang bisa mengakses tempat ini lewat kristal teleportasi.. untuk sekarang kita bisa kembali ke lantai pertama dan menyelamatkan Kazel," atas pernyataan Vivia kami semua mengangguk mengiyakan.


__ADS_2